Thursday , November 23 2017
Breaking News
Home / RUANG NUSANTARA / Pesona Batik Lasem
batik lasem
Pengrajin batik lasem sedang menggambar pola diatas kain. Batik Lasem

Pesona Batik Lasem

Lensa Wisata, Batik Lasem. – Lasem adalah sebuah kecamatan yang terletak di Pantai Utara Pulau Jawa, lebih tepat nya sebuah kecamatan di Kabupaten Rembang. Kota ini, di kenal dengan sebutan Little Tiongkok. Hal tersebut dapat di lihat dari bangunan bangunan tua yang ada disini. Selain di kenal dengan nama Little Tiongkok, Lasem juga di kenal dengan batik nya.

Batik Lasem dikenal karena keunikan motif dan coraknya. Dalam batik Lasem, terdapat akulturasi antara Jawa dan Tionghoa. Menurut sejarah, awal masuknya batik ke Lasem adalah dari seorang anak buah kapal Laksamana Cheng Ho yang bernama Bi Nang Un dengan isteri yang bernama Na Li Ni, mereka masuk Lasem di tahun 1400-an.

Pasangan ini menetap di Jolotundo. Bi Nang Un adalah ahli bertukang terutama dalam membuat kerajinan dari tembaga dan ukiran, sedangkan Na Li Ni menularkan seni penulisan di kain menjadi seni tulis batik.Batik di Lasem ini mulai besar setelah kedatangan saudagar minuman keras dari Tiongkok pada tahun 1600-an, Pengusaha dari Tiongkok ini adalah seorang ahli gambar dan ahli kaligrafi, dia lah yang memberikan gambar-gambar motif China ke dalam batik Lasem.

Batik Lasem merupakan batik pesisir. Hal ini dikarenakan secara geografis letaknya yang berada di pesisir pantai utara Jawa. Dahulu, kota yang berada di pesisir Utara Pulau Jawa adalah kota-kota pelabuhan yang besar. Di sini, akulturasi antara masyarakat pribumi dan para pedagang yang berasal dari negara luar dapat terjadi, Karena pedagang Tionghoa yang mendominasi Lasem maka pengaruh budaya Tionghoa masuk kedalam batik. Hal ini bisa dilihat dari motif-motif yang ada pada batik Lasem tersebut, motif bambu,bunga seruni, bunga teratai,kelelawar ( bien fu), Naga dan Burung Pheonix ( Burung Hong) adalah beberapa motif batik yang ada.

Karena motif Tionghoa ini, batik Lasem berbeda dengan batik Forstenlanden. Fostenlanden adalah batik dengan motif kerajaan. Seperti batik yang berasal dari Solo, Yogyakarta,Banyumas, dan Wonogiri. Motif fostenlanden cendrerung bersifat geometris. Di zaman Belanda, Lasem merupakan lima besar daerah penghasil batik. Lima besar itu diantaranya Solo, Yogya,Pekalongan,Banyumas, dan Lasem. Saat itu, batik Lasem merambah beberapa daerah di Indonesia, seperti Manado, Sumatera bahkan sampai ke Malaysia, Singapura,Brunei dan Suriname. Kepopuleran batik Lasem di Suriname dibawa oleh orang -orang Jawa yang di bawa oleh Belanda.

Selain pencampuran motif dari China, di Lasem ini terdapat motif khas lain nya yaitu motif Latoan dan Batu Pecah/Kricak. Latoan merupakan tanaman khas yang banyak terdapat di sekitar pantai yang dapat dimakan sebagai urap.. Selain latoan, terdapat motif batu pecah. Motif batu pecah memiliki nilai sejarah. Pada zaman dahulu, saat Gubernur Belanda Daendels membuat jalan dari Anyer sampai dengan Panurukan sepanjang 1000 km, para Bupati diminta menyerahkan para pemuda sebagai pekerja paksa mereka. Mereka berfungsi sebagai tenaga kerja pemecah batu, di zaman itu juga terjadi epidemik malaria dan infulensa yang menyerang Rembang. Sehingga banyak kematian di Rembang dan Lasem. Dampak dari itu adalah kesedihan mendalam bagi masyarakat Lasem, Kesedihan ini ditampilkan dalam bentuk motif batu pecah.

Proses- proses itu adalah pewarnaan merah, lalu dimasukkan klorotan agar lilin yang melapisi kain hilang, kemudian dicampur dengan tanah, lalu dimasukkan kedalam pewarna biru, terakhir adalah warna coklat. Semua proses tersebut di lakukan dalam kali proses. Secara istilah, batik 3 negeri itu, warna merah dari Lasem, biru dari Pekalongan dan Coklat ( Soga ) berasal dari Solo.

Selain motif motif tradisional di Lasem, sekarang berkembang motif baru pada batik Lasem. Motif ini dikembangkan oleh sesepuh masyarakat Tionghoa Lasem yang bernama Sigit Wicaksono/Nyo Tjen Hian . Beliau adalah seorang pengusaha Batik Sekar Kencana yang sudah berumur 84 tahun.

Sigit mengembangkan motif baru yang menggunakan huruf Thionghoa. Proses penciptaan motif pada saat malam tahun baru China. Dalam perenungannya, beliau mendapatkan semacam ilham untuk membuat motif baru dalam batik. Motif tersebut berupa kata-kata mutiara dalam aksara China, filosofi yang terkandung di dalam motif ini adalah empat penjuru samudera semuanya adalah sama, bakti anak terhadap orang tua murid kepada guru, dan rakyat kepada pemerintah. Agar bisa bergabung dengan filosofi Jawa, dia menuliskan motif ini ke dalam sebuah batik yang bermotifkan Sekar Jagat,Sekar jagat itu sendiri arti nya adalah bunga dunia.

Warna khas dari batik Lasem ini adalah warna merah darah ( getih pitik) ayam, hijau botol bir dan warna biru tua. Selain itu, batik Lasem ini di kenal dengan sebutan batik tiga negeri. Sebutan ini didapatkan dari proses pewarnaan batik. Terdapat tiga kali proses pewarnaan dalam pembuatan Batik Lasem ini.

Selain itu Sigit juga menciptakan motif dengan tulisan Tinghoa , Hek Sia Ping An Wang Se Ruk I yang arti nya “se isi rumah sentosa segala macam usaha seusai dengan apa yang di kehendaki”, ada beberapa motif batik yang bertuliskan filosofi Tionghoa yang beliau ciptakan.

Awal nya beliau ragu dengan motif ini. Apakah bisa di terima di masyarakat apa tidak. Namun, pada saat pameran batik di Rembang dan beliau memperlihatkan motif ini. Sambutan yang sangat meriah yang beliau dapatkan. Sekarang batik ini laku keras. Dan keberadaan Batik Lasem, yang merupakan akulturasi dua kebudayaan semakin dikenal. (BAW)

 

Baca juga : Tradisi Nyete Warung Kopi Lasem

Check Also

Pulau Pamutusan

Eksotisnya Pulau Pamutusan

Lensawisata.com, Dari pulau Pagang, Pesisir Selatan, Sumatera Barat. Kapal yang saya tumpangi bergerak menuju sebuah ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *