Wednesday , October 18 2017
Breaking News
Home / RUANG NUSANTARA / Riau / Menelusuri Green Canyon Riau
Green Canyon Riau
Pintu masuk sungai kapur. Desa Tanjung, xiii Koto Kampar. (BAW, Lensa Wisata)

Menelusuri Green Canyon Riau

Lensawisata.com, Menelusuri Green Canyon Riau, – “Sungai ini menjadi satu-satunya transportasi dari dan ke Sumatera Barat, sebelum jalan lintas Sumatera Barat-Riau selesai” ujar salah satu pemuda desa yang ikut di sampan yang muat dua puluh orang. Arus sungai, sore itu deras dan berwarna kecoklatan . “ Sepertinya hujan di hulu” gumam pemuda disebelah saya. Perahu yang saya tumpangi berjalan pelan melawan arus sungai. Sepuluh menit dari pelabuhan, perahu saya belok kearah kiri. Sinar matahari yang akan naik keperaduan, menembus rimbun pepohonan. Lanskap menjadi penuh warna.

Hijau daun dan kuning keemasan dari cahaya matahari. Dari alur sungai yang lebar, menjadi sempit, namun, masih bisa dilewati dua perahu secara berpapasan. Tebing-tebing setinggi 30 meter menjadi pagar pembatas antara sungai dan daratan. Saya masuk di sungai Kapur atau dalam bahasa Kampar, Sungai Kopu.

Sungai Kapur adalah anak dari Sungai Kampar, sungai ini mengalir dari Kecamatan Kapur IX Payakumbuh menuju Sungai Kampar di desa Tanjung Muara takus kecamatan XIII Koto Kampar.Desa Tanjung berjarak lima kilometer kearah barat dari Candi Muara Takus. Sungai Kapur, pada zaman dahulu, sebelum jalan Lintas Sumatera Barat-Pekanbaru dibangun menjadi jalan utama dari dan ke Sumatera Barat. Para pedagang emas, gambir, dan karet pada zaman menyusuri sungai hingga sampai di Pekanbaru, untuk menjual barang dagangan mereka. Setelah jalan lintas diresmikan hanya beberapa perahu yang melewati sungai ini.

Karena berada di hulu sungai Kampar, batu-batu besar seolah olah disusun mendominasi dikiri kanan sungai. Warna dari sungai Kapur juga berbeda dengan sungai Kampar yang menjadi muara dari sungai, sungai kapur berwarna kehijauan. Karena batu-batu yang berukuran besar ini dan air sungai yang berwarna kehijauan, maka menurut sebagian besar masyarakat yang berkunjung ke sini. Sungai kapur memiliki julukan “ Green Canyon Riau”.

Menurut pemuda desa Tanjung yang ikut bersama rombongan, ada 34 batu besar yang memiliki nama di sungai Kapur.Penamaan batu-batu ini karena bentuk dari batu yang unik. Diantara nama itu adalah, batu kodok. Batu kodok, karena batu ini memiliki bentuk seperti mulut kodok. Batu kodok berada di kiri pintu masuk sungai Kapur.

Lima menit berperahu dari batu kodok, diantara suara mesin perahu yang memekakkan telinga. Samar-samar terdengar gemuruh air yang jatuh ke sungai. “ Itu suara air terjun batu hidung” teriak pemuda dikanan saya. Dikiri sungai kapur, terdapat air terjun yang mengalir di batu yang seolah olah dipahat menyerupai hidung manusia. Air terjun ini dinamakan air terjun batu hidung.

Ada kepercayaan yang dipercaya masyarakat yang tinggal di desa Tanjung, jika air mengalir dari bagian kanan hidung, maka hasil panen akan melimpah. Air di sekitar batu hidung menggoda saya untuk terjun dari perahu,, sekedar untuk berenang. Dingin.

Tidak jauh, dari air terjun batu hidung,berjarak lima menit menggunakan perahu, terdapat air terjun yang jatuh dari batu yang berbentuk seperti parang. Lurus, Mereka menamakan batu tempat air terjun ini dengan nama sebagai batu Parang, dalam bahasa kamparnya, batu lodiong. Air terjun batu parang memiliki ketinggian 30 meter. Dengan debit air yang tidak sederas air terjun batu hidung.

Sayangnya, perjalanan menuju hulu sungai Kapur tidak bisa dilanjutkan. Air terjun batu parang menjadi penutup perjalanan. Perahu yang kami gunakan tidak bisa melewati jeram-jeram yang ada. Berjarak empat jam dari Pekanbaru, Sungai Kapur, salah satu mutiara tersembunyi di Riau yang layak untuk dikunjungi. (BAW)

Check Also

Pulau Pamutusan

Eksotisnya Pulau Pamutusan

Lensawisata.com, Dari pulau Pagang, Pesisir Selatan, Sumatera Barat. Kapal yang saya tumpangi bergerak menuju sebuah ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *