Wednesday , September 20 2017
Breaking News
Home / RUANG NUSANTARA / Museum Timah Bangka dan Cerita Sultan Ismail Siak
1 (1)

Museum Timah Bangka dan Cerita Sultan Ismail Siak

Lensawisata.com, Museum Timah Bangka dan Cerita Sultan Ismail Siak, – “Silahkan masuk Pak”,suara ramah dari Taufik, petugas museum menyapa saya. “ Selamat datang di museum Timah, Bangka Belitung”. Baju berwarna abu abu dengan emblem PT Timah terlihat mencolok saat dia menyambut kedatangan saya. Pulau Bangka dan Belitung yang berada di timur Sumatera Selatan, adalah pulau penghasil timah terbesar di dunia. Pulau Bangka, pulau Belitung, bersama dengan pulau Kundur, Singkep, Kepulauan Riau serta Selat Panjang, Riau tergabung dalam gugusan sabuk timah/ tin belt yang sejak abad ke 17 sudah dieksplorasi.

Museum timah, menempati gedung administrasi dari Hoofdt Administrateur Banka Tin Winning ( BTW ) yang berada di jalan Ahmad Yani no 179, Pangkal Pinang. Museum ini menyimpan sejarah perjalanan timah yang ada di Pulau Bangka. Museum ini dahulunya adalah rumah singgah dari Soekarno dan Agus Salim. Di tahun 1949, museum ini menjadi tempat perundingan Soekarno dengan UNCI (United Nations Commission for Indonesia) sehingga lahirlah perundingan Roem-Royen tanggal 7 Mei 1949. Di tahun 1959, rumah ini dijadikan museum dengan tujuan mencatat sejarah pertimahan di pulau Bangka Belitung dan memperkenalkannya di masyarakat. Museum ini resmi dibuka sekaligus diresmikan pada 2 Agustus 1997.

Taufik menjelaskan kepada saya, sejarah penemuan Timah di pulau Bangka, dimulai sekitar tahun 1709 di Sungai Olin, Kecamatan Toboali, Bangka Selatan, oleh orang-orang Johor yang saat itu juga sudah menambang timah di Semenanjung Malaka. Saat tambang timah semakin maju, Sultan Palembang, Sultan Muhammad Mansur Jayo Ing Lago ( 1706-1714 ) mengutus orang orangnya ke negeri China untuk mencari tenaga tenaga kerja ahli dalam mengolah timah.

Setelah melihat hasil timah di Pulau Bangka yang saat itu mulai menjanjikan, sekitar tahun 1722 VOC mengadakan perjanjian monopoli perdangangan timah dengan Sultan Ratu Anum Kamaruddin. Dalam perjalanannya, timah yang berasal dari pulau Bangka sudah menjadi komoditas andalan. Bahkan, bajak laut di gugusan pulau tujuh, kepulauan Riau, ikut mengincar timah-timah ini.

Dalam buku “Contesting Malayness: Malay Identity Across Boundaries, sub judul Raja Ismail and Siak Violence, Siak and the transformation of Malay Identity in the Eighteen Century” yang ditulis oleh Timothy P Barnard. Dijelaskan, Sultan Ismail atau yang dikenal dengan nama Sultan Ismail Abdul Jalil Syah yang merupakan sultan ketiga dan keenam dari kerajaan Siak.

Sebelum dinobatkan menjadi raja adalah bajak laut yang ditakuti di Semenanjung Malaka. Di tahun 1767, Sultan Ismail mendapatkan bantuan dari Sultan Palembang sebesar 1000 pikul perak. Perak ini adalah imbalan kepada Sultan Ismail sebagai uang jaminan karena armada laut Sultan Ismail menjaga perairan disekitar pulau Bangka dari serangan para bajak laut. Selain mendapatkan imbalan, Sultan Palembang juga mengizinkan bangsawan kerajaan Siak, untuk membuka tambang-tambang timah di Pulau Bangka.

Dari koridor yang menjelaskan perjalanan timah di Pulau Bangka. Taufik membawa saya ke koridor tengah. Di koridor ini terlihat alat-alat yang dahulu digunakan oleh penambang timah. Mereka dinamakan orang-orang parit. Istilah ini berasal dari para pekerja timah dari China yang berkerja di saluran saluran tambang timah yang berukuran seperti parit atau selokan. Para pekerja ini menggunakan alat alat sederhana seperti cangkul dan serok yang terbuat dari kayu. Di koridor ini, saya juga melihat bor Bangka, bor ini merupakan bor temuan dari ahli Geologi Belanda, J. E Akkeringga. Dia seorang geolog dari perusahaan Belanda, Banka Tin Winning ( BTW ). Alat temuan dari J. E Akkeringga menjadikan alat bor tusuk dari Tiongkok tergantikan.

Selain alat bor, juga terdapat alat survei geologis yang sudah maju. Bagian paling menarik dari koridor tengah ini adalah bahan-bahan tanah jarang atau logam tanah jarang yang merupakan hasil sampingan dari industri timah. Bahan-bahan seperti zirkon dan monasit dengan gamblang diperlihatkan dalam rak yang ditutup oleh kaca. Menurut Taufik, bahan bahan ini yang sekarang berusaha diselamatkan oleh negara. Bahan tanah jarang memiliki potensi yang besar. Zirkon dan monasit merupakan bahan baku untuk industri elektronik seperti pembuatan papan sirkuit, komponen elektronik, bahkan bisa menjadi sumber bahan baku industri radio aktif., “Bahan bahan ini, sebelum diselamatkan seperti sekarang, hanya bernilai kurang dari Rp 50.000,- per kg nya. Padahal di luar negeri bisa mencapai jutaan rupiah per kg”, entah apa maksud dibalik senyum Taufik saat menjelaskan.

Koridor ketiga yang merupakan koridor terakhir dari museum, terdapat sebuah diorama yang menceritakan perjalanan orang orang parit selama di Bangka. Para pekerja laki laki yang berasal dari Tionghoa ini dibawa Belanda saat mereka mulai diberikan izin monopoli industri timah. Menurut buku “Coolie Labor in Colonial Indonesia”, jumlah populasi orang-orang parit pada tahun 1921 di pulau Bangka saja sebanyak 21.000 jiwa.

Mereka datang dan berkerja sebagai buruh di perusahaan Belanda. Baik itu di Banka Tin Winning ( BTW ) dan juga di Gemmenschappelijke Mijnbouwwonderneming Billiton ( di Pulau Belitung ). Orang orang parit yang datang ke Pulau Bangka ini dibawa dari Hongkong menggunakan kapal ke Singapura. Di Singapura, mereka akan “disalurkan” ke Bangka. Para pekerja ini membawa hutang yang harus mereka bayar kepada para “ sponsor “ sebesar 51.20 Gulden,bahkan di tahun 1920, nilai ini meningkat menjadi 176 gulden. Sesampainya di Bangka, mereka tidak dibayar dengan uang melainkan dengan candu dan perempuan. Orang-orang parit inilah cikal bakal akulturasi antara Melayu dan Tionghoa di Provinsi Bangka Belitung. “Itulah mengapa, kami orang orang Bangka terlihat mirip orang Tionghoa” Ujar Taufik.

Meninggalkan museum yang dikelola oleh PT Timah, memberikan pertanyaan pada diri saya. Jika di Sawah Lunto ada museum orang-orang rantai, di Bangka ada museum Timah, apakah mungkin di Riau, ada museum minyak bumi dan romusha. (BAW)

Check Also

Pulau Pamutusan

Eksotisnya Pulau Pamutusan

Lensawisata.com, Dari pulau Pagang, Pesisir Selatan, Sumatera Barat. Kapal yang saya tumpangi bergerak menuju sebuah ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *