Wednesday , September 20 2017
Breaking News
Home / RUANG NUSANTARA / Kuliner Zaman Lampau di Pasar Gede Solo
Lenjongan, jajanan pasar khas kota Solo yang sudah dijual di pasar pada tahun 1930 an
Lenjongan, jajanan pasar khas kota Solo yang sudah dijual di pasar pada tahun 1930 an

Kuliner Zaman Lampau di Pasar Gede Solo

Lensawisata.com, “ Monggo mas, dipilih. Dipilih oleh-oleh ne.Monggo” ucapan ramah ibu pemilik kios oleh-oleh menyapa saya. Berjarak dua kios disebelah penjual oleh-oleh, suara tawar menawar harga jeruk tertangkap telinga. Para pembeli memenuhi hingga ke sudut-sudut pasar. Pagi yang sibuk di sebuah pasar di kota Solo.

Pasar Gede Solo yang merupakan salah satu karya arsitek Belanda
Pasar Gede Solo yang merupakan salah satu karya arsitek Belanda
Bagian luar pasar Gede Solo
Bagian luar pasar Gede Solo
bagian depan dari pasar Gede kota Solo, dilantai dua bangunan ini terdapat kios-kios yang juga menjual makanan khas kota Solo
bagian depan dari pasar Gede kota Solo, dilantai dua bangunan ini terdapat kios-kios yang juga menjual makanan khas kota Solo

 

bagian dalam dari pasar gede Solo
bagian dalam dari pasar gede Solo

 

bagian dalam dari pasar Gede Solo yang menjual bunga
bagian dalam dari pasar Gede Solo yang menjual bunga

Pasar yang saya datangi merupakan salah satu karya dari seorang arsitek Belanda bernama Herman Thomas Karsten. Pasar ini bernama Pasar Gede Hardjonagoro. Berada di kawasan Pecinan di Solo yang bernama Balong, atau di seberang Balaikota Surakarta.   Selain pasar gede, Karsten juga merancang pasar Johar di Semarang, Palembang, Bogor/Buitenzorg, Padang, dan Banjarmasin. Penamaan Hardjonagoro berasal dari nama seorang Tionghoa yang bergelar K.R.T. Hardjonagaro. Pasar Gede selesai dibangun pada tahun 1930 oleh Karsten.

penjual makanan yang ada di pasar Gede Solo
penjual makanan yang ada di pasar Gede Solo

 

pembeli antri membeli lendjongan di pasar Gede Solo
pembeli antri membeli lendjongan di pasar Gede Solo

 

Lenjongan, jajanan pasar khas kota Solo yang sudah dijual di pasar pada tahun 1930 an
Lenjongan, jajanan pasar khas kota Solo yang sudah dijual di pasar pada tahun 1930 an

 

Bejo, pegawai toko Podjok mengenalkan kopi yang sudah digiling
Bejo, pegawai toko Podjok mengenalkan kopi yang sudah digiling

Sejak berdiri hingga sekarang pasar Gede menjadi pusat perdagangan. Sebagian besar penjual di pasar ini adalah orang-orang Tionghoa yang ada di kota Solo. Selain bisa membeli berbagai komoditas seperti sembilan bahan pokok/sembako, ada beberapa hal menarik di pasar Gede sehingga pasar ini menjadi salah satu tujuan pejalan jika berada di kota Solo.

  1. Es dawet telasih.

Di pasar gede, kita bisa mencicipi es dawet yang sudah melegenda di kota Solo. Es dawet merupakan salah satu minuman khas kota Solo, es dawet dibuat dari campuran cendol, ketan itam, tape ketan, bubur sumsum, biji selasih. Campuran bahan-bahan ini berpadu dalam mangkuk kecil yang dicampur dengan cairan gula dan santan.

es dawet telasih pasar Gede Solo
es dawet telasih pasar Gede Solo

Saat dawet masuk kedalam mulut, rasa dingin dan segar dari es tertangkap lidah. Segar. Es dawet yang terkenal di Pasar Gede Solo, adalah es dawet telasih Bu Dermi. Sejak 1930-an es ini di jual di pasar gede. Jika es dawet bu Dermi sedang ramai dikunjungi, tenang saja, masih ada beberapa penjual es dawet di pasar ini.

Lenjongan merupakan salah satu jajanan pasar yang khas di pasar gede Solo. Lenjongan terdiri dari beberapa macam makanan. Tiwul, ketan itam, ketan putih, getuk, sawut, cenil, dan klepon. Adalah beberapa jajanan pasar yang menyusun lenjongan.

Lenjongan dominasi oleh jajanan yang terbuat dari singkong. Menurut cerita salah seorang penjual lenjongan bernama Yu Sum. Dominasi ini karena pada zaman kemerdekaan singkong merupakan menu pengganti nasi karena tidak ada pilihan saat itu. Lenjongan, sebagai salah satu jajanan pasar yang sudah dikenal sejak zaman penjajahan Belanda, terkena efek dari sulitnya kehidupan pada saat itu. Tepung singkong menjadi ciri khas dari jajanan yang ada di lenjongan.

 

  1. Toko Podjok.

Dari dalam pasar, saya berjalan kearah luar. Di sebelah kiri dari pintu masuk pasar, terdapat toko yang khusus menjual kopi bubuk. Bau kopi tercium jelas pada hidung saya saat masuk kedalam toko yang sejak 1945 sudah menjual bubuk kopi. Kopi yang dijual di toko merupakan arabika dan robusta yang berasal dari Jawa Timur.

bubuk kopi tjap angkring yang dijual di toko Podjok
bubuk kopi tjap angkring yang dijual di toko Podjok

Salah seorang pegawai di toko Podjok bernama Bejo menjelaskan kepada saya. Selain menjual kopi bubuk dengan berbagai macam harga. Toko Podjok juga menjual kopi sacet dengan merek kopi tjap angkring. Kopi tjap angkring dibungkus pada tempat yang terbuart dari kertas berukuran kecil berwarna abu abu.

Jika anda membeli kopi dalam bentuk biji dan melihat proses penggilingan, di toko Podjok ini merupakan pilihan yang tepat. Bejo, memperlihatkan kepada saya proses penuangan kopi kedalam mesin giling. “ Kalo mas mau ¼ kg , saya bisa gilingkan “ ujarnya. Harga kopi bubuk yang dijual di toko Podjok tidaklah mahal, Rp 40.000 sampai dengan Rp 16.000 tergantung kualitas biji kopi yang digiling.

biji kopi yang siap digiling di toko Podjok
biji kopi yang siap digiling di toko Podjok

Berkeliling di pasar Gede, Solo. Waktu terasa melambat. Es dawet, para penjual yang ramah, serta aroma kopi dari toko Podjok membuat saya sulit beranjak dari pasar ini. BAW

 

Check Also

Pulau Pamutusan

Eksotisnya Pulau Pamutusan

Lensawisata.com, Dari pulau Pagang, Pesisir Selatan, Sumatera Barat. Kapal yang saya tumpangi bergerak menuju sebuah ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *