Sunday , September 24 2017
Breaking News
Home / RUANG NUSANTARA / Riau / Lubang Kalam, Peninggalan Belanda di Kabupaten Kampar
lubang kalam lensa wisata
Bagian dalam lubang kalam, batu-batu cadas kokoh berada di bagian dalam terowongan. (BAW, Lensa Wisata)

Lubang Kalam, Peninggalan Belanda di Kabupaten Kampar

Lensawisata.com, Lubang Kalam, Peninggalan Belanda di Kabupaten Kampar, – Angka yang terbuat dari batu bertuliskan tahun 1929, terlihat jelas diatas mulut terowongan. Sebelum tiba di mulut terowongan, perbukitan yang didominasi dengan tanaman karet mengapit jalan yang saya lalui. Bau kotoran kelelawar singgah kehidung saat mobil yang saya tumpangi berhenti dikiri jalan.

Apakah anda pernah mendengar istilah lubang kalam/ lubang gelap? Istilah ini familiar bagi para pelintas jalan Pekanbaru – Padang pada tahun 1960 sampai tahun 1990-an akhir. Lubang kalam merupakan terowongan sepanjang tiga ratus meter yang menembus kawasan bukit barisan di Kabupaten Kampar. Terowongan bagian jalan penghubung antara Pekanbaru Padang sebelum melewati jalan kelok Sembilan, Kabupaten Lima Puluh Koto, provinsi Sumatera Barat.

Cerita dari lubang kalam berawal pada tahun 1920 sampai dengan 1930, pemerintah Belanda membangun jalan yang menghubungkan antara Sumatera Barat dan Sumatera Timur/ Provinsi Riau. Ruas jalan tersebut adalah jalan lintas Payakumbuh-Bangkinang-Pekanbaru, dan jalan lintas Kiliran Jao-Taluk Kuantan- dan Rengat. Alasan Belanda membuka jalan darat ini, karena daerah Timur Sumatera seperti Siak dan Indragiri Hulu/ Rengat yang sudah jatuh ke tangan Belanda memiliki potensi ekonomi yang lebih baik dari pada daerah Barat Sumatera.

Komoditas andalan Sumatera Barat seperti kopi dan kayu manis mutu dan jumlahnya menurun saat itu. Akibatnya, Belanda beralih ke pantai Timur Sumatera, dengan komoditas seperti timah, minyak bumi, sagu, kayu, dan karet. Jalan yang membelah kawasan Pegunungan Bukit Barisan ini menjadi urat nadi perdagangan antara Pantai Barat Sumatera menuju Singapura melewati pantai Timur Sumatera.

Setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia, jalan ini menjadi jalan lintas penghubung antara Pekanbaru-Padang. Setiap hari mobil-mobil perusahaan oto bus seperti Batang Kampar dan Sinar Riau silih berganti melewati jalan yang berkelok kelok dan sempit dan melewati lubang kalam. Namun , setelah peresmian bendungan PLTA Koto Panjang yang berada 500 meter dari lubang kalam, jalan ini tidak lagi digunakan. Hanya kelelawar dan pemancing yang melewati terowongan ini.

Mobil kami, pelan-pelan masuk kedalam lubang Suara cicit dari kelawar terdengar jelas. Mereka kaget dengan sinar lampu mobil. Batu-batu cadas kehitaman terlihat dilangit-langit lubang. Terowongan berumur 87 tahun ini masih kokoh berdiri. Namun dengan kondisi yang lembab.

Setelah keluar dari lubang kalam, lima ratus meter kearah sungai Kampar Kanan, terlihat outlet dari PLTA Koto Panjang. Pembangkit listrik berkapasitas 114 MW berdiri kokoh. Daerah tempat lubang kalam berada merupakan pertemuan antara Sungai Mahat dan Kampar Kanan. PLTA Koto Panjang menjadi salah satu pembangkit listrik di propinsi Riau.

Suara debur dari air terjun terdengar jelas, dari pinggir sungai Kampar Kanan, “ Ini baru satu pintu yang dibuka pak” ujar salah seorang pemancing yang berada di pinggir sungai. “ jika lima pintu PLTA dibuka semua, banjir di sini” sambungnya. Setelah PLTA berdiri, sungai Kampar kanan menjadi salah satu tempat memancing yang ramai dikunjungi di Riau. Ikan toman/snake head fish menjadi ikan favorit yang dipancing. Perbukitan yang denga hutan rimba membuat kawasan ini semakin menarik untuk dikunjungi. Lubang kalam dan PLTA Koto Panjang. Salah satu destinasi menarik dari Kampar. (BAW)

Check Also

Pulau Pamutusan

Eksotisnya Pulau Pamutusan

Lensawisata.com, Dari pulau Pagang, Pesisir Selatan, Sumatera Barat. Kapal yang saya tumpangi bergerak menuju sebuah ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *