Wednesday , October 18 2017
Breaking News
Home / RUANG NUSANTARA / Riau / Bekudo Bono di Teluk Meranti
Bono
Bono

Bekudo Bono di Teluk Meranti

Lensa Wisata, Bono, “Jika nanti bertemu dengan banjir, ambil tengah saja bang. Jalannya lebih keras jika di tengah”. Ucapan ini sayup-sayup terdengar saat mata saya masih terpejam. Dalam gelap nya malam, 2 mobil sedang menempuh perjalanan yang mendebarkan. Jalan aspal yang sudah 4 jam menemani kami, berubah menjadi jalan kerikil. Suara benturan antara kerikil dan gardan mobil membangunkan saya dari tidur yang sejak keberangkatan tadi di lakukan. Saat dinihari. Tibalah kami di Kampung Teluk Meranti, sebuah perkampungan yang terletak di muara sungai Kampar.

Hari ini adalah hari yang berbeda. Biasanya, pagi hari di sini sepi karena masyarakatnya sibuk di kebun masing-masing. Namun, sekarang mereka terlihat sibuk memasang umbul-umbul dan berbagai persiapan lain nya. Kampung ini tengah bersiap menyambut hajatan besar yang di namakan festival Bekudo Bono. Saya berkenalan dengan Bang Edi. Dikenal dengan nama Edi Bono. Seperti pada umumnya masyarakat di Teluk Meranti, dahulu bang Edi adalah seorang pelaku logging. Namun sekarang. dia dan sebagian besar pemuda di kampung ini berubah menjadi seorang surfer. Terutama, saat terjadi nya gelombang besar yang di kenal dengan nama Bono. Dari seorang pemotong kayu menjadi surfer. Itulah riak kecil yang sekarang terjadi di desa ini.

 

Apa itu Bono? Bono adalah sebuah fenomena alam yang termasuk kedalam gelombang Tidal Bore. Gelombang ini terbentuk dari benturan arus laut dengan arus di muara sungai.

 

Saat bulan purnama ataupun bulan baru, permukaan laut yang berada di Selat Malaka menjadi naik dan melahirkan gelombang pasang yang menyapu masuk kedalam sungai Kampar sejauh 50 sampai dengan 60 km. Ketika sisi depan dari geleombang ini masuk ke muara sungai yang menyempit dan bertemu dengan perairan dangkal sungai Kampar. Lahir lah gelombang yang dikenal dengan sebutan Bono. Ketinggian bono dapat mencapai 2 meter dan melaju ke arah hilir melawan arus sungai selama kurang lebih 2 jam dan nantinya akan menghilang. Terdapat 6 sampai 13 gelombang berurutan tergantung dari dalam maupun kontur sungai yang ada.

Dahulu, bono ini ditakuti oleh masyarakat. Mereka takut jika nanti nya tenggelam dan diseret bono. Namun, sekarang. Mereka mulai mencoba akrab dengan bono ini. Saat obrolan saya sedang seru-seru nya bersama bang Edi. Tiba-tiba dia mengajak saya untuk mencoba “kegilaan” dari gelombang bono. Kebetulan, kedatangan saya bersamaan dengan kedatangan seorang peselancar asing dari Perancis yang bernama Mathis. Dia mengajak Bang Edi untuk berselancar di bono. Ajakan yang menggiurkan ini langsung saya iya kan. Dengan menggunakan speed boat khusus yang dibawa oleh bang Edi. Berangkatlah kami menuju tempat berselancar yang dikenal dengan nama Tanjung Baru atau nama lokal nya ada Tanjung Bebau. Dibutuhkan waktu 1 jam perjalanan untuk bisa mencapai tempat ini. Tiba di Tanjung, saya belum bisa menikmati “kegilaan “ dari bono. Ternyata kami harus menunggu terlebih dahulu. Ada semacam kepercayaan bagi masyarakat di sini. “ Jika kita sudah mendengar suara bono. Maka kedatangan gelombangnya adalah selama kita memasak nasi dengan menggunakan kayu bakar. Setelah nasi yang kita masak itu selesai kita makan barulah gelombang ini sampai ke kita”.

Saat berada di tengah sungai, secara samar telinga saya menangkap suara seperti geraman. Bang Edi berkata ke saya “ itu suara bono, dan gelombangnya nanti akan menuju ke kita “. 40 menit kemudian. Bang Edi berkata “ Lihat”. Saya melihat dinding air setinggi 2 meter dengan lebar sekitar 1 km berwarna coklat kemerahan seolah berlari mengejar speed boat kami. Saat menunggu bono, mesin speed boat memang tidak dimatikan. Hal ini untuk mencegah terjadi nya hal-hal yang tidak diinginkan saat di kejar oleh bono. Bang Edi langsung menambah kecepatan speed boat kami. Sedangkan Mathis, dia sudah siap dengan papan seluncur nya, Namun, masih di tahan oleh Bang Edi. “Hold on Mathis”, kata nya. Raungan suara mesin bersaut sautan dengan geraman bono. Jarak antara gelombang dan kami sekitar 7 meter. Perasaan saya tidak bisa digambarkan. Adrenaline terasa mengalir dengan deras. ‘ Mathis, JUMP” teriak bang Edi. Saya pun melihat Mathis terjun dan mencoba berselancar di bono, dia terlihat menikmati gelombang besar yang sedang mengejar kami. Saya pun sibuk mengabadikan perkasanya bono. Namun, hal ini bukan lah inti dari permainan. Baru 2 menit berselancar, Mathis terjatuh. Bang Edi berkata. “Kita jemput”. Dengan terburu buru saya memasukkan kamera kedalam dry bag. Speed boat kami masuk dan. menembus iring-iringan gelombang. Boat kami diaduk aduk di dalam bono. Rasa nya seperti mengikuti arung jeram namun dengan sensasi yang lebih dahsyat. GILA.

 

Gelombang Bono yang dahulu ditakuti sekarang menjadi permainan baru di Teluk Meranti, Kabupaten Pelalawan – Provinsi Riau.

 

Perahu kami drop dari ketinggian 2 meter ke 0 meter, lalu kembali di angkat oleh gelombang setinggi 1 meter. Masyarakat Teluk Meranti membagi gelombang bono ini menjadi 3 gelombang. Pemulang, Bakat dan Biancha. Biancha adalah gelombang yang tidak bisa dikendalikan. Pemulang adalah gelombang yang menghantam ke sebuah teluk dan kembali kearah sungai dan Bakat adalah gelombang pantulan dari bono namun memiliki jarak gelombang yang rapat, bakat ini berbahaya bagi mereka yang tidak bisa mengendalikan perahu apabila mereka terjebak di dalam nya.

Kami mengejar sang raksasa. Raungan mesin perahu sudah tidak saya pedulikan lagi.. Sekarang posisi kami berada di depan. Jarak antara perahu dan gelombang sekitar 20 meter. Kali ini berganti driver boat. Rio yang mengambil alih perahu. Bang Edi dan Mathis bersiap akan turun ke Bono. “Hold on Mathis”. Kata bang Edi. Kecepatan perahu kami pelan-pelan diturunkan karena jarak antara kami dan gelombang terlalu jauh. Sang raksasa tidak mau kalah, dia terlihat seperti mengejar kami. Tidak lama kemudian bang Edi berteriak. “JUMP” .Mathis loncat dan disusul oleh bang Edi. Saya bisa menyaksikan permainan menarik antara peselancar lokal dan peselancar asing. Mereka berdua seolah-olah sedang “menari”. Setelah satu setengah jam kemudian, tibalah kami di Tanjung Sesendok atau bagi bahasa lokal nya adalah Tanjung Sesenduk. Di sini terlihat para peselancar lokal yang sedang berdiri di atas sungai untuk menyambut bono. (BAW)

Check Also

Pulau Pamutusan

Eksotisnya Pulau Pamutusan

Lensawisata.com, Dari pulau Pagang, Pesisir Selatan, Sumatera Barat. Kapal yang saya tumpangi bergerak menuju sebuah ...

2 comments

  1. Wuiihh Keren ntuh lokasi? Gimana ya bisa kesana? Kalau boleh saran dikasih jadwalnya dong kapan datangnya gelombang bono untuk 2016?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *