Friday , September 22 2017
Breaking News
Home / RUANG NUSANTARA / Mengunjungi Museum Purbakala Sangiran
replika-dari-kehidupan-di-lembah-sangiran-ratusan-ribu-tahun-yang-lalu_lensawisata-com

Mengunjungi Museum Purbakala Sangiran

Lensawisata.com, Museum purba Sangiran memiliki koleksi manusia purba dan berbagai macam benda arkeolog berupa fosil yang ada di Indonesia disimpan. Museum ini berada di wilayah administrasi Kecamatan Kalijambe. Kabupaten Sragen, Jawa Tengah. Museum Sangiran terletak diatas situs purbakala Sangiran yang  sudah ditetapkan UNESCO sebagai cagar budaya.

Fosil banteng purba yang ditemukan di Kawasan Sangiran berada di Museum Sangiran, Sragen_lensawisata.com
Fosil banteng purba yang ditemukan di Kawasan Sangiran berada di Museum Sangiran, Sragen_lensawisata.com

 

Fosil dari kuda nil purba yang ditemukan di Sangiran, jawa Tengah_lensawisata.com
Fosil dari kuda nil purba yang ditemukan di Sangiran, jawa Tengah_lensawisata.com

 

Sejarah museum ini berawal dari abad ke 19. Seorang ahli paleontologi Belanda bernama Gustav Heinrich Ralph von Koenigswald yang bekerja untuk Dienst van Mijnbouw van Nederlands Indië (Dinas Pertambangan Hindia Belanda)  menggali tanah di Sangiran, Dia menggali tanah setelah mendapatkan laporan mengenai adanya berbagai macam penemuan berbentuk tulang-tulang raksasa oleh masyarakat. Pada tahun 1934, dia menemukan temuan yang penting untuk ilmu Arkeologi. Penemuan ini adalah penemuan tengkorak manusia purba. Von Koningswald menyebutnya sebagai tengkorak “Sangiran II”, alasan penamaan ini kemungkinan karena jauh sebelum Von Koningswald menemukan tengkorak, pada tahun 1891 seorang ahli anatomi dari Belanda yang bernama Marie Eugène François Thomas Dubois sudah terlebih dahulu menggali tempat ini, namun Dubois tidak melakukan penggalian secara intensif di Sangiran. Dia mengalihkan penggalian ke Trinil. Jawa Timur.

Pintu masuk dari museum purbakala, Sangiran, Sragen. Jawa Tengah_lensawisata.com
Pintu masuk dari museum purbakala, Sangiran, Sragen. Jawa Tengah_lensawisata.com

 

Fosil kepala cro magnon di Museum Sangiran_lensawisata.com
Fosil kepala cro magnon di Museum Sangiran_lensawisata.com

Pada saat penggalian di Trinil,  Dubois menemukan  tengkorak yang berukuran besar. Dia memberikan nama Pithecanthropus erectus untuk jenis tengkorak yang ditemukan ini. Pithecanthropus erectus memiliki arti manusia kera yang berdiri tegak.  Koeningswald menemukan jenis tengkorak yang sama dengan yang di temukan oleh Dubois. Temuan penting lainnya oleh Dubois di Sangiran setelah tengkorak Pithecantropus adalah fosil tengkorak dan rahang bawah dari Meganthropus. Koenigswald menyebutnya dengan nama Meganthropus palaeojavanicus karena memiliki ciri-ciri yang berbeda dariPithecanthropus erectus. Di dalam proses penggalian dari tahun 1934 sampai dengan 1941 Koenigswald mengumpulkan setidaknya 60 fosil manusia purba.  Penemuan kedua ahli ini pada zamannya dijadikan  rujukan untuk mendukung teori Darwin  mengenai Evolusi manusia.

ilustrasi-sejarah-penelitian-manusia-purba-di-indonesia-pada-abad-ke-18-sampai-abad-20_lensawisata-com
Ilustrasi sejarah penelitian manusia purba di Indonesia pada abad ke 18 sampai abad 20_lensawisata.com

 

ilustrasi-dari-revolusi-manusia-yang-ada-di-museum-sangiran_lensawisata-com
ilustrasi dari revolusi manusia yang ada di museum Sangiran_lensawisata.com

 

perjalanan-evolusi-manusia-di-museum-sangiran_lensawisata-com
perjalanan evolusi manusia di museum Sangiran_lensawisata.com

Museum Sangiran memiliki 3 segmen, masing masing segmen memiliki koleksi yang berbeda. Segmen pertama menjelaskan koleksi mengenai hewan-hewan   yang pernah di temukan di Sangiran, saya melihat koleksi dari makhluk laut berupa moluska/ kerang kerangan. Dari keterangan yang ada, diperkirakan bahwa sekitar dua juta tahun yang lalu Sangiran adalah laut. Namun, karena proses geologi dan akibat letusan dari beberapa gunung berapi seperti Gunung Lawu, Gunung Merapi, dan Gunung Merbabu. Sangiran berubah menjadi daratan.

batu-meteorit-yang-jatuh-di-kawasan-sangiran-ratusan-ribu-tahun-yang-lalu_lensawisata-com
batu meteorit yang jatuh di kawasan Sangiran ratusan ribu tahun yang lalu_lensawisata.com

 

fosil-banteng-yang-ditemukan-di-sangiran-berada-di-museum-sangiran_lensawisata-com
fosil banteng yang ditemukan di Sangiran berada di museum Sangiran_lensawisata.com

 

fosil-buaya-muara-yang-ditemukan-di-sangiran-sagiran-dahulu-merupakan-lembah-yang-penuh-dengan-berbagai-macam-makhluk-hidup_lensawisata-com
Fosil buaya muara yang ditemukan di Sangiran, sagiran dahulu merupakan lembah yang penuh dengan berbagai macam makhluk hidup_lensawisata.com

Dari koleksi moluska, saya berjalan kearah kiri. Bagian ini tidak kalah menarik dari pada bagian moluska. Di sini terdapat fosil dari kepala buaya yang diletakkan di dalam kotak kaca. Fosil kepala buaya bentuknya lengkap. Susunan gigi, dan tekstur muka buaya dapat terlihat dengan mudah.

Segmen dua dari museum. Berupa peralatan-peralatan batu yang di gunakan oleh manusia purba ada zaman dahulu. Mata panah, kapak, pisau batu adalah beberapa koleksi yang dipamerkan. Selain koleksi peralatan bertahan hidup, di segmen dua museum saya bisa melihat koleksi tengkorak-tengkorak manusia purba yang ditemukan di sini dan juga di temukan luar daerah Sangiran seperti Trinil, China, dan Afrika.

fosil-homo-floresiensis-yang-ditemukan-di-flores-berada-di-museum-sangiran-jawa-tengah_lensawisata-com
fosil homo floresiensis yang ditemukan di Flores, berada di museum Sangiran, Jawa Tengah_lensawisata.com
kapak-yang-digunakan-oleh-manusia-purba-yang-menetap-di-sangiran-ratusan-ribu-tahun-yang-lalu_lensawisata-com
kapak yang digunakan oleh manusia purba yang menetap di Sangiran ratusan ribu tahun yang lalu_lensawisata.com

 

lapisan-batuan-yang-berada-di-sangiran_lensawisata-com
lapisan batuan yang berada di sangiran_lensawisata.com

 

replika-homo-erektus-di-museum-sangiran_lensawisata-com
replika homo erektus di museum sangiran lensawisata.com

Segmen ketiga merupakan bagian terbesar dari museum Sangiran. Disini kami bisa melihat berbagai macam grafik-grafik yang perjalanan dari perkembangan ilmu antropologi di Indonesia dan juga perjalanan kehidupan zaman purba di Indonesia. Di sini terdapat manusia purba yang sempat menjadi kontrofersi pada saat penemuannya. Manusia purba ini dikenal dengan sebutan Homo Florensies yang ditemukan di Luang Bua. Flores. Manusia purba ini memiliki ukuran tubuh yang mini/ kerdil. Saat penemuan specimen dari manusia purba ini terjadi sebuah perdebatan. Beberapa ahli menganggap bahwa spesimen ini berasal dari spesies bukan manusia. Namun setelah publikasi pada tahun 2009, terdapat argumen bahwa spesimen ini lebih primitif daripada Homo sapiens/ manusia sekarang dan berada pada wilayah variasi Homo erectus. Hasil kajian tersebut menunjukkan bahwa Homo floresiensis tidak dapat dipisahkan dari Homo erectus dan berbeda dari Homo sapiens. Di dalam museum ini, Homo florensis ini dibuat tiruan dengan kondisi yang sama seperti pada saat mereka hidup dahulu. *BAW

Fosil kepala homo erectus yang ditemukan di Sangiran_lensawisata.com
Fosil kepala homo erectus yang ditemukan di Sangiran_lensawisata.com

Check Also

Pulau Pamutusan

Eksotisnya Pulau Pamutusan

Lensawisata.com, Dari pulau Pagang, Pesisir Selatan, Sumatera Barat. Kapal yang saya tumpangi bergerak menuju sebuah ...

One comment

  1. Bagi pecinta sejarah mungkin bisa mampir juga ke museum Kailasa Dieng…mekipun tidak sebesar di museum Sangiran 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *