Tuesday , November 21 2017
Breaking News
Home / RUANG NUSANTARA / Riau / Penobatan Pewaris Kerajaan Gunung Sahilan
Tengku Muhammad Nizar (bersongkok hitam) diarak dari rumah suku Mandahiling sebelum dinobatkan sebagai pewaris kerajaan Gunung Sahilan, Kampar Kiri_lensawisata.com

Penobatan Pewaris Kerajaan Gunung Sahilan

Lensawisata.com, Di tepi pelabuhan, piau/perahu dengan hiasan bendera berwarna warni mulai penuh dinaiki orang-orang berbaju hitam. Raut muka gembira terlihat dimuka mereka setelah malam sebelumnya, bertempat di sebuah surau yang berjarak 100 meter dari tepi sungai. Mereka berdebat mengenai pelaksanaan upacara yang sudah 77 tahun tidak dilaksanakan. Mereka takut jika terjadi kesalahan dalam upacara ini mereka akan terkena sumpah soti/sumpah adat yang sudah diucapkan oleh leluhur-leluhur mereka ratusan tahun yang lalu. Lewat tengah malam rapat ini baru selesai dengan keputusan yang sesuai dengan aturan-aturan adat. Di tepi sungai, pemuda desa masih sibuk merias rumah-rumahan berukuran kecil yang akan diletakkan diatas perahu.

Persiapan jamasan pusaka-pusaka di Kerajaan Gunung Sahilan yang berada di Kampar Kiri_lensawisata.com
Persiapan jamasan pusaka pusaka di Kerajaan Gunung Sahilan yang berada di Kampar Kiri_lensawisata.com

 

Salah satu pusaka kerajaan Gunung Sahilan yang dibersihkan dalam persiapan penobatan pewaris Kerajaan Gunung Sahilan, Kampar Kiri_lensawisata.com
Salah satu pusaka kerajaan Gunung Sahilan yang dibersihkan dalam persiapan penobatan pewaris Kerajaan Gunung Sahilan, Kampar Kiri_lensawisata.com
Suasana rapat para Kilafah dan Ninik Mamak Kampar kiri hulu di Kuntu dalam persiapan penobatan ahli waris kerajaan Gunung Sahilan, Kampar Kiri_lensawisata.com
Suasana rapat para Kilafah dan Ninik Mamak Kampar kiri hulu di Kuntu dalam persiapan penobatan ahli waris kerajaan Gunung Sahilan, Kampar Kiri_lensawisata.com
Perahu-perahu kalifah di Kampar Kiri dengan tonge_bendera kebesaran mereka masing-masing dalam persiapan menuju ke Gunung Sahilan, Kampar Kiri_lensawisata.com
Perahu-perahu kalifah di Kampar Kiri dengan tonge_bendera kebesaran mereka masing-masing dalam persiapan menuju ke Gunung Sahilan, Kampar Kiri_lensawisata.com

Minggu, 22 Januari 2017, berlangsung upacara sakral di Kerajaan Gunung Sahilan. Sebuah kerajaan yang berada di wilayah Kampar Kiri, tepatnya di kecamatan Gunung Sahilan, Kabupaten Kampar, Provinsi Riau. Kerajaan Gunung Sahilan adalah sebuah kerajaan yang memimpin daerah di sepanjang Kampar Kiri. Pembagian wilayah kerajaan Gunung Sahilan berdasarkan hukum adat kerajaan adalah, “Dari Pangkalan yang duo laras, Pangkalan Serai di laras kiri dan Pangkalan Kapas di laras kanan dihulu Sungai Subayang dan Sungai Batang Bio sampai ke Muara Langgai”. Daerah-daerah ini disebut dengan Rantau Kampar Kiri.

Berdirinya Kerajaan Gunung Sahilan tidak dapat dipisahkan dari Kerajaan Pagaruyung yang didirikan oleh Adityawarman, seorang penerus Dinasti Mauli penguasa di Kerajaan Melayu. Kerajaan Gunung Sahilan pada masa awal berdirinya diperkirakan pada abad ke 16-17 Masehi. Raja yang memerintah di adalah keturunan raja Pagaruyung atau Raja Muda Kerajaan Pagaruyung. Kerajaan Gunung Sahilan berdiri sendiri sebagai Kerajaan berdaulat setelah runtuhnya Kerajaan Pagaruyung pada awal abad ke 18 Masehi akibat perang paderi.

 

Perahu Datuk Singo dari lipat Kain, Perahu kalifah Ujung Bukit, dan Kalifah Ludai dalam perjalanan menuju kerajaan Gunung Sahilan, Kampar Kiri_lensawisata.com
Perahu Datuk Singo dari lipat Kain, Perahu kalifah Ujung Bukit, dan Kalifah Ludai dalam perjalanan menuju kerajaan Gunung Sahilan, Kampar Kiri_lensawisata.com

Gelar adat Raja Kerajaan Gunung Sahilan adalah “Tengku Yang Dipertuan Besar” dan untuk Raja ibadat adalah “Tengku Yang Dipertuan Sati”. Berdasarkan riwayat raja-raja Kerajaan Gunung Sahilan, raja terakhir yang menjadi raja di kerajaan Gunung Sahilan, adalah Tengku Sulung yang Dipertuan Besar (1930-1945, beliau merupakan Raja Adat) dan Tengku Haji Abdullah Yang Dipertuan Sati (1930-1945, beliau merupakan Raja Ibadat). Kedua raja ini selanjutnya akan digantikan oleh Tengku Ghazali, namun ia tidak sempat dinobatkan sebagai Raja karena Indonesia sudah merdeka. kerajaan Gunung Sahilan bergabung dengan Republik Indonesia. Akibatnya keberadaan Kerajaan Gunung Sahilan hilang ditelan bumi.

Kalifah Kuntu, Ludai, dan Ujung Bukit dalam perjalanan ke Kerajaan Gunung Sahilan saat berlayar di Sungai BayangGunung Sahilan. Kampar Kiri_lensawisata
Kalifah Kuntu, Ludai, dan Ujung Bukit dalam perjalanan ke Kerajaan Gunung Sahilan saat berlayar di Sungai BayangGunung Sahilan. Kampar Kiri_lensawisata
Para Kalifah dari Kuntu,Batu Soggan, Ujung Bukit, dan Ludai bertemu dengan Datuak Singo dari Lipat Kain di muara Singigi untuk bersama sama berangkat menuju Kerajaan Gunung Sahilan, Kampar Kiri
Para Kalifah dari Kuntu,Batu Soggan, Ujung Bukit, dan Ludai bertemu dengan Datuak Singo dari Lipat Kain di muara Singigi untuk bersama sama berangkat menuju Kerajaan Gunung Sahilan, Kampar Kiri
Dari kiri kekanan, Kalifah Ujung Bukit, Datuak Singo, Kalifah besar Gunung Sahilan, dan Kalifah Kuntu setelah disambut di pelabuhan di tepi sungai di Gunung Sahilan, Kampar Kiri_lensawisata.com
Dari kiri kekanan, Kalifah Ujung Bukit, Datuak Singo, Kalifah besar Gunung Sahilan, dan Kalifah Kuntu setelah disambut di pelabuhan di tepi sungai di Gunung Sahilan, Kampar Kiri_lensawisata.com

Pada tahun 2014, 4 khalifah di Kampar Kiri, yaitu khalifah Kuntu, khalifah Ujung Bukit, khalifah Ludai, dan khalifah Batu Songgan ditambah khalifah besar Gunung Sahilan membuat sebuah keputusan besar. Mereka ingin meletakkan kembali raja di istana Gunung Sahilan. Upacara ini disebut penobatan pewaris kerajaan Gunung Sahilan. Alasan ke lima khalifah besar mendudukkan kembali pewaris kerajaan karena mereka sudah sangat gerah dengan tidak adanya pemimpin besar yang bisa mewadahi mereka. Menurut khalifah Batu Songgan, “Keberadaan Raja memberikan kepercayaan lebih bagi kami dalam menyelesaikan masalah-masalah adat istiadat yang ada di Kampar Kiri, terutama masalah tanah ulayat kami” ujarnya. Pihak pewaris kerajaan menyetujui hal ini. Dibutuhkan waktu selama 3 tahun untuk mencari siapa pewaris kerajaan yang pas. Pencarian ini bersama para keturunan-keturunan kerajaan Gunung Sahilan hingga akhirnya mereka menemukan sosok yang pantas.

Perahu Datuk Singo Lipat Kain dengan bendera kebesarannya sebelum berangkat menuju Gunung Sahilan dari muara Sungai Singingi, Kampar Kiri_lensawisata.com
Perahu Datuk Singo Lipat Kain dengan bendera kebesarannya sebelum berangkat menuju Gunung Sahilan dari muara Sungai Singingi, Kampar Kiri_lensawisata.com
Dari kiri kekanan, Kalifah Ujung Bukit, Datuak Singo, Kalifah besar Gunung Sahilan, dan Kalifah Kuntu setelah disambut di pelabuhan di tepi sungai di Gunung Sahilan, Kampar Kiri_lensawisata.com
Dari kiri kekanan, Kalifah Ujung Bukit, Datuak Singo, Kalifah besar Gunung Sahilan, dan Kalifah Kuntu setelah disambut di pelabuhan di tepi sungai di Gunung Sahilan, Kampar Kiri_lensawisata.com
Tengku Muhammad Nizar ( bersongkok Hitam ), pewaris Kerajaan Gunung Sahilan sebelum penobatan_lensawisata.com
Tengku Muhammad Nizar ( bersongkok Hitam ), pewaris Kerajaan Gunung Sahilan sebelum penobatan_lensawisata.com

Pagi hari, di desa Kuntu, Kampar Kiri. Rombongan 4 khalifah dengan datuk-datuk dan ninik mamak bersiap untuk berangkat menuju Gunung Sahilan dengan menelusuri sungai Subayang. Sebelum berangkat, ke empat khalifah ini bermalam terlebih dahulu di Kuntu, disini mereka bermusyawarah adat terlebih dahulu. Bermalam dan bermusyawarah ini adalah hal yang sama dilakukan saat penobatan raja sejak ratusan tahun yang lalu hingga tahun 1930. Ke empat khalifah itu adalah Kuntu, Ujung Bukit, Ludai, dan Batu Songgan.

Tengku Muhammad Nizar (bersongkok hitam) diarak dari rumah suku Mandahiling sebelum dinobatkan sebagai pewaris kerajaan Gunung Sahilan, Kampar Kiri_lensawisata.com
Tengku Muhammad Nizar (bersongkok hitam) diarak dari rumah suku Mandahiling sebelum dinobatkan sebagai pewaris kerajaan Gunung Sahilan, Kampar Kiri_lensawisata.com
Para datuk dan kalifah Kampar Kiri di dalam rumah dalam_ istana Gunung Sahilan. Kampar Kiri_lensawisata
Para datuk dan kalifah Kampar Kiri di dalam rumah dalam_ istana Gunung Sahilan. Kampar Kiri_lensawisata
Tengku Muhammad Nizar, pewaris kerajaan Gunung Sahilan setelah dinobatkan_lensawisata.com
Tengku Muhammad Nizar, pewaris kerajaan Gunung Sahilan setelah dinobatkan_lensawisata.com

Masing-masing khalifah akan naik perahu mereka. Pada perahu khalifah, terlihat tongge/bendera kebesaran mereka. Putih, yang melambangkan agama, diwakili oleh Ujung Bukit, Merah yang melambangkan hukum diwakili oleh Batu Songgan, Hitam yang melambangkan adat diwakili oleh Kuntu, dan Kuning yang melambangkan istiadat diwakili oleh Ludai. Bendera-bendera ini menunjukkan peranan masing-masing khalifah dalam menyelesaikan masalah di Rantau Kampar Kiri. Menurut Herizal, khalifah Kuntu, prosesi berlayar menuju Gunung Sahilan disebut dengan Subayang Baguluang Hilir.
Dalam prosesi ini, setelah perahu-perahu tiba di muara sungai Singingi, mereka akan disambut oleh Datuak Singo dari Lipat Kain. Tongge/bendera kebesaran masing-masing khalifah akan turun dan digantikan oleh tongge/bendera dari Datuak Singgo hingga ke perbatasan Gunung Sahilan. Di perbatasan ini. Keempat bendera besar khalifah naik dan ditambah bendera Datuak Singo. Sinar matahari yang membakar kulit menemani perjalanan saya dan rombongan khalifah menelusuri sungai selama 4 jam. Di tepi pelabuhan Gunung Sahilan, rombongan kami disambut oleh Khalifah Besar Gunung Sahilan. Pantun dan silat menyambut kedatangan kami. Para khalifah, datuk-datuk, dan ninik mamak dengan baju kebesaran mereka berjalan beriringan menuju istana Gunung Sahilan. Saya membayangkan ramainya penobatan Tengku Sulung dan Tengku Haji Abdullah dilantik menjadi raja di tahun 1930.

Penobatan Tengku Muhammad Nizar sebagai pewaris kerajaan Gunung Sahilan, Kampar Kiri_lensawisata.com
Penobatan Tengku Muhammad Nizar sebagai pewaris kerajaan Gunung Sahilan, Kampar Kiri_lensawisata.com

Esoknya, di halaman rumah dalam/istana kerajaan Gunung Sahilan, masyarakat menyemut di halaman istana. Mereka menantikan penobatan pewaris kerajaan Gunung Sahilan. Tepat pukul 10.00 WIB. Kerajaan Gunung Sahilan, memiliki pewaris kerajaan. H. Tengku Muhammad Nizar nama pewaris kerajaan Gunung Sahilan. Tanjak kebesaran berwarna kuning menggantikan kopiah berwarna hitam yang sejak pagi dikenakan oleh beliau. Raut muka gembira para khalifah terlihat saat pewaris kerajaan duduk di kursi istana. Menurut Zainal, khalifah besar Gunung Sahilan. “ Semua harapan dan keinginan masyarakat Kampar Kiri dalam menyelesaikan masalah ulayat mereka, Semoga bisa diselesaikan setelah pewaris kerajaan duduk di Istana”. BAW

Check Also

Pulau Pamutusan

Eksotisnya Pulau Pamutusan

Lensawisata.com, Dari pulau Pagang, Pesisir Selatan, Sumatera Barat. Kapal yang saya tumpangi bergerak menuju sebuah ...

One comment

  1. Compliments for this nteresting photoseries.I am researcher keraajaan2 Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *