Wednesday , October 18 2017
Breaking News
Home / RUANG NUSANTARA / Riau / Masjid Syahabuddin dan Sultan Syarif Kasim
Mesjid Syahabuddin dan Sultan Syarif Kasim 1-lensawisata.com

Masjid Syahabuddin dan Sultan Syarif Kasim

Lensawisata.com, “Allaahuakbar, Allahuakbar” suara azan Zuhur berkumandang. Langkah kaki bergegas menuju bangunan yang berdiri kokoh di tepi Sungai Siak. Lantai marmer bewarna putih terlihat mencolok, sama seperti tembok bangunan yang dicat bewarna kuning. “ Brrrr” dingin nya air wudhu terasa di kulit muka. Panas terik kota Siak siang itu menjadi ternetralisir.

Mesjid Syahabuddin dan Sultan Syarif Kasim 2 - lensawisata.com

Bamgunan ini sudah berdiri dari tahun 1882, pada masa pemerintahan sultan Siak XI, Sultan Syarif Kasim., beliau merupakan Sultan Siak X yang bergelar Sultan Assyaidis Syarif Kasim Abdul jalil Syariffuddin.

Beliau mendirikan bangunan masjid di zaman pemerintahannya 1864-1889. Mesjid ini dibangun dengan aristektur sederhana yang terbuat dari kayu. Pada zaman pemerintahan Sultan Siak terakhir, Syarif Kasim II, masjid yang dahulu berada di jalan Sultan Syarif Kasim/ Sultan Syarif Kasim strat dipindahkan ke Jalan Sultan Ismail / Ismail strat yang berada di tepi Sungai Siak. Mesjd Syahabuddin dibangun kembali, proses pembangunan mesjid ini dibangun dari tahun 1926 sampai dengan tahun 1935. Nama dari bangunan ini adalah masjid Syahabuddin. Jika dilihat dari penamaan, Syahabuddin ini adalah penggabungan dua nama. Menurut buku Mesjid Mesjid Bersejarah di Nusantara, karangan Abdul baqir Zein, Syahabuddin ini berasal dari dua bahasa, Syah merupakan bahasa Parsi/Persia yang berarti penguasa dan Ad-din merupakan bahasa Arab yang memiliki arti agama.

Mesjid Syahabuddin dan Sultan Syarif Kasim 4 - lensawisata.com

Dana pembangunan masjid ini didapatkan dari dana kerajaan Siak dan juga partisipasi masyarakat Siak. Ada yang unik dalam pembangunan masjid yang memiliki bentuk arsitektur pencampuran antara Eropa Barat dan Turki ini, di dalam pelaksanaan pembangunan masjid, pembuatan pondasi masjid dilakukan secara gotong-royong oleh kaum ibu. Penimbunna ini dilakukan pada malam hari. Meskipun dalam masa pemerintahan Sultan Syarif Kasim II berlaku adat pingitan, namun sultan tidak melarang kaum perempuan untuk terlibat dalam pembangunan mesjid.

Mesjid Syahabuddin dan Sultan Syarif Kasim 3 - lensawisata.com

Di dalam mesjid, udara dingin dari penyejuk ruangan menyapu muka. Pilar-pilar masjid yang diselimuti beton terlihat sangat kokoh. Sebelum melaksanakan ibadah solat zuhur, sebuah mimbar menarik perhatian. Mimbar ini didatangkan langsung oleh Sultan Syarif Kasim II dari kota Jepara. Mimbar yang terbuat dari jati ini sudah ada sejak masjid berdiri.

Pada masa pemerintatahan Sultan Syarif Kasim II, yang menjadi takmir dari masjid ini adalah Mufti Haji Abdul Wahid, beliau adalah seorang mufti di masa Kesultanan Siak dan tercatat sebagai deklarator pembentukan Provinsi Riau, selanjutnya beliau digantikan oleh Fakih Abdul Muthalib.

Dari tahun 1935 hingga tahun 2015, masjid ini mengalami beberapa kali renovasi. Pada tahun 1963, dan pada tahun 2003. Renovasi masjid sebatas menambah teras di kiri dan kanan masjid.

Sebelum meninggalkan komplek mesjid Syahbuddin, saya bergeser ke bangunan yang berada di sebelah kanan mesjid. Bangunan ini adalah kuburan dari Sultan Siak terakhir yang bernama Sultan Syarif Kasim II. Syarif Kasim adalah sultan ke-12 Kesultanan Siak. Syarif Kasim II dipercayai sebagai sultan pada umur 21 tahun menggantikan ayahnya Sultan Syarif Hasyim. Sultan Syarif Kasim II merupakan seorang pendukung perjuangan kemerdekaan Indonesia. Tidak lama setelah proklamasi Syarif Kasim menyatakan Kesultanan Siak sebagai bagian wilayah Indonesia, dan dia menyumbang harta kekayaannya sejumlah 13 juta gulden, jika dikonversi saat sekarang, Sultan Syarif Kasim II menyerahkan harta pribadinya sebesar Rp 1.03 Trilyun untuk pemerintah Republik Indonesia saat itu. Bersama Sultan Serdang dia juga berusaha membujuk raja-raja di Sumatera Timur lainnya untuk turut memihak republik indonesia. Perjuangan Sutan Syarif Kasim II dapat dikatakan sama dengan perjuangan yang dilakukan oleh Sultan Yogyakarta dalam membantu Republik ini disaat Indonesia baru merdeka. Sehingga, Presiden Sukarno mempercayakan Sultan Syarif Kasim II sebagai penasihat pribadi beliau saat itu. Sultan Syarif Kasim II wafat di Rumah Sakit Chevron, di Rumbai pada tanggal 23 April 1968. Di samping makam beliu, juga terdapat makam isteri dan keluarga kerajaan.

Panas terik sinar matahari mengantarkan saya meniggalkan kompleks mesjid Syahabuddin. Mesjid Syahabuddin dan makam Sultan Syarif Kasim II, salah satu saksi sejarah kerajaan Siak yang masih berdiri dengan kokoh. BAW

 

 

Check Also

Pulau Pamutusan

Eksotisnya Pulau Pamutusan

Lensawisata.com, Dari pulau Pagang, Pesisir Selatan, Sumatera Barat. Kapal yang saya tumpangi bergerak menuju sebuah ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *