Wednesday , October 18 2017
Breaking News
Home / RUANG NUSANTARA / Gunung Bromo, Pasir Berbisik
gunung bromo
gunung bromo, Puncak Gunung Batok dilihat dari gunung Bromo

Gunung Bromo, Pasir Berbisik

Lensa Wisata, Gunung Bromo, “ Brrrr..” angin dingin yang menusuk tulang masuk ke sela sela jaket yang saya gunakan, Celana lapangan yang menurut sales promotion boy toko perlengkapan Out Door memiliki kemampuan menahan panas tubuh juga tembus oleh angin dingin yang berhembus dari arah gunung. Kata supir jip yang saya sewa. Di musim kemarau, suhu di gunung menjadi lebih dingin dari pada biasanya. Sinar senter menjadi penerang saat itu. Jam tangan saya menunjukkan pukul 04.30 WIB.

Pelan-pelan pelataran mulai ramai oleh manusia, mereka datang dengan badan yang dilapisi jaket tebal seperti saya gunakan. Telinga saya menangkap percakapan-percakapan menggunakan bahasa asing. Jerman, Prancis, dan Inggris, adalah beberapa bahasa yang mereka gunakan. Mereka adalah turis/pelancong asing yang sengaja datang ke sini. Selain pelancong asing, pelancong berkewarganegaraan Indonesia juga terlihat di sekitar pelataran. Beberapa orang dalam rombongan pelancong asing ada yang membawa termos air berukuran satu liter, bau harum kopi tertangkap hidung saat termos dibuka.

Pada pukul 05.30 Wib, dari sebelah timur, semburat kuning kemerahan pelan- pelan terlihat. Para pelancong yang tadi menyebar, merapatkan barisan menuju pinggir tebing yang sudah dipagar setinggi dua meter. Ada yang sibuk dengan tripod, ada sibuk mengatur kamera, namun, ada yang terlihat menikmati kopi panas sambil duduk di kursi beton pelataran.

gunung bromo
gunung bromo, Puncak Gunung Batok dilihat dari gunung Bromo

Menit berlalu, pelan-pelan matahari keluar dari peraduannya. Bunyi shutter kamera menjadi musik pembuka di pagi hari. “Itu dek, Gunung Bromo dan Gunung Semeru” ujar seorang pria yang berdiri di kanan saya. “Cantik ya mas, pemandangannya” sambung sang perempuan disebelahnya “ Iya, seperti kamu” ujar sang pria. Gombalan menjadi musik tambahan di pagi itu. Gunung Bromo (dari bahasa Sanskerta: Brahma, salah seorang Dewa Utama dalam agama Hindu), adalah sebuah gunung berapi aktif di Jawa Timur, Indonesia. Gunung ini memiliki ketinggian 2.329 meter di atas permukaan laut dan berada dalam empat wilayah kabupaten, yakni Kabupaten Probolinggo, Kabupaten Pasuruan, Kabupaten Lumajang, dan Kabupaten Malang. Gunung Bromo terkenal sebagai obyek wisata utama di Jawa Timur bahkan Indonesia.

Bromo menjadi menarik karena statusnya sebagai gunung berapi yang masih aktif. Gunung Bromo termasuk dalam kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Bentuk tubuh Gunung Bromo bertautan antara lembah dan ngarai dengan kaldera atau lautan pasir seluas sekitar 10 kilometer persegi.

Gunung Bromo mempunyai sebuah kawah dengan garis tengah ± 800 meter (utara-selatan) dan ± 600 meter (timur-barat). Sedangkan daerah bahayanya berupa lingkaran dengan jari-jari 4 km dari pusat kawah Bromo. Pelataran tempat melihat marahari terbit di Gunung Bromo, dikenal dengan nama Pananjakan. Pananjakan adalah sebuah bukit yang berjarak dua jam perjalanan menggunakan jip dari desa Cemoro Lawang, Kabupaten Probolinggo. Cemoro Lawang adalah jalur yang sering digunakan menuju Gunung Bromo. Di Cemoro Lawang, terdapat banyak penginapan jika kita ingin beristirahat sebelum menuju Gunung Bromo. Selain Cemoro Lawang, kita juga bisa lewat Pasuruan ataupun Malang menuju Gunung Bromo. Bukit Pananjakan memiliki ketinggian 2.770 mdpl, Dari Cemoro Lawang menuju Pananjakan kita harus menggunakan kendaraan berpenggerak gandar dua,/double axle, karena tanjakan dan turunan yang akan kita lewati ke bukit ini terjal.

Dari Pananjakan, saya menuju lautan pasir di kaki gunung Bromo. Mesin 6 silinder Toyota Land Cruiser FJ 40 yang saya sewa meraung saat melewati gundukan-gundukan pasir. “ Lebih enak naik jip di Gunung Bromo mas. Lebih aman. Sudah berapa kali, saya menolong mobil yang terjebak pasir. Tak kandani, ngeyel” ujar supir jip. Satu jam perjalanan dari Pananjakan ke lautan pasir gunung Bromo. Kabut tipis terlihat turun menyelimuti kaki Gunung Bromo. Baru saja saya keluar dari mobil, tawaran dari pemilik kuda untuk memakai kuda mereka berdatangan. Namun, saya lebih memilih berjalan kaki menuju Gunung Bromo.

Pura Luhur Poten yang berada di depan Gunung Bromo berdiri dengan gagah. Pada perayaan tahun baru Masyarakat Tengger yang dikenal dengan nama Yadya Kasada, pura ini akan ramai. Masyarakat Tengger adalah masyarakat adat yang tinggal secara turun temurun di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru/TNBTS. Saat perayaan Kasada, mereka akan membawa sesajen berupa hasil-hasil bumi ke Pura, sesajen ini nantinya akan didoakan oleh pedande/pemuka agama Hindu di pura. Sesajen akan dibuang ke kawah Gunung Bromo setelah semua ritual di pura selesai.

Saya menaiki tangga batu di lereng gunung Bromo. Ada mitos yang mengatakan bahwa hitungan anak tangga akan berbeda satu sama lain jika kita naik bersama. Kurang lebih sepuluh menit waktu yang dibutuhkan menaiki tangga menuju puncak Gunung Bromo. Di puncak, asap putih terlihat keluar dari arah kawah, asap ini merupakan bukti bahwa kawah Bromo masih aktif. Pura Luhur Poten terlihat kecil dan Gunung Batok yang berada di kanan Bromo, berdiri dengan tegap.

Bromo ramai di hari Libur Nasional dan hari Sabtu Minggu. Sisanya, sepi mas. Di Pananjakan saja, mas bisa antri, nggak seperti tadi kata supir jip dalam perjalanan pulang menuju Cemoro Lawang. Dari kaca spion, saya melihat kabut yang tadinya tipis pelan-pelan menebal menyelimuti gunung Bromo. Ada sebuah romansa dari gunung yang populer di Indonesia. (BAW)

Check Also

Pulau Pamutusan

Eksotisnya Pulau Pamutusan

Lensawisata.com, Dari pulau Pagang, Pesisir Selatan, Sumatera Barat. Kapal yang saya tumpangi bergerak menuju sebuah ...

One comment

  1. mantaaap

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *