Wednesday , October 18 2017
Breaking News
Home / RUANG NUSANTARA / Riau / Kisah Pemuka Agama dari Kerajaan Indragiri, Tuan Guru Sapat
Foto Tuan Guru sapat pada warung di Pulau Sapat - Lensawisata.com

Kisah Pemuka Agama dari Kerajaan Indragiri, Tuan Guru Sapat

Lensawisata.com, Suara langkah dari para peziarah terdengar jelas di telinga saya.  Mereka baru saja selesai berziarah di makam seorang mufti dari kerajaan Indragiri yang bergelar tuan Guru Sapat.

peziarah di kubur tuan guru sapat
peziarah di kubur tuan guru sapat

Tuan Guru Sapat merupakan pemuka agama dari kerajaan Indragiri  bernama  Syaikh   ‘Abdurrahman   Shiddîq   bin   Muhammad   Afif      bin   Muhammad   bin   Jamaluddin   al-Banjari.  Beliau merupakan cicit  Maulana Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari, sosok ulama besar yang pertama kali mengembangkan Islam di Kalimantan. 

Syaikh Abdurrahman Shidiq lahir di Kampung Dalam Pagar, Martapura, Kalimantan Selatan pada tahun 1871 Masehi.

foto dan cendra mata dari Tuan Guru Sapat - lensawisata.com

Dimasa kecilnya, beliau diasuh oleh   adik   ibunya   bernama   Sa’idah.  Hal ini karena kedua orang tua Abdurrahman Shiddik meninggal dunia. Sa’idah mengajarkan ilmu agama  pada beliau. Saat Abdurrahman Shiddik menginjak dewasa, ia mulai belajar bahasa Arab dengan pamannya H. A. Rahman Muda dan saat diajarkan oleh pamannya ini terlihat tanda-tanda  kecerdasan  yang  ia  miliki. Sempat  saat itu  ia  disuruh  untuk  melanjutkan studinya ke Mekkah.Namun karena masalah biaya ia menunda keberangkata, beliau melanjutan  studi  ke  Padang.  Sewaktu  belajar  agama  di  Padang  Abdurrahman  Shiddîq  sempat berguru dengan H. Muhammad Sa‘id Wali, H.Muhammad Khotib dan    Syaikh    H.    ‘Abdurrahman Muda.

selamat datang di pulau Sapat

Selama belajar, Abdurrahman Shidik/tuan guru membantu pamannya  sebagai penjual emas. Untuk melanjutkan cita citanya berguru di Mekkah. Tuan guru berdagang emas ke pelabuhan besar  pada zaman itu yang bernama Barus. Barus adalah kecamatan di Tapanuli Tengah. Di zaman dahulu, merupakan pelabuhan samudera besar dengan komoditas andalan kapur barus.  Setelah pendidikan di Padang selesai dan modal yang dikumpulkan selama berdagang cukup. Tuan Guru melanjutkan pendidikan di Mekkah.

silsilah dari tuan guru Sapat beserta keluarga

Di Mekkah ia menuntut ilmu kepada para ulama besar yang membuka pengajian agama di Masjidil Haram. Guru-guru tempatnya belajar di antaranya adalah Ahmad Khatib Minangkabau dikenal sebagai pembaharu Islam di (Sumatera Barat), Syaikh Said BakriSyatha, Syaikh Said Babasyid, Sayyid Ahmad Zaini Dahlan dan Syaikh Muhammad Nawawi al-Bantani. Syaikh Muhammad Nawawi al-Bantani adalah seorang Imam Masjidil Haram. Gelar  al-Bantani karena ia berasal dari Banten, Indonesia. Ia adalah seorang ulama dan intelektual yang sangat produktif menulis kitab, yang meliputi bidang-bidang fiqih, tauhid, tasawuf, tafsir, dan hadis. Jumlah karyanya mencapai tidak kurang dari 115 kitab.  Tuan Guru tinggal di tanah suci Mekkah dan Madinah selama tujuh tahun, lima tahun menuntut ilmu dan dua tahun mengajar di Masjidil Haram sebelum pulang ke tanah air untuk menyampaikan dan mengamalkan ilmu yang diperoleh.

mesjid hidayat peninggalan tuan guru yang sedang direnovasi - lensawisata.com

Setelah pulang ke tanah air, dan sebelum menetap di pulau Sapat. Terlebih dahulu, tuan guru menyebarkan agama islam di pulau Bangka. Dengan pusat penyebaran agama di kota Muntok, kota yang pada zaman Belanda menjadi sentra industri Timah. Dari kota Muntok, penyebaran islam menyebar ke Belinyu, Kemua, Kundi, dan Kota Waringin. Penyebaran islam di kota Bangka memlliki tantangan tersendiri karena dilakukan dari rumah ke rumah, tidak melalui pesantren. Selama di Bangka. Tuan Guru aktif menulis dan mengirimkan karya tulisnya ke Kalimantan dan Tumasik/Singapura. Selama lima belas tahun, Tuan Guru menyebarkan islam di pulau Bangka. Dan di pulau in,  beliau menghasilkan kitab yang berjudul “ syair Ibarah dan Khabar Kiamat”.  Di tahun 1910, Tuan Guru meninggalkan Bangka. Menuju kearah Utara.

kuburan tuan guru sapat dan peziarah - Lensawisata.com

Pada tahun 1912, di Pulau Sapat, Kabupaten Indragiri Hilir. Tuan Guru membuka pesantren dan kebun kelapa. Di Sapat inilah, beliau diminta oleh Kerajaan Indragiri sebagai mufti atau pemuka agama dari kerajaan Indragiri. Beliau  menjadi mufrti sejak tahun 1919 hingga beliau wafat dan dimakamkan di Sapat pada tahun 1939.

puncak dari mesjid Hidayat, peninggalan dari Tuan Guru - Lensawisata.com

Selama hidupnya, Tuan Guru menghasilkan banyak kitab-kitab agama islam. Karya beliau diantaranya adalah Asrarus Shalah yang menceritakan mengenai solat, Fath al’alim yang menceritakan mengenai akidah ahlus sunnah wal jammah, dan risalah amal ma’rifah yang menceritakan mengenai akidah menurut pandangan Tasawuf.

cendramata yang bisa dibeli di pulau Sapat - Lensawisata.comSiapa yang menyangka, di kuala Sungai Indragiri, provinsi Riau, ada seorang ulama besar yang kearifan dan keilmuanya sangat diakui hingga ke Arab Saudi. BAW

Check Also

Pulau Pamutusan

Eksotisnya Pulau Pamutusan

Lensawisata.com, Dari pulau Pagang, Pesisir Selatan, Sumatera Barat. Kapal yang saya tumpangi bergerak menuju sebuah ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *