Wednesday , September 20 2017
Breaking News
Home / RUANG NUSANTARA / Pagi Hari di Beringharjo
beringharjo
Kuli panggul di pasar Beringharjo, selain kuli panggul Perempuan, juga terdapat kuli panggul laki-laki di pasar ini. (BAW, Lensa Wisata)

Pagi Hari di Beringharjo

Lensawisata.com, Pagi Hari di Beringharjo, – Pagi hari di Yogyakarta biasanya kita bingung akan pergi kemana. Sebagian besar objek wisata seperti Candi Prambanan, Taman Sari, dan Kraton. Buka pada pukul 08.30. Sebelum itu, biasa nya tidur tiduran di penginapan atau mencari sarapan di sekitar jalan Malioboro, di depan stasiun Tugu menjadi pilihan.

Jika anda ingin mencoba suasana berbeda pagi hari di Yogyakarta, cobalah berkunjung ke Pasar Beringharjo. Di lantai satu, tepat nya pada los yang menjual batik, para pembeli berbaur dengan para penjual. “Kemeja mas, Rp 45.000 saja. Penglaris pagi”. “Nyari apa mas, daster,kemeja,batik tulis. Ayo diliat liat dulu. “, “ Kurang ya pak kemeja nya, Rp 30.000 saja satu. Nanti saya beli tiga deh. “.  Suara penjual dan pembeli silih berganti masuk ke telinga saya selama  menelusuri gang di pasar ini.

Beringharjo adalah nama sebuah pasar   di Malioboro. Pasar ini telah ada dari tahun 1758. Pada mula nya kawasan pasar ini adalah hutan beringin. Tidak lama setelah Kraton Yogyakarta berdiri, wilayah yang dahulunya adalah hutan dijadikan sebagai tempat transaksi ekonomi oleh masyarakat Yogyakarta dan warga sekitar nya. Pada tahun 1925 barulah tempat ini memiliki bangunan permanen.

Nama Beringharjo diberikan oleh Hamengkubuwono IX artinya wilayah yang semula pohon beringin ( bering) diharapkan memberikan kesejahteraan (harjo). Sekarang, pasar ini berubah menjadi pasar 3 tingkat yang berukuran besar. Masing-masing tingkat menjual bermacam komoditas. Dapat dikatakan Beringharjo adalah pasar terlengkap di Yogyakarta.

Dari keriuhan transaksi yang terjadi di lantai 1. Saya berjalan menuju bagian Selatan pasar. Di sini terdapat lorong yang menjadi tempat para penjual barang barang antik. Barang- barang yang mereka jual berupa patung kepala Budha yang terbuat dari kuningan, frame kacamata lawas, setrika tua dengan pemanas arang, serta  kaset-kaset tua. Dengan Rp 15.000 saya sudah bisa membawa album Rolling Stone “Steel Wheel” dan Album Soneta yang berisikan lagu-lagu raja dangdut Rhoma Irama.

Dari gang, saya berjalan ke lantai dua pasar. Di sini keriuhan transaksi perdagangan sama seperti di lantai satu. Saat berada di lantai dua , tercium bau harum dari jahe dan kayu manis. Jika ingin mencari bahan-bahan membuat jamu lantai dua pasar Beringharjo adalah tempatnya. Kayu manis, kapulaga,jahe, dan rosella adalah beberapa jenis komoditas yang dijual. Saat dilantai dua ini, ada suara tawa yang mengalihkan perhatian.

Suara tawa ini berasal dari suara tukang panggul. Para tukang panggul di pasar  Beringharjo adalah perempuan- perempuan yang berusia dari 40 sampai 50-an tahun. Mereka  datang dari subuh dan pulang sore hari. Sehari-hari pendapatan mereka tidak pasti. Tergantung dari ramainya transaksi yang terjadi di pasar.

Dari keriuhan para pemanggul barang, dan masih di lantai dua. Saya berjalan terus kearah Timur. Langkah saya terhenti setelah mencium bau harum masakan. Di lantai dua pasar Beringharjo  terdapat los-los kecil yang menjual berbagai jenis makanan. Beberapa los yang terkenal adalah los Gado-gado Bu Hadi dan los Daging Empal Bu Warno. Kedua los ini saling berhadap hadapan. Saya akan mencoba salah satu warung makan ini setelah menjemput teman saya selesai “ bertempur” dengan para penjual batik.

Dari lantai dua, saya naik ke lantai tiga. Lantai tiga pasar Beringharjo memiliki kondisi nya agak berbeda dari dua lantai yang saya datangi sebelum nya. Di lantai yang menjual barang antik seperti mesin tik tua, perkakas berkebun dan baju-bau bekas, Suasana dilantai tiga lebih sepi dari ke dua lantai yang saya datangi sebelumnya. Jika kita ingin bergaya dengan dana tipis dengan hasil yang tidak murahan, Dilantai tiga ini ada los-los yang menjual baju-baju bekas impor.

Pagi hari menelusuri pasar Beringharjo. Banyak cerita di pasar tradisional terbesar di Yogyakarta ini. (BAW)

 

 

Check Also

Pulau Pamutusan

Eksotisnya Pulau Pamutusan

Lensawisata.com, Dari pulau Pagang, Pesisir Selatan, Sumatera Barat. Kapal yang saya tumpangi bergerak menuju sebuah ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *