Wednesday , October 18 2017
Breaking News
Home / RUANG NUSANTARA / Hikayat Tenun Sakdan
tenun sakdan
Penenun Toraja yang berada di desa Sa'dan, Toraja Utara

Hikayat Tenun Sakdan

Lensawisata.com, Hikayat Tenun Sakdan, – Sa’dan merupakan daerah pusat tenun di Toraja. Dibutuhkan waktu sekitar tiga puluh menit menggunakan kendaraan roda dua dari kota Rante Pao, ibukota Kabupaten Toraja Utara. Dalam perjalanan menuju Sa’dan, saya disuguhkan pemandangan indah dari landskap tanah Toraja. Sawah yang menghijau, perbukitan yang menjulang di kiri kanan, kuburan yang terlihat bersusun pada dinding-dinding tebing.
Setelah tiga puluh menit dari Rante Pao, ibu kota Kabupaten Toraja Utara, saya tiba di pusat tenun Sa’dan. Menurut sejarah nya, Sa’dan dibentuk oleh nenek moyang keluarga To’barana yang mendirikan perkampungan keluarga, mereka mendirikan sebuah tongkonan yang bernama To’Barana. Tongkonan ini di perbaharui oleh Puang Long Labba dan kembali lagi di perbaharui oleh Puang Pong Padata. Dan sekarang tongkonan ini di wariskan secara turun temurun.

Sa’dan pagi itu sepi, karena saya berkunjung di bulan turis domestik maupun luar negeri tidak ramai berkunjung ke Tanah Toraja. Sa’dan akan ramai pada bulan Juli sampai dengan Agustus. Di bulan-bulan ini ,tamu-tamu asing akan ramai di Sa’dan. Biasanya, mereka akan membeli kain tenun khas Toraja, serta mengabadikan gambar dari tongkonan-tongkonan tua yang terdapat di Sa’dan.

Setelah membayar uang retribusi sebesar Rp 10.000,-. Saya menuju ke tempat penenunan kain. Seorang nenek yang sedang menenun menarik perhatian. Beliau adalah salah satu penenun kain toraja di Desa Sa’dan. Dari beliau, saya mendapatkan cerita mengenai proses pembuatan sebuah kain tenun, perubahan dari sebuah benang dan menjadi kain. Kain tenun Toraja masih menggunakan bahan-bahan alami. Kain ini menggunakan warna merah dari kulit pelepah kayu , warna hijau dari daun dan benang dari serat, Serat yang digunakan terdiri dari 2 jenis. Yakni, berupa kapas dan serat nenas. Namun, benang dari serat nenas sudah jarang digunakan. Sekarang, benang yang dominan digunakan adalah benang dari serat dari kapas.

Nenek tersebut juga menceritakan kepada saya bahwa dalam tenun Toraja, semakin besar ukuran kain akan semakin murah. Sedangkan semakin kecil ukuran kain harga kain akan semakin mahal. Hal ini terjadi karena rumitnya proses yang di lakukan. Di Toraja, para penenun masih menggunakan Alat Tenun Bukan Mesin ( ATBM). Sehingga, jika kita ingin memesan kain tenun membutuhkan waktu sekitar dua bulan pengerjaan untuk sebuah kain. Karena rumitnya proses pembuatan, sekarang, di pasar oleh-oleh di Rante Pao, beredar kain-kain yang dibuat menggunakan mesin cetak. Keberadaan kain-kain printing ini menyebabkan omset para pengrajin tenun Sa’dan menjadi turun.

Nenek bercerita kepada derajat pemakai kain tenun. Pada zaman dahulu, derajat atau tingkatan masyarakat Toraja dapat dilihat dari kain yang mereka pakai. Kita bisa membedakan apakah pemakai kain seorang bangsawan atau rakyat biasa. Namun, identifikasi berdasarkan kain sudah sulit dilakukan sekarang. Hal ini karena, kain-kain yang seharusnya hanya boleh dipakai oleh bangsawan, sekarang boleh dipakai oleh kalangan rakyat biasa. Ini terjadi karena kain-kain sudah banyak berpindah tangan.

Perpindahan ini terjadi karena para pewaris kain Bangsawan, menjual kain-kain keluarga mereka kepada siapa saja yang mampu membeli. Alasan mereka menjual kain-kain yang merupakan ciri khas keluarga/farm mereka adalah klasik. Masalah Ekonomi.

Di Sa’dan, saya bisa melihat beragam motif dan corak dari kain Toraja. Selain berbagai motif, kita juga bisa menemukan berbagai bentuk dari tenun Toraja yang sudah jadi. Bentuk tersebut berupa slayer,taplak meja, dan selendang, Bahkan ada juga kain khusus yang hanya di gunakan pada saat akan mengadakan upacara. Misal nya kain sarung hitam khas Toraja yang hanya digunakan pada saat upacara kematian, atau yang dikenal dengan sebutan upacara Rambu Solo. Dan ada juga kain yang hanya di gunakan pada saat upacara pendirian tongkonan baru atau yang lebih di kenal dengan nama upacara Mararang Banua

Selain pusat tenun, Sa’dan juga terdapat beberapa tongkonan tua. Tongkonan di Sa’dan berumur kurang lebih sekitar 300 an tahun.Ada sebuah ironi di dalam kawasan ini, Tongkonan-tongkonan tua yang berada di sekitar Sa’dan dan Toraja menjadi incaran kolektor barang antik. Mereka tanpa malu-malu akan datang ke kampung-kampung untuk membeli benda-benda yang menjadi kekayaan heritage dari Toraja. Setelah mereka beli, Tongkonan dan kain tenun tua ini nanti nya akan mereka jual kembali ke luar negeri. Tentu saja dengan harga yang sangat mahal. Akankah 20 tahun lagi, kawasan heritage dari Toraja ini masih ada. (BAW)

Check Also

Pulau Pamutusan

Eksotisnya Pulau Pamutusan

Lensawisata.com, Dari pulau Pagang, Pesisir Selatan, Sumatera Barat. Kapal yang saya tumpangi bergerak menuju sebuah ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *