Wednesday , October 18 2017
Breaking News
Home / RUANG NUSANTARA / Berkunjung ke Tanah Dewata, Dieng
tanah dewata
Komplek candi yang ada di Dataran Tinggi Dieng, Jawa Tengah_lensawisata.com

Berkunjung ke Tanah Dewata, Dieng

Lensawisata.com, “ Brrrrrrr…” pagi hari saya di sambut oleh angin dingin yang turun dari pegunungan Dieng. Mandi pagi bukanlah pilihan yang tepat. Setelah terlebih dahulu menggunakan boot, jaket gunung, celana lapangan, sepatu boot dan kaus kaki thermal. Saya siap menjelajahi subuh di pegunungan ini.

relief pada salah satu candi yang ada di Dataran Tinggi Dieng, Jawa Tengah_lensawisata.com
relief pada salah satu candi yang ada di Dataran Tinggi Dieng, Jawa Tengah_lensawisata.com

Nama Dieng berasal dari gabungan dua kata Bahasa Kawi, “Di” yang berarti “tempat” atau “gunung” dan “Hyang” yang bermakna (Dewa). Dengan demikian, Dieng berarti daerah pegunungan tempat para dewa dan dewi bersemayam. Nama Dieng berasal dari bahasa Sunda karena diperkirakan pada masa pra-Medang sekitar tahun 600 Masehi, daerah ini berada dalam pengaruh politik Kerajaan Galuh. Dulu diperkirakan ada 200 candi di seputar Dieng. Tapi karena bencana alam, tinggal 8 yang tersisa. Candi-candi ini didirikan oleh Kerajaan Kalingga dari dinasti Sanjaya. Dalam kitab Raja Sanjaya ada disebut-sebut kata ‘Dieng’ yang dikatakan merupakan tempat paling baik untuk memuja Dewa Siwa. Jadi candi-candi ini dibuat untuk memuja Dewa Siwa. Siwa adalah dewa perusak. Dipuja agar ia tidak merusak kehidupan manusia.

Tujuan saya adalah kompleks candi Dieng. Candi Dieng adalah sebuah kompleks candi Hindu. Awal ditemukannya kompleks candi terjadi pada sekitar tahun 1814. Diawali ketika seorang tentara Inggris yang pada waktu itu bermaksud berwisata di kawasan dataran tinggi Dieng. Secara tidak sengaja dia melihat beberapa bagian atas candi yang terendam di dalam kubangan air. Pada tahun 1856 dimulai upaya pengeringan dan pengerukan areal sekitar kompleks candi. Upaya ini dipimpin oleh seorang Belanda bernama Van Kinsbergen. Setelah proses pengeringan danau, ditemukan beberapa bangunan candi yang tersebar di beberapa tempat yang tidak terlalu jauh. Kompleks candi ini terdiri dari 3 kelompok gugusan candi dan 1 buah candi yang berdiri sendiri. Uniknya semua kelompok candi ini dinamai berdasarkan tokoh-tokoh pewayangan seperti yang dalam kitab Mahabharata yaitu Kompleks Candi Gatotkaca, Kompleks Candi Arjuna, Kompleks Candi Dwarawati, dan satu lagi adalah Candi Bima yang berdiri sendiri.

Candi Arjuna yang berdiri dengan kokoh seolah olah menyambut kedatangan saya. Dari Arjuna, kami menuju Semar, Srikandi, Sembadra dan Puntadewa. Masing masing candi ini memiliki keunikan masing-masing. Namun, jangan mengharapkan kita akan menemukan detail-detail relief seperti candi Prambanan di Yogyakarta. Candi di Dieng lebih sederhana, tanpa detail relief-relief yang rumit . Dari kompleks Arjuna, perjalanan kami lanjutkan menuju Kompleks Candi Gatotkaca dan Komplek Candi Bima.

Dari komplek candi saya menuju kawah Sikidang. Kawah ini adalah salah satu kawah yang ada di Dieng. Sikidang memiliki akses yang mudah di kunjungi.   Asal usul nama kawah Sikidang ini memiliki berbagai macam cerita. Ada yang menghubungkan dengan karakter kepundan kawah yang sering berpindah tempat . Namun ada juga yang berpendapat bahwa di area tersebut juga banyak di temukan satwa liar/kijang karena di daerah pegunungan Pangonan juga terdapat padang rumput yang di perkirakan sebagai habitat hewan kijang di masa lalu.

Dari tempat parkir kendaraan. Kami berjalan sekitar 10 menit menuju kawah. Pelan-pelan bau seperti telur busuk mulai tercium. Bau ini berasal dari H2S/Hidrogen Sulfida. Dari kawah Sikidang, saya menuju telaga warna, telaga warna adalah sebuah danau yang memiliki dua warna. Hijau dan Coklat. Jika kita ingin melihat wujud dari dua warna ini. Dari pintu masuk danau. Berjalan saja terus kearah kiri, bertemu dengan persimpangan. Ambil kiri dan kita akan bertemu dengan bukit terjal. Bukit ini yang akan kita daki. Inilah yang Jana dan saya lakukan sekarang, setelah kurang lebih 20 menit mendaki. Voila . Tibalah kami di puncak. Pemandangan yang ditawarkan diatas puncak sangat indah.

Saya tidak berlama lama di Telaga Warna, dengan menggunakan motor saya menuju desa Sembungan. Sembungan adalah desa tertinggi di Pulau Jawa, desa ini memiliki ketinggian sekitar 2.302 Meter diatas permukaan laut. Terdapat bukit kecil yang bernama si Kunir di desa. Bukit Sikunir adalah tempat favorit untuk melihat matahari terbit di Dieng. Dalam perjalanan menuju desa Sembungan, saya di temani oleh kabut tebal dan gerimis. Di tengah perjalanan, tanpa sengaja saya melihat pipa-pipa besar. Awal nya saya mengira pipa ini adalah pipa air minum. Ternyata dugaan saya salah. Pipa ini adalah pipa gas panas bumi. Hal ini semakin diperkuat setelah kurang lebih 20 menit akan memasuki desa Sembungan. Saya melihat papan nama perusahaan pengelola panas bumi ini.   Setelah bertanya sana sini dengan petani kentang Papan nama desa Sembungan pun terlihat. “Selamat datang di Desa Sembungan. Desa tertinggi di Pulau Jawa” Kurang lebih begitu tulisan dari papan yang kami lihat. Desa Sembungan, memiliki danau yang bernama danau Cebong. Jika pernah mendengar Ranu Kumbolo di Gunung Semeru. Seperti itu lah kurang lebih wujud dari danau Cebong. Danau yang di kelilingi bukit bukit kecil dengan lanskap yang rupawan.

Panas matahari tanpa terasa membakar lengan, saya kembali menuju motor yang diparkir di tepi jalan. Saya teringat sebuah perkataan dalam bahasa Ceko, “Země bohů krásných”. Arti dari kalimat ini adalah tanah dewa yang indah. Lanskap Dieng menggoda saya. *BAW

Check Also

Pulau Pamutusan

Eksotisnya Pulau Pamutusan

Lensawisata.com, Dari pulau Pagang, Pesisir Selatan, Sumatera Barat. Kapal yang saya tumpangi bergerak menuju sebuah ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *