Friday , September 22 2017
Breaking News
Home / RUANG NUSANTARA / Riau / Cerita dari Jalur Maut Pekanbaroe -Muara
jalur maut pekanbaru
replika dari lokomotif yang digunakan pada saat jalur kereta api Pekanbaru Muara dibuat, kereta ini bukan kereta yang digunakan sebagai kereta di jalur Pekanbaru Muara. (BAW-lensawisata.com)

Cerita dari Jalur Maut Pekanbaroe -Muara

Lensawisata.com, Cerita dari Jalur Maut Pekanbaroe-Muara – Ditepi sungai Siak  yang  penuh dengan nyamuk-nyamuk malaria, pada bulan Maret 1943, pekerja paksa yang sebagian besar didatangkan dari pulau Jawa mulai membangun embankment, embankment adalah talud yang berfungsi sebagai penahan longsor. Diatasnya akan dipasang rel kereta api.  Diantara teriakan ,bentakan, sundutan rokok, dan pukulan para mandor. Romusha mempersiapkan pembangunan jalan kereta api antara Pekanbaru dan Muara ( Sumatera Barat ).

Jalur kereta Pekanbaru-Muara dipersiapkan oleh Jepang untuk membawa batu bara dari Sawah Lunto menuju pelabuhan ditepi sungai Siak. Batu bara ini akan dibawa menuju Singapura sebagai bahan bakar industri Jepang. Panjang jalur kereta api ini 220 km. Pembangunan jalur kereta api Pekanbaru-Muara bersamaan tahun dengan pembangunan jalur Kereta api antara Saketi -Bayah di Banten serta pembangunan jalur kereta api di Myanmar yang difilmkan Hollywood dengan judul “ Bridge of River Kwai”

Ide membangun jalur kereta api Pekanbaru-Muara via Lipat Kain ini datang setelah Jepang mendapatkan data survei rencana pembangunan jalur kereta api yang dilakukan oleh Staatspoorwagen, jawatan kereta api yang dimiliki oleh Belanda. Survey ini dilakukan oleh insinyur Belanda bernama W.J.M Nivel pada tahun 1920, kemudian, survei ini dilanjutkan kembali pada tahun 1924 oleh insinyur Belanda yang bernama George A More.

Pada survei tahun 1920 dan 1924, Belanda sudah memutuskan untuk menunda pembangunan jalur ini karena biaya yang sangat mahal. Jepang berinisiatif untuk membangun jalur kereta api ini karena Jepang melihat jarak antara Pekanbaru dan Singapura yang lebih dekat dibandingkan jarak antara Padang ke Singapura.

Setelah pembangunan embankment yang dilakukan pada tahun 1943, pada  bulan Mei 1944, rombongan pertama tahanan perang  asing yang berasal dari Pulau Jawa didatangkan ke Pekanbaru. Mereka diberangkatkan dari Tanjung Priok tujuan Teluk Bayur dengan menggunakan kapal Jepang bernama Chuka Maru. Rombongan yang berada di kapal ini terdiri dari 310 tahanan perang berkebangsaan Inggris dan 1615 berkebangsaan Belanda. Mereka turun              di Padang, dilanjutkan dengan kereta api ke Payakumbuh, kemudian dengan truk menuju Pekanbaru.  Para tahanan asing ini ditempatkan di camp 1 dan dua. Mereka membangun kembali camp 1 dan camp 2 yang sebelumnya sudah rusak parah karena badai.

 Pada tanggal 26 juni 1944, camp 2 mendapat tambahan tahanan berkewarganegaraan asing sejumlah tiga orang. Mereka adalah korban yang selamat dari tenggelamnya kapal Van Waerwijck, kapal ini di torpedo Inggris di Tanjung Balai, Sumatera Utara. Kapal ini membawa 700 tahanan perang. Pada tanggal 27 Juli 1944, 270 orang yang selamat dari tenggelamnya kapan Van Waerwick dibawa ke camp dua lewat Singapura.

Pada tanggal 23 september 1944. Camp 1 mendapat tambahan 644 orang. Mereka adalah tahanan perang yang selamat dari tenggelamnya kapal Junyo Maru. Kapal Junyo Maru adalah kapal yang membawa tahanan perang asing dari Batavia sebanyak 2300 orang dan 4200 pekerja paksa/romusha. Kapal ini ditorpedo oleh kapal selam inggris H.M.S Tradewind di laut, di antara provinsi  Bengkulu dan Sumatera Barat. Dari 6500 tawanan di dalam kapal, yang selamat hanya 644 orang tahanan asing dan 200 orang romusha.

Pembangunan jalur kereta api terus berlangsung hingga 15 Agustus 1945, saat Jepang menyerah dari Sekutu. Di jalur ini terdapat 13 kamp tahanan. Meskipun menelan korban jiwa yang luar biasa, jalur maut ini  hanya sekali dilewati kereta api.  Karena konstruksi yang buruk, jalur ini tidak kuat menahan beban lokomotif, pertama dan satu satunya lokomotif yang melewati jalur ini jatuh dan tenggelam. Jumlah korban saat membangun jalur ini, menurut data dari Palang Merah Internasional 80.000 dari 102.000 romusha meninggal, dan 704  dari  5076 tahanan perang yang berasal dari Belanda, Inggris, Australia, Amerika, dan Selandia Baru meninggal.

Sore itu, saya bersama Iwan Syawal  seorang penggiat wisata sejarah cum  pemandu wisata senior di Pekanbaru, mencoba menjelajahi sisa dari rel-rel kereta api yang masih terlihat di Pekanbaru. Perjalanan kami, dimulai dari patok nol kilometer Pekanbaru. Patok ini berada di bagian dalam pelabuhan Pelindo  satu yang berjarak seratus meter dari pasar Bawah. Nol kilometer ini dihitung Belanda saat mereka membuat jalan  Pekanbaru-Bangkinang- Payakumbuh yang selesai pada tahun 1929. Nol kilometer ini juga menjadi patokan Jepang saat membangun camp satu. Iwan Syawal menjelaskan kepada saya “ berdasarkan sketsa yang dibuat oleh Henk Hovinga pada buku The Sumatra Railroad Destination 1943-1944, camp satu berada sekitar Pasar Bawah”.  Di pelabuhan yang dekat dengan camp satu, Jepang membongkar rel dan loko yang diambil dari Deli Spoorweg Maatschappij di Sumatera Utara. Dari camp satu kami berjalan kearah jalan Juanda. Di sini, Iwan memperlihatkan kepada saya bekas rel yang terlihat secara jelas. “ Lihat, itu bekas relnya”  ujarnya. Perjalanan kami menelusuri kampung yang berada di tepian sungai Siak, menuju jalan Lokomotif, jalan Hangtuah, Jalan Beringin, jalan Kopan, hingga jalan Kereta Api.  “4 km dari camp satu, ada camp dua, camp ini berada kurang lebih dibelakang hotel Pangeran sekarang” ujar Iwan. Jalur kereta api ini sekarang tertutup oleh bangunan-bangunan permanen.

Dari jalan Kereta Api, jalur ini memanjang sampai dengan Muaro melewati Teratak Buluh, Sungai Petai,  dan Lipat Kain. Teratak Buluh dahulu merupakan camp 3 atau bagi para tahanan perang disebut dengan Hersellingsoord and Vacation Safe Haven Colony karena di camp tiga ini mereka bisa mendapatkan makanan yang lebih baik.  Untuk mengabadikan kejadian para tahanan perang dari negara mereka banyak yang meninggal  pada saat pembuatan rel kereta api ini, Inggris, Belanda , dan Australia membuat monument dan museum. Sayangnya, kota Pekanbaru belum berani membuat museum death railway ini. Tugu lokomotif yang berada di jalan Kaharudin Nasution adalah monument memperingati para pekerja paksa. Coba dibayangkan, jika Pekanbaru berani membuat museum kereta, kota ini akan rame kedatangan keluarga para veteran perang yang menjadi korban kerja paksa. Karena suka tidak suka, Pekanbaru menjadi saksi sejarah kekejaman Jepang pada saat perang dunia ke dua. (BAW)

 

 

 

Check Also

Festival Bakar Tongkang di Bagan Siapiapi, Kabupaten Rokan Hilir, Provinsi Riau_lensawisata.com

Festival Bakar Tongkang 2017

Lensawisata.com, Tambur dan simbal di pukul bertalu talu, lelaki tua dengan lengan berotot menghadap ke ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *