Tuesday , November 21 2017
Breaking News
Home / RUANG NUSANTARA / Indonesia, Jepang dan Belanda: Cerita Pilu dari Kamp. Bangkinang
wc yang digunakan oleh tahanan perang saat pendudukan Jepang
wc yang digunakan oleh tahanan perang saat pendudukan Jepang

Indonesia, Jepang dan Belanda: Cerita Pilu dari Kamp. Bangkinang

” during the japanese occupation in the period 1943-1945 some 2500 women and children were held in captivity here in barracks camp, while another 1000 men and boys were interned in the nearby rubber factory in Bangkinang” .

Selama 2 tahun, dari 1943 sampai dengan 1945 terdapat 2500 anak-anak dan perempuan yang ditahan di kamp. Ada 1000 laki-laki dan anak-anak yang ditahan pada pabrik karet yang berada tidak jauh dari kamp. Di sebuah plakat yang dicat perak, tulisan ini berada. Bagian bawah tulisan, terdapat deretan nama-nama orang asing yang ditulis berdasarkan umur dan negara asal. Ada dua plakat yang mengapit plakat pertama. Ketiga lembaran plakat mulai kusam. Sebuah tugu yang terbuat dari batu setinggi satu meter menjadi alas plakat. Di halaman depan sebuah sekolah dasar tugu ini berada. Jauh dari hiruk pikuk jalan lintas Pekanbaru-Padang.

 

tugu kamp perempuan yang ada di halaman Sekolah Dasar lensawisata.com

 

tugu yang berada di halaman sekolah dasar 008 Salo.

tugu yang berada di halaman sekolah
tugu yang berada di halaman sekolah

Iwan Syawal, pemandu wisata senior dari Pekanbaru, menjelaskan kepada saya, dari mana asal muasal tugu ini. “ Pada zaman perang kemerdekaan, Diatas tanah sekolah ini, dahulu ada kamp tawanan perang perempuan. Mereka dikumpulkan di kamp. Sedangkan tawanan laki-laki, menjadi pekerja paksa di jalur Pekanbaru-Muara” Para tahanan perang/POW ini dibawa dari Padang, Sumatera Barat, menuju Pekanbaru, Riau bergabung dengan romusha yang terlebih dahulu bekerja membangun jalur kereta api. dan ini adalah bagian dari sejarah Indonesia, Jepang dan Belanda di Indonesia dan Cerita Pilu dari Kamp Bangkinang.

Pada tahun 1943, Jepang membangun jalur kereta api sepanjang 200 kilomoter membelah bagian tengah Sumatera. Jalur kereta api ini dibangun karena Jepang ingin membawa batu bara dari Sawah Lunto, Sumatera Barat, menuju Singapura melalui selat Malaka. Tidak memungkinkan saat itu bagi kapal Jepang masuk dan keluar Teluk Bayur membawa logistik, karena kapal-kapal selam Sekutu patroli di Samudera Hindia.

Pada saat pembangunan jalur kereta, lebih dari 10.000 romusha dan 5000 POW dipekerjakan paksa oleh Jepang. Berdasarkan buku Henk Hovinga,Sumatera Dead Rail Road. Pada tahun 1943 sampai 1944, ada lima kali pemindahan pekerja paksa dan tahanan dari Padang menuju Pekanbaru. Pengiriman terbesar pekerja jalur kereta api terjadi pada tahun 1944. 4200 romusha dan 2300 POW berasal dari Belanda, Inggris, Australia, Amerika, dan Selandia Baru diberangkatkan menuju Padang dari Batavia. Mereka menggunakan kapal Junyomaru. Namun, kapal ini ditorpedo pada perairan di depan Padang oleh kapal selam Inggris, H.M.S. Trade Wind. Para korban yang selamat dibawa ke Pekanbaru bergabung dengan POW yang sudah dibawa sebelumnya.

“ Sebelum tiba di Pekanbaru, para POW dibawa dengan kereta api sampai Payakumbuh. Kemudian disambung dengan menggunakan truk” ujar Iwan. “ Truk membawa mereka sampai Bangkinang. Mereka dikumpulkan di kamp. Dipisahkan antara perempuan, anak anak, dan laki-laki. Yang laki-laki dan remaja akan dibawa menuju Pekanbaru. Yang perempuan tinggal” sambungnya. Kehidupan di kamp perempuan jauh dari layak. Mereka tinggal dengan makanan yang ala kadarnya dibawah bayang-bayang perkosaan pihak Jepang dan Korea.

Berdasarkan buku Henk Hovinga. Kamp di Bangkinang menyerah pada tanggal 22 Agustus 1945, Pada awal September 1944, terdapat 1300 pria, anak-anak, dan perempuan serta 100 orang-orang yang sakit yang dibawa ke Padang. Evakuasi para POW yang tersisa di kamp Bangkinang dimulai pada tanggal 27 September 1945. Mereka dibawa ke Medan, Palembang, dan Singapura dari bandara Simpang Tiga menggunakan pesawat. Pada tanggal 11 November 1945, proses evakuasi selesai.

 

peta Bangkinang dan sketsa camp di Bangkinang

 

Pada tanah tempat dimana kurang lebih 3500 jiwa ditahan sekaramg berdiri sekolah Dasar 008 Kecamatan Salo, Kabupaten Kampar, Provinsi Riau. Untuk memperingati kisah pilu ini, anak-anak tahanan perang membangun tugu peringatan di halaman sekolah. Didi, penjaga sekolah merangkap penjaga tugu memperlihatkan kepada saya foto-foto peresmian tugu di tahun 2006.

wc yang digunakan oleh tahanan perang saat pendudukan Jepang

wc yang digunakan oleh para tahanan perang saat itu

sketsa para tahanan menggunakan wc saat itu
sketsa para tahanan menggunakan wc saat itu

Opa dan Oma dari Belanda meresmikan tugu nama-nama orang yang ditahan di kamp Bangkinang. Pada tahun 1945 mereka adalah anak-anak yang berumur 3 sampai dengan 6 tahun.. Pada buku tamu yang dipegang oleh Didi, terdapat memoar dari masing-masing anak POW. Mereka menceritakan kisah pilu kehidupan mereka di kamp dan cerita orang tua mereka. Bahkan, menurut Didi, ada salah seorang anak dari POW yang datang dua tahun setelah peresmian menangis tersedu sedu pada pohon yang berada pada perbatasan antara SD dengan Batalyon Infanteri 132/Bima Sakti atau yang dikenal dengan nama kompi Salo. Dia teringat akan ayahnya yang dieksekusi Jepang dibawah pohon itu.

bak mandi yang digunakan untuk mencuci baju oleh para tahanan perang saat itu

 

bak penampung air yang digunakan oleh para tahanan perang.

 

Selain tugu dan buku tamu. Iwan membawa saya melihat wc jongkok yang dahulu digunakan para tahanan perempuan. Wc jongkok yang dibangun berhadap-hadapan sejumlah 74 buah masih utuh dan tertutup semak-semak dan lumut. Wc ini menjadi saksi bisu kejadian pada tahun 1943 sampai dengan 1945 tersebut.

Nama nama para tahanan di Bangkinan dan Padang

 

iklan di koran Belanda, anak-anak kamp Bangkinang berkumpul lensawisata.com
iklan di koran Belanda, anak-anak kamp Bangkinang berkumpul
cerita dari anak-anak yang ikut ditahan di kamp
cerita dari anak-anak yang ikut ditahan di kamp

 

“Dari sungai yang berada di bawah kamp, mereka memanggul air, untuk dibawa ke dalam bak tampung. Air dari bak tampung akan dialirkan menuju bak mandi. Di bak panjang ini lah mereka mandi dan mencuci. Keseharian perempuan dan anak-anak di kamp ini dikelilingi Jepang dan hutan Sumatera yang lebat” ujar Iwan.

Ditepi jalan lintas Pekanbaru- Bangkinang-Padanng, disebelah kompi Salo. Ada saksi pilu sejarah pendudukan Jepang yang seharusnya bisa kita kenalkan ke khalayak ramai. Mengutip kata Didi, “ jangan sampai, tugu ini hancur karena ketidak pedulian kita akan sejarah”.

Check Also

Pulau Pamutusan

Eksotisnya Pulau Pamutusan

Lensawisata.com, Dari pulau Pagang, Pesisir Selatan, Sumatera Barat. Kapal yang saya tumpangi bergerak menuju sebuah ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *