Wednesday , October 18 2017
Breaking News
Home / RUANG NUSANTARA / Jelajah Lidah di Melayu Food Festival
sempolet-cik-awang-yang-dijual-di-melayu-food-festival_lensawisata-com

Jelajah Lidah di Melayu Food Festival

Sebagai the home land of Melayu, kemelayuan provinsi ini dapat dilihat dalam ragam masakan yang ada di meja makan. Ragam bumbu yang digunakan dan ragam menu dari hilir yang kaya dengan suguhan hidangan laut, hingga bagian hulu yang kaya akan hidangan sungai menjadi jati diri provinsi Riau yang sayangnya sering dilupakan.

Sejak pagi hari di tenda-tenda putih yang berdiri di jalan Cut Nyak Dien masyarakat mulai ramai melirik isi tenda dan berkunjung. Mereka penasaran akan rasa dari masakan melayu yang selama ini mereka kenal dari ingatan masa lalu akan masakan nenek mereka ataupun dari artikel-artikel kuliner yang banyak terdapat di majalah, Koran, dan internet. Bau harum dari masakan tercium saat saya menelusuri tenda-tenda yang berada di depan gedung pustaka Suman H.S.

tempoyak-durian-dari-ibu-ibu-pkk-kabupaten-rokan-hulu_lensawisata
Tempoyak durian dari ibu-ibu PKK kabupaten Rokan Hulu

Tenda sempolet KPK Cik Awang menjadi tujuan pertama saya. Cik Awang, pemilik lapak mempersilahkan saya untuk mencicipi semangkuk sempolet. Sempolet adalah masakan melayu yang menggunakan bahan dasar sagu dengan wujud menyerupai bubur namun dengan tekstur yang kenyal. Jika anda pernah mendengar olahan sagu dari Timur Indonesia. Papeda dari Papua,. Sempolet memiliki kemiripin bentuk dengan papeda, namun memliki perbedaan. Perbedaan itu adalah jika papeda saat dimakan menggunakan kuah kuning dan memiliki rasa yang sedkit hambar. Maka sempolet memiliki rasa yang pedas dan dimakan langsung tanpa menggunakan kuah.

gulai jamur, gulai ikan, sambal bacang, dan serondeng yang dibawa oleh ibu-ibu PKK kabupaten Rokan Hulu

Menurut Ncik Awang, sempolet dapat ditemukan di sepanjang pesisir pantai timur Riau. Tembilahan, Selat Panjang, Bengkalis, dan Rokan Hilir adalah daerah-daerah dimana sempolet jamak dihidangkan. Rasa pedas tertangkap lidah saat saya mencicip sesendok sempolet. Suara “krauk” dari sayur-sayuran yang digigit mulut terdengar telinga. Sayuran renyah yang saya kunyah ini adalah katu, pakis, dan kangkung, dari tiga sayuran inilah nama sempolet KPK Ncik Awang berasal. Rencah udang pepai/udang halus goreng kering yang ditabur diatas sempolet membuat tangan menjadi kalap menyuap sempolet hingga tandas.

Dari tenda sempolet, saya berpindah ke tenda di belakang Ncik Awang, saya menuju lapak masakan melayu Dapoer Dwikora. Di sini, saya mencicip kuliner masyarakat melayu yang dikenal dengan nama laksa. Laksa merupakan masakan melayu yang juga menggunakan bahan dasar sagu. Laksa yang dijual di Daper Dwikora berupa mie sagu yang disiram dengan kuah kari tenggiri. Sedikit berbeda dengan laksa di Kepulauan Riau yang menggunakan kari tongkol.

nasi-dagang-merah-sempolet-dan-gulai-sagu-cik-awang_lensawisata-com
Nasi dagang merah, sempolet, dan gulai sagu Cik Awang

Reny yang merupakan pemilik warung memperkenalkan kepada saya rasa unik kuliner yang akrab di lidah masyarakat pesisir Timur Sumatera.              “Cobalah” ujarnya. Menggunakan kuah tenggiri, bau amis ikan laut sama sekali tidak tercium. Yang tertangkap lidah adalah rasa gurih dan manis dari ikan serta sedikit pedas. Rasa pedas ini berasal dari cabe yang digunakan sebagai bumbu. Rasa kenyal mie sagu juga turut tertangkap. Jika menyenangi rasa yang lebih pedas, kita bisa menambahkan irisan cabe rawit di atas laksa.

mie-sagu-kuah-tenggiri-atau-laksa-yang-dijual-dapoer-dwikora_lensawisata
Mie sagu kuah tenggiri atau laksa yang dijual Dapoer Dwikora

Kerumunan orang di tenda depan panggung pertunjukan menarik perhatian. Tenda-tenda yang berada di depan panggung merupakan tenda PKK yang berasal dari kabupaten-kabupaten kota yang ada di provinsi Riau. Keriamaian siang itu berasal dari tenda Kabupaten Rokan Hulu/Rohul. Ibu-ibu PKK dari Rohul menyajikan masakan melayu yang jarang dilihat. Gulai jamur dengan salai yang sudah disuwir, agar-agar gula merah, tempoyak durian, sambal ambacang, dan kueh kerang adalah beberapa masakan yang dipamerkan dan dijual. Ibu-ibu PKK Kabupaten Rohul silih berganti melayani pesanan pembeli termasuk saya. Saya penasaran dengan rasa sambal ambacang dan tempoyak durian yang mereka jual. Sambal tempoyak merupakan sambal yang berasal dari fermentasi durian. Harum durian dengan cepat tertangkap hidung saat saya berdiri di depan belanga tanah liat tempat sambal ini dihidang. Saya sudah membayangkan rasa asam dari durian dan pedas dari cabe beradu di lidah.

 

tenda-tenda-peserta-melayu-food-festival-yang-berlangsung-di-pekanbaru_lensawisata-com
Tenda-tenda peserta melayu food festival yang berlangsung di Pekanbaru
pengunjung-di-festival-masakan-melayu-yang-berlangsung-dari-tanggal-10-sampai-11-desember-2016_lensawisata-com
Pengunjung di festival masakan melayu yang berlangsung dari tanggal 10 sampai 11 Desember 2016

Semoga pada Melayu Food Festival selanjutnya. Ragam kuliner Melayu yang hadir menjadi lebih bervariasi. Mengutip perkataan Asosiasi Cheff Indonesia yang turut hadir dalam festival ini. “ Festival masakan melayu memberikan wadah kepada masyarakat untuk mengenal ragam rasa masakan melayu”.

Check Also

Pulau Pamutusan

Eksotisnya Pulau Pamutusan

Lensawisata.com, Dari pulau Pagang, Pesisir Selatan, Sumatera Barat. Kapal yang saya tumpangi bergerak menuju sebuah ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *