Wednesday , October 18 2017
Breaking News
Home / RUANG NUSANTARA / Pulau Asei, Diantara Gereja Tua dan Lukisan Kulit Kayu
pulau asei lensa wisata
Matahari tenggelam di Danau Sentani dilihat dari pelabuhan Pulau Asei. (BAW, Lensawisata.com)

Pulau Asei, Diantara Gereja Tua dan Lukisan Kulit Kayu

Lensawisata.com, Pulau Asei, Diantara Gereja Tua dan Lukisan Kulit Kayu, – “Orang Asei percaya bahwa kami berjalan di atas punggung ular”. Obrolan pembukaan ini menjadi awal pembicaraan antara saya dan Bapak Corlius Kohe (50). Beliau adalah salah satu pelukis di sini. Sekarang saya sedang berada di Pulau Asei. Sebuah pulau kecil yang terletak di depan Pelabuhan danau Sentani. Untuk menuju pulau ini, mudah. Lima belas menit dengan menggunakan perahu di pelabuhan danau.

Kedatangan saya disambut oleh salib besar yang menandakan kedatangan injil masuk ke sini. Pulau ini dihuni oleh suku Asei. Dalam cerita rakyat yang dipercaya oleh masyarakat Asei. Pulau Asei dahulunya adalah ular yang besar. Dan mereka seolah olah berjalan di atas punggung ular.

Masyarakat pulau Asei adalah seniman lukis. Kanvas yang mereka gunakan lain dari pada yang lain, mereka menggunakan kulit kayu. Kulit kayu ini adalah kulit kayu khombouw. Menurut Corlius, dahulu sampai dengan media tahun 1980-an kulit kayu ini digunakan sebagai pakaian, celana, pembungkus jenazah dan juga sebagai alas meletakkan kapak batu sebagai mas kawin. Namun, sekarang mereka menjadikan kulit kayu ini sebagai media seni mereka.

Motif yang mereka lukis beragam. Motif-motif ini asli dari suku Asei. Diantara motif tersebut adalah motif rosindale. Motif ini hanya bisa ditemui di rumah kepala suku/ Ondoavi. Biasanya terletak di tiang rumah kepala suku. Dan dipake oleh isteri kepala suku di baju adat. Selain motif rosindale, dikenal juga motif Yoniki. Motif ini berupa simbol berbentuk bulat yang bermakna kebersamaan.

Sebelum dilukis, kulit khombouw ini terlebih dahulu dicuci untuk di hilangkan getahnya, lalu di pukul-pukul dan dijemur. Proses ini berlangsung sekitar satu hari, Setelah benar-benar kering, kanvas ini sudah bisa digunakan. Nantinya kanvas ini akan dilukis. Dalam proses pewarnaan kanvas, suku Asei masih memakai pewarna alami.

Mereka memakai tiga warna dasar. Warna-warna tersebut adalah warna hitam yang melambangkan kematian/dunia fana, berasal dari arang yang di campur dengan minyak kelapa. Warna putih, yang melambangkan kebesaran suku, berasal dari kulit kerang dan sagu. Dan warna merah yang melambangkan keperkasaan suku, berasal dari tanah liat/batu merah.

Saya sempat diperlihatkan dan ditawari motif rosindale ini. Terpancar aura yang berbeda dari motif ini. Selain lukisan dari kulit kayu. Pulau Asei juga memiliki keunikan yang lain. Terdapat gereja tertua di Jayapura di pulau ini. Setelah melihat lukisan dari kulit kayu, saya pun bergerak menuju gereja tersebut. Posisi gereja berada di puncak bukit pulau Asei., sekitar 5 menit mendaki dari tempat saya melihat motif rosindale itu.

Saya mendengarkan penjelasan mengenai sejarah berdiri nya gereja ini. Di mulai pada tahun 1855 saat misionaris dari Jerman yang bernama W. Ottow Carl dan Johann G. Geissler memberitakan kabar injil dari Utara Papua sampai teluk Youtefa dan terus masuk hingga ke pedalaman pegunungan Cycloop. Kabar ini pun masuk ke pulau Asei pada tahun 1928. Awal nya,gereja ini di dirikan di pinggir pulau dengan konstruksi yang sederhana.

Namun. Pada perang dunia ke 2, dimana saat itu terjadi perang perebutan pasifik dari Jepang.Yang di pimpin oleh jendral Douglas MacArthur. Pulau Asei hancur lebur, kenapa begitu? Hal ini karena pulau Asei termasuk di dalam jalur merah tentara Sekutu. Jalur merah berarti jalur yang nantinya akan diserang oleh sekutu. Akibat hancurnya pulau ini, masyarakat mengungsi dan meninggalkan pulau.

Gereja pun hancur. Setelah keadaan aman, mereka kembali ke pulau. Atas kesepakatan bersama, mereka kembali mendirikan gereja. Dengan bergotong royong mereka membangun gereja. Di butuhkan waktu sekitar 7 tahun untuk mendirikan gereja ini. Pada tanggal 1 Januari 1955 gereja ini di resmikan. Ada cerita unik saat pembangunan kembali gereja. Ternyata gereja ini di bangun oleh seorang tukang kayu yang tidak mengenyam pendidikan formal tukang kayu. Beliau hanya mengandalkan gambar yang dikirim dari Jerman.

Muncul keinginan saya untuk masuk ke dalam gereja. Untuk melihat altar nya, dan detail detail interior di dalam gereja. Namun sayangnya, saat kedatangan saya gereja dalam keadaan terkunci. Dahulunya,terdapat sebuah lonceng dari perunggu di gereja ini. Namun setelah jatuh, tugas dari lonceng perunggu di gantikan oleh sebuah tabung gas.
Pelan-pelan. Matahari pun turun, Sunset sebentar lagi akan keluar di bumi Papua. Saya pun turun dari bukit menuju ke pelabuhan. Meninggalkan kisah akan lukisan dan gereja tua. (BAW)

Check Also

Pulau Pamutusan

Eksotisnya Pulau Pamutusan

Lensawisata.com, Dari pulau Pagang, Pesisir Selatan, Sumatera Barat. Kapal yang saya tumpangi bergerak menuju sebuah ...

One comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *