Tuesday , November 21 2017
Breaking News
Home / LIFE STYLE / Hikayat Kopi Manggar
Hikayat Kopi Manggar
Hikayat Kopi Manggar

Hikayat Kopi Manggar

Lensa Wisata, Hikayat Kopi Manggar, Manggar adalah sebuah kota yang terletak di bagian timur dari Pulau Belitung. Kota yang berjarak 90 km dari Ibukota Kabupaten Belitung ini memiliki sebuah julukan yang menarik. Julukan tersebut adalah kota 1001 warung kopi, hal ini karena di Manggar banyak terdapat warung kopi. Sebagai contoh, di tengah kota Manggar saja terdapat sekitar 25 warung kopi dengan letak yang saling berhadapan. Masing-masing warung kopi memiliki jam buka yang berbeda. Ada yang buka dari jam 4 pagi sampai sore, dan ada buka dari jam 5 sore sampai dengan jam 2 subuh, Masing-masing warung memiliki pelanggan.

Banyaknya warung kopi ini berawal dari kebiasaan masyarakat minum kopi masyarakat Manggar. Berawal dari kebiasaan para pekerja timah yang berasal dari China. Pulau Bangka yang kaya akan timah mendorong imigrasi orang-orang Tionghoa untuk mengadu nasib dengan bekerja di pengolahan timah. Para imigran tersebut membawa kebiasaan dari tanah leluhur mereka. Salah satu kebiasaan itu adalah minum kopi. Sebelum bekerja di tambang timah. Para pekerja terlebih dahulu minum segelas kopi. Pelan-pelan kebiasaan ini di ikuti oleh orang-orang Melayu yang mendiami pulau Bangka.

Kopi di Manggar tidak berasal dari kebun-kebun kopi di Belitung. Komposisi tanah Belitung tidak cocok untuk ditanam kopi, akibatnya kedai kedai kopi ini harus mendatangkan kopi dari luar, mereka mendatangkan kopi dari Lampung berjenis robusta. Kopi-kopi ini nantinya diolah di masing-masing warung. Antara warung satu dengan yang lain memiliki “bumbu rahasia” dalam pengolahan kopi.

Ritual membuat segelas kopi di Manggar, mengambil cara yang sama dengan membuat segelas kopi di Hainam, Tiongkok. Mereka membuat kopi dengan cara disaring pada saringan yang berbentuk kaus kaki, saringan ini berada di dalam sebuah ceret. Air panas akan dituangkan kedalam ceret, dalam saringan kopi akan diaduk. Air kopi di dalam ceret, selanjutnya dipindahkan ke ceret yang lain. Kemudian, disaring diceret berikutnya. Proses ini mengalami tiga kali penyaringan. Hasil penyaringan tersebut berupa air kopi yang tidak terlalu kental. Inilah segelas kopi khas Manggar. Proses penyaringan ini hanya bisa untuk lima gelas kopi ,jika sudah masuk gelas ke enam maka air yang berada di dalam ceret tersebut akan diganti. Hal ini bertujuan untuk menjaga agar cita rasa kopi tidak berubah.

Segelas kopi hitam panas di Manggar, disebut dengan kopi O. Untuk kopi susu kita cukup memesan dengan sebutan kopi. Kopi O di Manggar memiliki bau yang tidak “gosong” meskipun menggunakan air yang mendidih dalam pembuatannya. Rasa kopi Manggar tidak masam sehinga masih aman untuk lambung.

Jika ingin melihat wajah keseharian kota Manggar datanglah ke warung kopi. Di sini pembauran dapat dengan mudah nya kita temui. Antara Tionghoa dan pribumi, antara pejabat dan masyarakat biasa. Semuanya berbaur menyesap nikmatnya segelas kopi. Semua obrolan, apakah itu mengenai pemerintahan, birokrasi, bahkan rahasia rumah tangga. Campur baur menjadi satu di dalam gelas kopi

Di antara puluhan warung kopi yang ada di sini, ada sebuah warung kopi yang selalu ramai di kunjungi. Warung kopi ini di kenal dengan nama Warung Kopi Atet. Warung kopi yang terletak di dekat pasar Manggar selalu penuh. Warung ini dikelola oleh orang Tionghoa bermarga Siau, dan bernama Atet. Kedai kopi ini sudah berdiri dari tahun 1949, Atet adalah generasi ke tiga dalam mengelola warung ini. Dari pukul 4 pagi hingga pukul 5 sore. Lelaki yang sudah berumur 69 tahun di bantu dengan 4 asisten sibuk di warung kopi. Selain kopi, di warung ini juga terdapat makanan ringan berupa mie dan telur rebus. Dengan Rp 4000,- kita sudah mendapatkan segelas kopi susu dan Rp 3000,- kita sudah mendapatkan segelas kopi O.

“ Ritual” dalam membuat kopi di warung Atet, sama dengan warung kopi yang lain. Namun, “bumbu” yang berbeda dan “rasa” yang berbeda sehingga para pelanggan selalu ramai berkunjung disini. Warung Atet pernah memenangi festival kopi yang di adakan oleh Pemerintah Kabupaten Belitung Timur.

Atet meneruskan tradisi keluarga sebagai seorang pedagang kopi, Ada sebuah kebanggan dari beliau, akan segelas kopi yang setiap hari dihirup para pelanggannya. Menurut masyarakat Manggar. Kopi bukanlah sekedar minuman di pagi hari. Ada sejarah, ada tradisi, dan ada kebanggaan dalam segelas kopi yang mereka minum. (BAW)

Check Also

kampar kiri hulu

Penggoda Lidah dari Kampar Kiri Hulu

Lensawisata.com, Penggoda Lidah dari Kampar Kiri Hulu, – Desa Batu Songgan adalah salah satu desa ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *