Wednesday , October 18 2017
Breaking News
Home / RUANG NUSANTARA / Menelusuri Gang Pasar Barang Antik Solo
pasar antik
Kamera tua dan lampu antik di pasar Triwindu Solo. (BAW, Lensawisata.com)

Menelusuri Gang Pasar Barang Antik Solo

Lensawisata.com, Menelusuri Gang Pasar Barang Antik Solo, – Pasar ini terletak di depan Pura Mangkunegara Solo,Provinsi Jawa Tengah. Pasar ini berbeda, mereka menjual berbagai macam barang antik. seperti nisan kuburan dari zaman Belanda, sepeda ontel, gramafon dan berbagai macam barang tua lainnya. Pasar ini bernama pasar Triwindu.

Pasar Triwindu berdiri pada tahun 1939 untuk memperingati berdirinya Pura Mangkunegara oleh Raja Solo, Mangkunegara VII. Pasar ini terdiri dari dua lantai dengan arsitektur Jawa pada atapnya. Lantai satu dan lantai dua menjual berbagai jenis barang antik. Pasar ini selalu ramai di kunjungi oleh pengunjung lokal maupun asing. Tidak semua pengunjung yang datang ke pasar akan membeli berbagai macam koleksi di pasar ini, ada juga yang berkunjung untuk melihat berbagai macam jenis barang antik yang dijual.

Saat kedatangan saya di pasar, mata angsung tertumbuk dengan nisan dari batu pualam putih. Sebuah tulisan dari bahasa Belanda terdapat di atas nisan “ Hier Rust. On Heliefde Zuzter. H van Polanen Petel” tulisan Belanda yang saya baca, nisan ini bertahun 1839. Di sebelah kanan batu nisan, terdapat papan merek dagang rokok. Papan berwarna hijau ini bertuliskan “ Rokok Klobot. Tjap Djempol, Koedoes 1940”. Usia kedua benda ini lebih tua dari saya.

            Perasaan saya saat itu seperti anak-anak yang sedang berada di dalam taman bermain, karena banyaknya barang-barang antik yang ada.  Tidak jauh dari nisan dan papan rokok,terdapat kios yang menjual barang antik berupa topeng. Topeng-topeng ini terbuat dari kayu. Topeng ini di letakkan berdampingan dengan lukisan wayang.

Di sebelah kios yang menjual topeng kayu, ada sebuah kios yang di kunjungi oleh turis asing. mereka mencari koleksi yang sedang booming. Koleksi tersebut adalah cetakan batik. Menurut pemilik kios yang bernama Damiyem, cetakan batik ini berasal dari pabrik-pabrik batik yang berada di sekitar sentral batik Kauman dan Laweyan, Solo. Harga dari cetakan ini sekitar Rp 450.000,- dan itu adalah harga pas. “ Nggak bisa kurang mas, udah segitu” ujar Damiyem

Selain patung tua dan cetakan batik. Di lantai satu pasar, menjual Gramafon, brankas tua dari tahun 1940-an yang di buat di Surabaya, kamera kamera analog, wayang kulit,sepeda onthel, fosil-fosil yang berasal dari Sangiran, dan Vespa.

Eits, jangan lupakan lantai dua dari pasar Triwindu. Sebagian besar koleksi yang di jual di lantai dua adalah perlengkapan makan yang terbuat dari besi. Saya bisa melihat teko, piring, cangkir. Perlengkapan makan ini bersanding dengan kaleng-kaleng kerupuk yang juga dijual di sini. Kaleng-kaleng kerupuk juga menjadi incaran dari tamu-tamu asing yang sering datang ke pasar. Mereka tertarik dengan warna warni cat dari kaleng kerupuk. Kaleng kerupuk yang sebagian besar berasal dari Solo sudah terbang ke Belanda, Malaysia,Jerman,Inggris, bahkan Amerika Serikat.

Menurut Damiyem, koleksi-koleksi yang di jual di pasar ini masih bergantung dengan para pengepul barang antik yang akan menjual kembali ke para pedagang dengan harga yang mahal. Kedatangan barang-barang antik ini sering tidak pasti, akibatnya ketersediaan barang-barang antik di pasar mulai menipis. Untuk mengatasi hal tersebut, para pedagang biasa nya membuat replika dari beberapa barang antik. Sayang nya, untuk  membedakan antara  yang asli dan mana yang replika, Damiyem tidak mau memberi petunjuk kepada saya. “ Tergantung kejelian mas saja” ujar nya sambil tersenyum. (BAW)

Check Also

Pulau Pamutusan

Eksotisnya Pulau Pamutusan

Lensawisata.com, Dari pulau Pagang, Pesisir Selatan, Sumatera Barat. Kapal yang saya tumpangi bergerak menuju sebuah ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *