Friday , September 22 2017
Breaking News
Home / LIFE STYLE / Tradisi Nyete Warung Kopi Lasem
kopi lasem
Ritual membatik/nyete dimulai pada sebatang rokok. (BAW, Lensawisata.com)

Tradisi Nyete Warung Kopi Lasem

Lensawisata.com,  Tradisi Nyete Warung Kopi Lasem, – Jika kita ke Lasem, desa di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Setelah menyusuri lorong- lorong desa yang penuh dengan bangunan tua peninggalan kejayaan masyarakat Tionghoa, setelah mata dimanjakan oleh detail -detail dan warna merah menyala dari batik Lasem. Saatnya kita beristirahat sejena, tempat yang tepat untuk beristirahat di kota ini adalah warung kopi. Kenapa? Karena di warung kopi di Lasem kita akan melihat tradisi unik yang berhubungan dengan kopi, rokok dan batik.

Sebelum melihat tradisi ini, terlebih dahulu, kita memesan segelas kopi. Di Lasem, kopi ini disebut kopi lelet. Kopi lelet adalah kopi khas kota Lasem. Kopi ini bertekstur halus, kental dan agak asam karena menggunakan kopi robusta. Keunikan kopi lelet adalah setelah segelas kopi ini tandas dan menyisakan ampas didasar gelas.

Tradisi unik setelah minum kopi bagi masyarakat Lasem dikenal dengan nyete. Nyete adalah kegiatan membatik di atas rokok. Tradisi ini agak berbeda dengan tradisi yang ada di warung-warung kopi yang biasanya saya lihat. Biasanya, di warung kopi, sebagai teman minum segelas kopi adalah obrolan panjang ngalor ngidul. Sedangkan di Lasem, tradisi ngobrol ini di tambah dengan membatik.

Ritual nyete dimulai dari, ampas kopi yang halus akan dikeluarkan dari gelas kopi dan diletakkan ke tatakan gelas. Setelah berada di atas tatakan ditambahkan sedikit susu kental manis. Susu kental manis ini berfungsi sebagai perekat antara kertas rokok dan bubuk kopi. Setelah dirasa cukup kental. Dengan menggunakan tusuk gigi bahkan benang, dimulailah proses membatik.

Tidak ada motif yang mengikat dalam membatik ini. Masing masing orang memiliki motif sendiri. Ada yang sederhana berupa pola garis garis, dan ada yang bermain dengan motif-motif batik Lasem. Dengan penuh konsentrasi mereka berkreasi, Ada yang menganalogikan proses ini sama seperti mereka membatik di atas kain. “ Beda media nya saja” Kata beberapa orang pegunjung di Warung kopi. Setelah membatik selesai. Hasil karya berupa sebatang rokok yang penuh dengan gambar sudah siap di hisap. Rasa nya? Menurut para pemuda yang berada di warung kopi “ Mantap “.

Ada sedikit pahit dari kopi yang masuk kedalam rokok. Menurut pemilik warung kopi yang bernama Pak Karjin. Kunci kenikmatan nyete berada pada kopi. Untuk mendapatkan ampas kopi yang halus. Kopi ini harus digiling berkali kali. Bisa enam sampai tujuh kali penggilingan.

Hasil dari penggilingan ini adalah bubuk kopi halus yang bisa digunakan untuk nyete. Memang proses ini lebih boros. Sebagai gambaran saja, dari satu kilogram biji kopi setelah mengalami proses penggilingan berkali kali ini menjadi 500 gram bubuk kopi. Penyusutan yang terjadi cukup besar. Namun, dari bubuk halus ini tradisi nyete ada.

Selain menyajikan kopi lelet. Di warung kopi yang berada di Lasem, kita juga bisa mencari makanan ringan seperti mie rebus, mie goreng bahkan jajanan pasar. Warung kopi di Lasem adalah pilihan yang tepat untuk beristirahat setelah mengelilingi kota. Selain kita bisa melihat tradisi unik Lasem. Kita juga bisa melihat wujud akulturasi antara Tonghoa dan Pribumi di sini. Tua, muda, China,Pribumi, bergabung dan larut dalam batik, kopi dan rokok mereka. (BAW)

Baca juga : Pesona Batik Lasem

Check Also

Lomba Foto #RiauTheHomelandOfMelayu

Lomba Foto #RiauTheHomelandOfMelayu

LOMBA FOTO  INSTAGRAM #RiauTheHomelandOfMelayu TEMA: RIAU HOMELAND OF MELAYU KATEGORI Ragam Budaya Riau Air Terjun ...

3 comments

  1. Terimakasih atas infonya, web inii menambah ilmu baru untuk saya. Saaya tunggu info terbarunya ya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *