Tuesday , November 21 2017
Breaking News
Home / RUANG NUSANTARA / Jejak Sejarah Pekanbaru Tempo Dulu
Istana Hinggap, rumah singgah Sultan Siak saat berada di Pekanbaru
Istana Hinggap, rumah singgah Sultan Siak saat berada di Pekanbaru

Jejak Sejarah Pekanbaru Tempo Dulu

Lensawisata.com, Sebagai kota yang sudah berumur 233 tahun pada 2017 ini, Pekanbaru dikenal sebagai kota yang tidak memiliki objek wisata yang menarik. Padahal, jika kita menelusuri kampung-kampung yang berada di tepi Sungai Siak. Dimulai dari kawasan pasar bawah hingga ke arah Jalan Tanjung Datuk. Kita akan menemui berbagai objek wisata sejarah yang memperlihatkan bahwa kota ini merupakan salah satu kota tua di Indonesia. Sisa-sisa dari kerajaan Siak dan sisa dari jalur kereta api Pekanbaru-Muaro yang bagi masyarakat Eropa dikenal dengan sebutan Sumatera Death Railway adalah beberapa objek wisata sejarah yang bisa kita lihat.

Kali ini, Lensa Wisata akan mengenalkan beberapa objek wisata sejarah di Pekanbaru yang menjadi penanda kota ini.

 

  • Tugu nol km

Tugu ini merupakan patok nol km penanda pembuatan jalan penghubung antara Pekanbaru-Bangkinang-Payakumbuh. Tugu nol km Pekanbaru ini dibuat oleh Belanda pada tahun 1920. Jalan penghubung ini menjadi urat nadi perdagangan antara pantai Barat dan Pantai Timur Sumatera saat itu. Barang-barang dari pantai Barat Sumatera dibawa menuju Pelabuhan lama yang berada di tepi sungai Siak ( pelabuhan Pelindo I di pasar Bawah). Kapal kapal dagang dari KPM (Koninklijke Paketvaart Maatschappij) seminggu sekali berlayar dari Pekanbaru menuju Singapura/Tumasik. Di Singapura, barang-barang dagangan dari Sumatera dikirim ke berbagai negara. Dengan dibangunnya jalan ini, perkembangan Pekanbaru menjadi sangat pesat.

 

Nol kilometer yang menjadi penanda jalan Pekanbaru-Bangkinang-Payakumbuh yang dibangun Belanda pada tahun 1920
Nol kilometer yang menjadi penanda jalan Pekanbaru-Bangkinang-Payakumbuh yang dibangun Belanda pada tahun 1920

 

  • Gudang Pelindo

Gudang ini merupakan saksi bisu kejayaan perdagangan antara Sumatera Timur/ Pekanbaru ke Singapura. Pelabuhan lama Pekanbaru dibangun oleh Belanda pada tahun 1920-an. Saat itu, pelabuhan ini disinggahi kapal-kapal dari KPM (Koninklijke Paketvaart Maatschappij/ Perusahaan Pelayaran Belanda). Kapal-kapal ini membawa barang-barang dari Tapung, Payakumbuh, dan berbagai wilayah Sumatera Tengah lainnya untuk dibawa ke Singapura. Di dalam salah satu foto hitam putih di Leiden, memperlihatkan salah satu kapal dari KPM tujuan Afrika Selatan via Singapura singgah sebentar di Pelabuhan Pelindo ini. Gudang-gudang ini pada zaman dahulu penuh dengan barang-barang yang akan dikirim menuju Singapura.

gudang-gudang-pelabuhan-lama-pekanbaru-yang-sudah-dibangun-oleh-belanda-sejak-tahun-1920_lensawisata-com
gudang-gudang pelabuhan lama pekanbaru yang sudah dibangun oleh belanda sejak tahun 1920_lensawisata.com
Pelabuhan lama Pekanbaru yang sudah dibangun Belanda sejak tahun 1920
Pelabuhan lama Pekanbaru yang sudah dibangun Belanda sejak tahun 1920

 

  • Rumah Bea Cukai/ Rumah Syahbandar

Rumah Haven Meester merupakan rumah peninggalan Belanda dengan arsitektur tahun 1920-an. Rumah ini digunakan sebagai kantor Syahbandar yang ditunjuk oleh Belanda. Alasan Belanda menempatkan pegawai syahbandar mereka di Pekanbaru untuk mendata kapal-kapal dagang masuk dan keluar kota Pekanbaru. Perdagangan Pekanbaru saat itu pesat.

Fungsi Syahbandar sebagai pengawas keselamatan kapal dan sebagai kepala bea cukai. Pada tahun 1925 berdasarkan Haven Reglement 1925. Haven Meester menjadi kepala pemerintahan di Pelabuhan, tidak lagi sebagai syahbandar. Pada zaman keemasan pelabuhan lama Pekanbaru. Catatan syahbandar menjadi saksi bisu pergerakan kapal-kapal yang membawa hasil bumi dan masyarakat Riau menuju Singapura.

Rumah Syahbandar yang dibangun oleh Belanda, rumah ini berada di bagian belakang Pasar wisata, Pasar Bawah
Rumah Syahbandar yang dibangun oleh Belanda, rumah ini berada di bagian belakang Pasar wisata, Pasar Bawah
Rumah Syahbandar yang dibangun Belanda sejak tahun 1920
Rumah Syahbandar yang dibangun Belanda sejak tahun 1920

 

  • Rumah Singgah Sultan Siak

Rumah panggung ini merupakan rumah singgah dari Sultan Siak pada saat dia berkunjung ke kota Pekanbaru. Didirikan sekitar tahun 1895 oleh H. Nurdin Putih, mertua dari Tuan Qadhi H Zakaria, Saat Sultan Syarif Kasim II singgah ke Pekanbaru, beliau akan singgah terlebih dahulu ke rumah ini. Kemudian, sultan akan berjalan menuju Masjid Nur Alam/ Mesjid Raya Pekanbaru untuk beribadah

Sultan terlebih dahulu akan melewati Hasyim Straat, jalan kecil yang berada di samping kiri mesjid. Setelah beribadah di mesjid, Sultan akan tidur di istana Hinggap dan kemudian kembali ke Siak.

Rumah Singgah Sultan Siak sebelum menuju Mesjid Nur Alam
Rumah Singgah Sultan Siak sebelum menuju Mesjid Nur Alam
Rumah singgah Sultan Siak sebelum menuju Mesjid Nur Alam
Rumah singgah Sultan Siak sebelum menuju Mesjid Nur Alam

 

  • Istana Hinggap/ Rumah tuan Qadhi

Rumah ini berdiri pada tahun 1928, salah satu bangunan bergaya Indische yang ada di kota Pekanbaru. Arsitektur indische adalah gaya bangunan yang dibuat Belanda dari tahun 1800-an sampai 1900 an awal. Pemilik istana ini adalah H Zakaria bin Abdul Muthalib, yang bergelar Tuan Kadi.

Beliau dipercaya oleh Sultan Syarif Kasim II sebagai penasihat raja di bidang agama. Setiap sultan Siak datang ke Pekanbaru, beliau menginap di rumah ini, sehingga ada kamar khusus untuk Sultan. Isi dalam bangunan ini masih asli. Seperti kursi hadiah Laksaman Raja Di Laut kepada Sultan Siak, foto-foto tuan Kadi dan Sultan masih bisa kita lihat di rumah ini. Pada saat agresi militer Belanda ke II, tahun 1949. Belanda menjadikan rumah ini sebagai penjara dan rumah sakit.

Saat rapat pembentukan prov Riau, rumah ini menjadi tempat berlangsung nya rapat pembentukan.

Istana Hinggap, rumah singgah Sultan Siak saat berada di Pekanbaru
Istana Hinggap, rumah singgah Sultan Siak saat berada di Pekanbaru
kursi hadiah dari Laksaman Dilaut kepada Sultan Siak, Sultan Syarif Kasim II
kursi hadiah dari Laksaman Dilaut kepada Sultan Siak, Sultan Syarif Kasim II
interior dalam dari Istana Hinggap
Interior dalam dari Istana Hinggap

 

  • Terminal lama Pekanbaru

Pada tahun 1955, saat Caltex mulai membuka kantornya di Rumbai, Pekanbaru. Masyarakat mulai rame di kota Pekanbaru. Di tepi sungai Siak ini, pada tahun 1950 sampai 1970, masyarakat yang ingin ke dan dari Pekanbaru, akan singgah terlebih dahulu di terminal bus yang berada di tepi sungai. Terminal yang dicat biru ini, menjadi saksi bisu akan keberadaan lalu lintas PO bus seperti Sinar Riau dan Batang Kampar yang saat itu membawa penumpang menuju Sumatera Barat, Duri, serta Dumai, Provinsi Riau. Di terminal ini dahulunya, terdapat plang nama “ Selamat Datang di Pekanbaru “. Sayangnya plang besi ini sudah hilang.

terminal lama Pekanbaru
Terminal lama Pekanbaru

 

  • Lokomotif Tua

Di halaman belakang salah satu rumah di tepi Sungai Siak, terdapat sisa lokomotif dari jalur kereta Api, Pekanbaru- Muaro di Sumatera Barat sepanjang 220 km. Saat pembuatan jalur ini, ada sekitar 1000 lebih tahanan perang yang berasal dari Inggris, Belanda, Selandia Baru, Amerika Serikat, Australia yang mati ditambah hampir 100.000 romusha/pekerja paksa yang mati.

Bagi para korban, jalur ini dikenal dengan sebutan Sumatera Death Railway.

lokomotif tua sisa dari Jalur Pekanbaru Muaro yang dibuat Jepang pada tahun 1943 sampai 1945
lokomotif tua sisa dari Jalur Pekanbaru Muaro yang dibuat Jepang pada tahun 1943 sampai 1945
Lokomotif tua yg berada di rumah warga yang berada di tepi sungai Siak
Lokomotif tua yg berada di rumah warga yang berada di tepi sungai Siak

Benda-benda bersejarah ini, menjadi saksi bisu bahwa Pekanbaru memiliki objek wisata sejarah yang menarik. Kurang lebih ada 40 benda cagar budaya di Pekanbaru yang harus di lestarikan dan harus kita kunjungi dan jaga. *BAW

 

Check Also

Pulau Pamutusan

Eksotisnya Pulau Pamutusan

Lensawisata.com, Dari pulau Pagang, Pesisir Selatan, Sumatera Barat. Kapal yang saya tumpangi bergerak menuju sebuah ...

3 comments

  1. what is the location of the steam locomotive? I have been looking for this for a long time but have never found it. do you have an address?

    • Where are you? if you Into pekanbaru, Tell Us to lensawisatamagz@gmail.com or mention on twitter @lensawisatamagz. I will take to see this all.

    • Hi Jeffrey,
      I’m Iwan Syawal and we are friend in FB. We talk about this via messenger, isn’t it. When you or your father have a time to come to Pekanbaru, please call me, you got my number. I’ll show you where the place is as well as a remainder of a loco which is in the middle of people hause.
      Tell your father obout this. Thankyou for documentaire video that you made. This video can help us to inform all young generation people to learn about history. Thanks again.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *