Wednesday , October 18 2017
Breaking News
Home / RUANG NUSANTARA / Menelusuri Kota Bara di Barat Sumatera
salah-satu-koleksi-di-gudang-ransum-sawah-lunto_lensawisata-com

Menelusuri Kota Bara di Barat Sumatera

Lensawisata.com, Menurut sejarah nya, pada tahun 1868 seorang ahli geologi dari Belanda yang bernama Williem Hendrik de Gereve menemukan deposit batu bara yang besar di Sungai Ombilin. Akibat dari temuan ini, Belanda membangun berbagai fasilitas tambang di sini. Sekitar 5.5 juta Gulden di habiskan oleh Belanda untuk pembangunan, selain membangun, Belanda juga mendatangkan para pekerja yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Ada yang dari Jawa, Tionghoa, Ambon, Manado, Bugis, dan lain sebagai nya. Mereka rata rata adalah orang-orang yang dianggap bermasalah di kampung halamannya. Oleh karena itu, mereka dihukum, dijadikan pekerja paksa di tambang batu bara. Mereka dikenal dengan istilah orang rantai. Penamaan ini karena selama mereka bekerja, kaki mereka dirantai oleh Belanda. Hal ini untuk mencegah mereka lari dari tambang.

salah-satu-koleksi-di-gudang-ransum-sawah-lunto_lensawisata-com

Selain mendapatkan suguhan pemandangan indah, secara tidak langsung saya juga menyusuri jalur kereta api Padang – Sawah Lunto. Jalur yang zaman dahulu berperan untuk distribusi batubara dari Sawah Lunto menuju Pelabuhan Teluk Bayur Padang. Jalur ini di bangun oleh Belanda dengan biaya sekitar 17 juta Gulden. Pada awalnya jalur ini hanya sampai Muara Kalaban, pada tahun 1894 jalur ini masuk ke Sawah Lunto. Dampak dari dibangun nya jalur kereta api, ekspor baru bara yang berasal dari Sawah Lunto naik dengan sangat pesat dan pemasukan kas untuk Belanda menjadi besar. Usaha yang dulunya minus menjadi pemasukan penting bagi Belanda.

ketel uap yang dibawa dari Jerman yang berada di gudang ransum, Sawah Lunto_lensawisata.com

Mendekati maghrib. Tibalah saya di Sawah Lunto. Setelah perjalanan panjang dari kota Padang. Saya menginap di Hotel Ombilin. Pada tahun 1918, hotel ini dahulu adalah barak militer. Sebagai kota tambang yang dibuka oleh Belanda, Sawah lunto menawarkan nostalgia bangunan-bangunan tempo dulu. Beberapa bangunan di kota ini yang layak untuk dikunjungi adalah;

 

  1. Gedung administrasi PT Bukit Asam.

Gedung ini berdiri pada tahun 1916. Pada mula nya gedung ini berfungsi sebagai gedung administrasi kegiatan penambangan batu bara di Ombilin. Setiap hari gedung ini penuh dengan berbagai kesibukan para pegawai perusahaan.

Gedung Administrasi PT Bukit Asam Sawah Lunto, Sumatera Barat_lensawisata.com

 

  1. Lubang tambang mbah Soero.

Lubang ini adalah lubang yang di buka pertama kali oleh Belanda. Dibuka pada tahun 1898. Pemberian nama Mbah Soero ini karena dahulu yang bertugas sebagai mandor di lubang ini bernama Soero. Mandor Soero adalah seorang mandor yang di segani oleh para buruh dan orang orang sekitar. Ada sebuah paket wisata yang sangat unik dan lain dari pada yang lain. Di sini kita akan ditawarkan masuk kedalam lubang tambang. Kita akan berada 30 meter di bawah permukaan tanah.

lubang tambang yang menjadi wisata andalan kota Sawah Lunto_lensawisata.com

Sebelum tahun 2007 lubang ini di tutup. Hal ini di karenakan banjir yang mengisi lubang ini hingga penuh. Namun, mengingat tingginya nilai sejarah dari lubang ini. Pada tahun 2007 lubang ini dibuka kembali. Saya terlebih dahulu bertemu dengan pemandu wisata, bernama Win. Beliau adalah bekas karyawan dari PT Bukit Asam.

bagian dalam silo di kota Sawah Lunto_lensawisata.com.jpg

Selama berada di dalam lubang dengan panjang 135 meter, Win bercerita kepada saya mengenai sejarah dari orang rantai dan sejarah dari tambang batu bara. Banyak cerita kelam dari mereka yang di ceritakan oleh Win. Seperti mereka yang dikubur hidup-hidup jika sudah sakit keras, dipukulin mandor, dan berbagai macam cerita sedih lainnya. Di lubang tambang, saya bisa melihat seperti apa wujud batubara.

 

  1. Silo Batubara

Silo merupakan peninggalan Belanda yang dibangun pada tahun 1919. Terdapat tiga buah silo di kota Sawah Lunto, dengan ketinggian 80 meter. Batu bara yang disimpan di silo, nantinya akan disalurkan dengan menggunakan kereta api melewati kota Padang Panjang hingga pelabuhan Teluk Bayur. Jalur kereta api dari Sawah Lunto menuju Pelabuhan Teluk Bayur ini diselesaikan dalam beberapa segmen. Segmen Padang- Padang Panjang selesai pada tahun 1891, segmen Padang Panjang-Solok, Solok- Muara Kalaban, Padang- Emmahaven ( Teluk Bayur ) pada tahun 1892, dan Segmen Muaro Kalaban – Sawah Lunto selesai pada tahun 1894. 296,9 km panjang jalur ini.

Silo di Sawah Lunto_lensawisata.com

Kondisi Silo saat ini tidak lebih dari sebuah monumen sejarah. Hanya kotoran kelewar yang bisa kita temui di dalam Silo. Batu bara yang menjadi ikon dari Kota Sawah Lunto sudah menjadi kenangan.

 

  1. Gudang Ransum

Gudang ransum dahulunya berfungsi sebagai tempat makan bagi para pekerja. Di dalam gudang , kita bisa melihat penggorengan dengan ukuran yang sangat besar. Menurut cerita, wajan ini bisa di gunakan untuk masak 1000 porsi makanan dalam sekali masak.

foto lama mengenai kondisi para pekerja di lubang tambang kota Sawah lunto_lensawisata.com

Terdapat tiga wajan besar di sini. Dapat dibayangkan kondisi dapur pada zaman dahulu. Selain wajan yang besar. Juga terdapat ketel uap. Ketel uap yang diimpor dari Jerman ini menjadi saksi kehidupan pekerja pada zaman itu. Kehidupan di gudang ransum ini sama saja dengan kehidupan di dalam tambang. Keras. Siapa yang kuat dialah yang menang.

penggorengan berukuran raksasa di gudang ransum, Sawah Lunto_lensawisata.com

Selain penggorengan, ketel uap. Di gudang ransum yang sekarang difungsikan sebagai museum, saya bisa melihat berbagai macam diorama-diorama dari orang rantai. Baju yang terbuat dari kulit kayu, foto-foto tua, dan nisan-nisan bernomor dan tanpa nama menjadi saksi bisu kehidupan orang-orang rantai.

nisan-nisan tua tanpa nama, nisan ini merupakan tanda kuburan dari orang-orang rantai di kota Sawah Lunto_lensawisata.com

sketsa pekerja batu bara di kota Sawah Lunto_lensawisata.com

Menelusuri kota tua Sawah Lunto, ada cerita sendu dibalik kota yang dibangun Belanda ini. *BAW

Check Also

Pulau Pamutusan

Eksotisnya Pulau Pamutusan

Lensawisata.com, Dari pulau Pagang, Pesisir Selatan, Sumatera Barat. Kapal yang saya tumpangi bergerak menuju sebuah ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *