Wednesday , October 18 2017
Breaking News
Home / RUANG NUSANTARA / Pariwisata Tetirah di Hutan Monyet Ubud – Bali
monyet-ekor-panjang-di-monkey-forest-ubud_lensawisata-com

Pariwisata Tetirah di Hutan Monyet Ubud – Bali

Lensawisata.com, Seekor monyet pelan-pelan mendekati kaki saya, salah seorang penjaga dengan sigap memberi jarak antara saya dan monyet. Dia berkata, “ tenang saja mas, monyet-monyet di hutan ini tidak mengganggu. Oh iya, silahkan membeli tiket disana” ujarnya. Rp 40.000 tiket masuk, dan saya disambut oleh monyet-monyet yang hilir mudik kesana kemari di tangga masuk.

The sacred monkey forest santruary atau Mandala Suci Menara Wana merupakan nama tempat yang saya datangi. Tempat ini adalah hutan konservasi untuk monyet-monyet ekor panjang/Macaca fascicularis. Hutan seluas 27 Ha ini berada di desa Padangtegal, Ubud, Bali.   Mandala Suci Menara Wana merupakan hutan konservasi ini menggunakan konsep tri hita karana.

 

Konsep ini memiliki makna melestarikan keaneka ragaman budaya dan lingkungan di tengah hantaman globalisasi dan homogenisasi. kata “Tri” memiliki arti tiga, “Hita” memiliki arti kebahagiaan dan “Karana” memiliki arti penyebab. Dengan demikian Tri Hita Karana berarti “Tiga penyebab terciptanya kebahagiaan”. Pada dasarnya hakikat ajaran tri hita karana menekankan tiga hubungan manusia dalam kehidupan di dunia. Ketiga hubungan itu meliputi hubungan dengan sesama manusia, hubungan dengan alam sekitar, dan hubungan dengan ke Tuhan yang saling terkait satu sama lain. Setiap bulan, kurang lebih 10.000 wisatawan lokal dan asing berkunjung disini.

Dari pintu masuk, saya menuju pelataran besar tempat sebuah pura yang bernama pura Dalam Agung berada. Pura ini merupakan pura terbesar yang ada di Mandala Suci, pura ini bertujuan untuk memuja Sang Hyang Widhi yang dipersonifikasikan dalam wujud dewa Siwa. Pintu pura Dalam Agung tidak dibuka, hal ini bertujuan menjaga kesucian dari pura, namun dalam perayaan hati suci umat Hindu, pura ini akan dibuka. Umat hindu di Ubud melaksanakan acara keagmaan disini.  Pada bagian dinding pura, saya bisa melihat patung-patung yang berwujud sosok perempuan, anjing, dll. Patung-patung ini tertutup oleh lumut. Monyet-monyet ekor panjang bermain diatas atap dan halaman pura. Beberapa turis asing memberikan makan pisang rebus yang disediakan. Jika ingin memberikan makanan pada monyet disini, sebaiknya diawasi oleh para penjaga. Meskipun sering melihat manusia, sisi liar monyet-monyet ini masih ada. Di dalam hutan konservasi terdapat tiga pura. Pura Dalam Agung, pura Beji, dan pura Prajapati. Pura-pura ini memiliki fungsi penyucian dan pemujaan kepada Sang Hyang Widhi.

Peta Pariwisata Tetirah di Hutan Monyet Ubud – Bali

Jembatan kayu adalah tujuan saya selanjutnya,, di dalam hutan ini, terdapat jembatan kayu sepanjang kurang lebih 800 meter. Jembatan ini berada di tengah lembah dengan kayu-kayu berukuran besar yang mengapit di sisi kiri dan kanan. Telinga saya menangkap suara air mengalir saat berada di atas jembatan kayu. Selain suara air, riuh rendah suara monyet juga tertangkap telinga. Ujung jembatan ini adalah pohon beringin berukuran raksasa. Pohon besar yang disakralkan ini sepertinya sudah berumur ratusan tahun. 50 meter dari pohon beringin, terdapat mata air yang dipagari. Mata air ini berfungsi sebagai tempat penyucian. Beberapa tamu asing mengabadikan sosok beringin dengan akar berukuran besar yang menjuntai.

Mengikuti jalan setapak yang berada disisi kanan pura, saya meligat sungai kecil yang menjadi sumber suara air mengalir tadi. Mata saya dimanjakan pemandangan indah dari lembah di hutan ini.

Jika anda ingin merasakan suasana bali yang jauh dari riuh rendah pesta. Mandala Suci Menara Wana adalah pilihan yang tepat. *BAW

Check Also

Pulau Pamutusan

Eksotisnya Pulau Pamutusan

Lensawisata.com, Dari pulau Pagang, Pesisir Selatan, Sumatera Barat. Kapal yang saya tumpangi bergerak menuju sebuah ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *