Friday , September 22 2017
Breaking News
Home / RUANG NUSANTARA / Riau / Festival Lampu Colok
jika tidak berhati hati, api akan menyambar yang menghidupkan colok copy

Festival Lampu Colok

Lensawisata.com, Ada sebuah tradisi unik yang hanya ada saat bulan Ramadhan, tradisi ini biasanya dilakukan oleh masyarakat Riau, terutama yang mendiami pantai timur. Tradisi ini sudah berlangsung turun temurun, masyarakat Riau menyebutnya tradisi menghidupkan lampu colok. Lampu colok adalah alat penerangan sederhana yang dibuat dari botol kaca ataupun kaleng, di dalam botol ini akan di masukkan sumbu kompor dan nantinya akan ditambah minyak tanah sebagai bahan bakar. Kegunaan lampu ini sebagai penerangan di halaman rumah saat malam hari, karena pada zaman dahulu tiada lampu listrik.

salah seorang pemuda menghidupkan colok dalam festival colok di Pekanbaru
salah seorang pemuda menghidupkan colok dalam festival colok di Pekanbaru

Biasanya tradisi ini di mulai pada hari ke 27 dari Ramadhan sampai dengan hari ke 30 Ramadhan, masyarakat melayu menyebut malam ini dengan sebutan malam 27 liqur. Filsofi yang terkandung dalam menghidupkan colok selama 3 hari ini adalah, orang-orang tua zaman dahulu percaya akan keistimewaan malam ke 27 Ramadhan. Mereka percaya bahwa hari ke 27 adalah jatuhnya malam Lailatul Qadar, malam yang lebih baik dari 1000 malam. Pada malam ini, malaikat-malaikat akan turun ke permukaan bumi dan akan masuk ke rumah-rumah untuk mencatatkan amal baik yang diperbuat umat manusia selama bulan Ramadhan. Karena pada zaman dahulu tiada listirik, maka lampu ini berfungsi sebagai penunjuk jalan bagi malaikat-malaikat ini.

pemuda sedang menghidupkan colok dengan menggunakan obor.
pemuda sedang menghidupkan colok dengan menggunakan obor.

Bagi masyarakat melayu pesisir yang mendiami pantai timur Riau, tradisi bisa kita lihat. Daerah-daerah seperti kota Pekanbaru,Kabupaten Bengkalis, Kabupaten Siak,Kabupaten Dumai dan Kabupaten Bagan Siapi api adalah beberapa daerah yang masih mengadakan tradisi ini setiap tahunnya. Sekarang, tradisi ini sedikit mengalami pergeseran. Tradisi menghidupkan lampu colok ini dijadikan festival. Makna festival ini masih sama dengan yang dulu yaitu sebagai penunjuk jalan. Namun, sekarang ditambah dengan simbol dari gotong royong dan silaturahmi.

colok dihidupkan dengan menggunakan obor
colok dihidupkan dengan menggunakan obor

 

Sebelum memulai festival lampu colok, para pemuda akan mempersiapkan bahan-bahan yang digunakan sebagai colok. Ada yang mencari botol dan kelang bekas, ada yang mempersiapkan miniatur berbentuk mesjid dan kalimat kalimat islami, dan ada pula yang mencari bahan bakar minyak. Untuk bahan bakar minyak yang digunakan pada saat festival, per hari, rata-rata miniatur membutuhkan 25 liter minyak tanah. Di saat proses persiapan ini kita akan melihat suasana gotong royong tersebut.

colok yang dibuat dari botol botol bekas minuman
colok yang dibuat dari botol botol bekas minuman

 

obor yang digunakan dalam menghidupkan lampu colok copy
obor yang digunakan dalam menghidupkan lampu colok

 

colok yang dibentuk seperti mesjid
colok yang dibentuk seperti mesjid

Saat kedatangan saya ke festival yang diadakan di Pekanbaru, menurut panitia festival, satu miniatur membutuhkan sekitar 2000 an botol. Saat colok dihidupkan, kayu-kayu dan botol-botol yang tadinya disusun dengan bentuk yang tidak terlalu jelas. Menjadi jelas, saya melihat miniatur mesjid. Megah. Festival lampu colok adalah salah satu tradisi unik di Indonesia yang bisa kita temui di bulan Ramadhan di Provinsi Riau. BAW

Check Also

Pulau Pamutusan

Eksotisnya Pulau Pamutusan

Lensawisata.com, Dari pulau Pagang, Pesisir Selatan, Sumatera Barat. Kapal yang saya tumpangi bergerak menuju sebuah ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *