Friday , September 22 2017
Breaking News
Home / RUANG NUSANTARA / Riau / Berdansa di Gelombang Bono
bono

Berdansa di Gelombang Bono

Lensawisata.com, Berdansa di Gelombang Bono, – “ Masing-masing boat maksimal empat orang, dan, tolong gunakan jaket penyelamatnya saat di atas perahu” Edi, pemuda desa Teluk Meranti yang hari itu menjadi pemimpin rombongan memberikan penjelasan kepada kami. Mimik muka Edi terlihat tegang. “Gelombang hari ini sepertinya akan mencapai 3 meter, fotographer, menunggu di Kampung Jawa” sambung pria yang kedua lengan dan betisnya penuh dengan tato bermotif tribal. Setelah ba’da zuhur, speed boat kami akan berangkat menuju kampung Jawa, yang berjarak empat puluh perjalanan dari desa.

Desa Teluk Meranti, merupakan desa yang berada di Kuala Sungai Kampar, Kabupaten Pelalawan, provinsi Riau, di desa ini terdapat fenomena alam yang unik, fenomena alam ini dikenal dengan nama Bono. Bono termasuk kedalam gelombang tidal bore. Di saat bulan purnama ataupun bulan baru, permukaan laut di Selat Malaka menjadi naik dan melahirkan gelombang pasang yang menyapu masuk kedalam sungai Kampar sejauh 50 sampai dengan 60 km.

Ketika sisi depan gelombang masuk ke muara sungai yang menyempit, dan bertemu dengan arus di perairan dangkal sungai Kampar. Lahirlah Bono. Gelombang ini melaju ke arah hilir hingga ke Desa Teluk Binjai, tetangga desa Teluk Meranti, kemudian menghilang. Tinggi gelombang bono 3 sampai dengan 4 meter.

Dari sudut pandang seni tutur dari masyarakat Kuala Kampar. Ada beberapa versi dari Bono, ada yang bercerita bahwa bono merupakan hantu anjing laut yang menarik gelombang ke arah sungai Kampar. Karena Belanda saat itu tidak bisa masuk ke dalam muara sungai Kampar, pihak Belanda menembak gelombang ini dengan menggunakan meriam. Akibatnya, bono mati dan jumlahnya berkurang dari tujuh menjadi enam.

Di Teluk Meranti, saat itu sedang berlangsung pemecahan rekor dunia untuk berselancar di atas gelombang bono. Tiga peselancar dari Australia, Roger Gamble, James Cotton, dan Zog Van der Sluys berusaha memecahkan rekor dunia untuk berselancar di gelombang bono. Mereka ingin memecahkan rekor dunia yang dipegang oleh Steve King, peselancar yang berasal dari Inggris yang berselancar pada tidal bore sungai di Inggris sejauh 12,34 kilometer. Kegiatan ini bertujuan untuk mengumpulkan dana untuk riset penderita thalesemia.

Muka-muka para penumpang speed boat terlihat tegang saat kami sudah tiba di kampung Jawa. Kampung ini merupakan desa terakhir di Kuala Kampar, sebelum mencapai pulau Muda, pulau tempat dimana gelombang bono berasal. Tekong/kapten speedboat yang kami tumpangi menunjuk kearah utara. “Itu dia bang, suaranya sudah terdengar” ujarnya. Tekong speed boat saya sibuk mengecek kesiapan mesin 40 tenaga kuda. “Meskipun sudah sering saya mengantar tapi tetap saja saya ingin kebelakang setiap mendengar suara bono” sambungnya.

Empat puluh menit menunggu, boat yang dibawa oleh Edi terlihat. Boat ini membawa para peselancar dari Australia. Mereka baru saja dari pulau Muara Serkap. “ Bose gelombangnyo” ujar Edi, bose adalah bahasa Teluk Meranti yang berarti besar. Dua puluh menit kemudian. Tembok besar setinggi 3 meter, panjang satu setengah kilometer terlihat. Suara menderu dari gelombang bono membuat saya merinding.

Rombongan Edi turun terlebih dahulu, tiga peselancar Australia ini, mengayuh papan diatas sungai, untuk mendapatkan momentum agar bisa berdansa diatas bono. Speedboat yang saya tumpangi mengikuti dari arah depan, kami membelakangi bono. Para peselancar, berdiri dan menari-menari diatas gelombang bono. Saat saya memalingkan kepala kearah daratan, pecahan gelombang bono terlihat menyapu pinggir sungai. Dahsyat.

Satu jam berselancar ketinggian gelombang bono mulai berkurang, menjadi dua meter. Kedalaman sungai Kampar yang kami lewati mulai dangkal. Ada pemandangan menarik di sungai, pemuda-pemuda desa berdiri sambil mengapit papan seluncur mereka. Mereka sedang menunggu kedatangan gelombang bono. Gelombang yang dahulunya ditakuti oleh masyarakat Teluk Meranti, sekarang menjadi sarana latihan berselancar. Teluk Meranti berubah menjadi kampung selancar.

Para pemuda bergabung dengan tiga peselancar dari Austalia, mereka menari nari diatas bono. Speed boat yang saya tumpangi tetap berada di depan bono, kami berjarak dua meter dari gelombang. Kurang lebih ada dua puluh lima pemuda desa yang ikut berselancar diatas gelombang bono. Mereka mempelihatkan kemampuan masing-masing.

Setelah tiba di Teluk Binjai, gelombang bono menjadi kecil dan selesai. Rombongan kami pun kembali ke desa Teluk Meranti. Dua jam setelah gelombang bono selesai. Saya mendapatkan kabar, bahwa ternyata, sehari sebelumnya rekor dunia sudah terpecahkan. James Cotton berhasil menyentuh jarak 17.2 km berselancar diatas gelombang Bono. Sedangkan rekor dunia untuk berselancar secara berkelompok berhasil mereka pecahkan, 37.2 km. Jarak ini merupakan akumulasi dari jarak mereka bertiga. Namun, rekor dunia ini perlu diklarifikasi lebih lanjut oleh museum Rekor Dunia.

Suara tawa dari para peselancar di warung makan terdengar jelas dari kamar tempat saya menginap malam itu. Mereka merayakan pemecahan rekor berselancar di bono. Siapa yang menyangka, gelombang yang dahulunya ditakuti, sekarang menjadi incaran para peselancar dunia.  (BAW)

 

Check Also

selat melaka

Jamuan Mewah Diatas Selat Malaka

Lensawisata.com, Jamuan Mewah Diatas Selat Malaka – “ Di sini saja” ujar salah seorang nelayan ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *