Wednesday , October 18 2017
Breaking News
Home / RUANG NUSANTARA / Istana Siak “Matahari Dari Timur”
Tampak depan istana Siak

Istana Siak “Matahari Dari Timur”

Lensawisata.com, Di tepi sungai Siak yang konon kata nya terdalam di Indonesia, berdirilah sebuah istana yang megah. Istana ini adalah saksi dari kerajaan besar di Riau, kerajaan tersebut bernama kerajaan Siak Sri Indrapura. Di bawah pemerintahan Sultan ke sepuluh yang bernama sultan Syarif Hasyim kerajaan ini mendirikan sebuah istana. Istana ini memiliki julukan Matahari dari Timur atau dalam bahasa arab nya Asserayah Hasyimiah.

Bagian koridor tempat menjamu para tamu copy
Bagian koridor tempat menjamu para tamu

Pintu istana berukuran besar dan berwarna hijau masih tertutup saat kedatangan saya. Baru saja kaki akan menjejakkan kaki ke lantai pualam yang berwarna putih. Tiba-tiba ada suara yang menegur. “Bang, tolong dilepas dulu alas kaki nya.”Suara yang menegur saya berasal dari pegawai negeri sipil yang bekerja di istana. Mereka biasa menemani tamu untuk menjelaskan sejarah istana ini.

Komet, alat musik dari Jerman ini, hanya ada dua di Dunia copy
Komet, alat musik dari Jerman ini, hanya ada dua di Dunia

Istana Siak didirikan pada tahun 1889, fungsi istana adalah sebagai tempat tinggal dari Sultan Siak. Arsitek yang merancang bangunan ini berasal dari Jerman. Dengan langgam arsitektur bangunan adalah Melayu, Eropa dan Arab.

Istana Siak terdiri dari dua lantai, lantai pertama adalah ruang penerimaan tamu, dan ruang rapat sedangkan lantai atas adalah ruang istirahat raja dan tamu. Bunyi menderit dari engsel pintu saat dibuka, menjadi awal cerita saya di Istana ini.

detail dari istana Siak yang merupakan sindiran kepada Belanda
detail dari istana Siak yang merupakan sindiran kepada Belanda

Penjaga istana mengajak saya ke ruangan penyambutan tamu, di sini terdapat manekin para petinggi kerajaan yang sedang rapat. Konon kabar nya ini adalah manekin dari Dewan Istana dan Raja. Manekin ini didandani dengan pakain melayu lengkap dengan kain songket Siak. Posisi mereka disusun seolah-olah sedang melaporkan kondisi terkini dari situasi kerajaan. Tidak jauh dari manekin Dewan Istana dan Raja, terdapat foto hitam putih. Foto berukuran 60 x 40 cm ini menunjukkan wajah dari Sultan Syarif Qasim II.

Portrait Sultan Syarif Kasim II dan ayahnya copy
Portrait Sultan Syarif Kasim II dan ayahnya

Beliau adalah raja terakhir dari kerajaan Siak. Dialah yang memutuskan Kerajaan Siak bergabung dengan Indonesia setelah mendengar kabar proklamasi kemerdekaan di kumandangkan di Jakarta. Saat bergabung dengan Republik Indonesia, dia menyerahkan hartanya kepada presiden Sukarno di Yogyakarta sebesar 13 juta Gulden untuk membantu pembangunan Republik ini. Nilai uang yang diserahkan oleh Sultan Syarif Qasim II kurang lebih setara dengan pembangunan tiga Gedung Sate di Bandung pada saat itu. Atau jika dikonversikan dengan nilai uang sekarang sekitar satu trilyun rupiah. Beliau menyatakan bergabung dengan Republik ini bersama kerajaan Deli, Asahan, Yogyakarta, Solo, Kutai Kertanegara, Pontianak, Ternate, Tidore, Bali, Sumbawa, dan daerah-daerah yang termasuk Zelfbestuuren/berpemerintahan sendiri pada zaman Belanda.

salah satu koridor di istana Siak
Salah satu koridor di istana Siak

Dari ruang penyambutan tamu, saya menuju bagian dalam istana. Ruangan perjamuan tamu adalah nama ruangan ini. Disini koleksinya tidak kalah menarik, saya melihat sebuah cermin yang terbuat dari kristal. Umur cermin ini kurang lebih sudah seratus tahun. Cermin kristal ini dibuat di Ceko.

Dahulu, cermin ini digunakan permaisuri Sultan untuk berkaca. Ada sebuah mitos yang berkembang, jika kita berkaca di depan cermin maka kita akan awet muda. Selain cermin kristal, koleksi menarik yang ada disini adalah patung raja yang terbuat dari pualam putih dan bermatakan kristal.

Untuk menjaga agar patung ini tidak di sentuh oleh tangan tangan jahil, patung ini di masukkan ke dalam kotak kaca.

detail perlengkapan makan yang ada di istana Siak
Perlengkapan makan yang ada di istana Siak
detail perlengkapan makan dan minum Sultan di istana Siak copy
Perlengkapan makan dan minum Sultan di istana Siak copy

Penjaga mengajak saya ke koridor kanan istana. Dia memamerkan koleksi istimewa dari Istana. Koleksi ini adalah sebuah alat musik yang bernama Komet, yang kabarnya hanya ada dua di dunia. Satu berada di Jerman sedangkan yang lainnya berada di Siak. Komet memiliki wujud kotak besar dan untuk memainkannya harus diputar terlebih dahulu seperti gramafon. Komet juga menggunakan piringan sebagai sumber musik yang dimainkan, namun bahan dari piringan bukanlah vinyl melainkan pelat besi yang berbentuk lingkaran. Pelat besi ini di lubangi sedemikian rupa sehingga pada saat bagian dari komet menyentuh lubang akan keluar nada-nada. Bach dan Mozart adalah beberapa koleksi piringan yang ada.

Lambang kerajaan Siak dan replika dari mahkota raja yang terbuat dari emas copy
Lambang kerajaan Siak dan replika dari mahkota raja yang terbuat dari emas

Di lantai dua, koleksi yang ada sama menarik nya seperti di lantai satu. Lantai dua merupakan tempat istirahat raja dan menjamu tamu. Pada dinding kamar yang berada di lantai dua terdapat foto-foto hitam putih yang menceritakan mengenai kehidupan dalam istana pada zaman dahulu. Foto yang paling menarik adalah foto hitam putih dari seseorang yang menggunakan baju seperti rompi dan memakai tameng yang terbuat dari kayu. Kata Syamsudin, foto ini adalah foto orang Dayak yang saat itu datang berkunjung ke istana. Selain foto-foto lama, di bagian atas terdapat jubah perang yang digunakan raja, proyektor film, dan beberapa pusaka kerajaan berupa badik dan keris.

Lambang kerajaan Siak copy
Lambang kerajaan Siak
tangga menuju lantai dua istana Siak copy
Tangga menuju lantai dua istana Siak

Dari lantai dua saya turun. Sebelum meninggalkan istana perhatian saya tertuju pada sebuah kotak besi yang terletak di bagian kanan bawah tangga. Penjaga berkata “Itu lemari besi bang, sampai hari ini tak bisa di buka”. Pikiran saya langsung berimajinasi liar. Apakah isi di dalam lemari besi ini adalah kontrak kerja dari perusahaan-perusahaan minyak asing yang sudah masuk ke Siak pada waktu itu, atau kontrak mengenai perjanjian kerjasama antara kerajaan ini kepada Inggris pada abad ke 18. Entah lah.  BAW

Jendela istana siak dilihat dari depan
Jendela istana siak dilihat dari depan
Bagian depan dari istana Siak
Bagian depan dari istana Siak
Bagian samping istana Siak dengan latar belakang kapal Kato, kapal milik Sultan Siak
Bagian samping istana Siak dengan latar belakang kapal Kato, kapal milik Sultan Siak

Check Also

Pulau Pamutusan

Eksotisnya Pulau Pamutusan

Lensawisata.com, Dari pulau Pagang, Pesisir Selatan, Sumatera Barat. Kapal yang saya tumpangi bergerak menuju sebuah ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *