Wednesday , October 18 2017
Breaking News
Home / RUANG NUSANTARA / Tracking di Pulau Komodo
pulau komodo
Selama trekking di Taman Nasional Pulau Komodo, harus tetap waspada. Karena tiba-tiba bisa saja anda bertemu dengan reptil raksasa ini. Tapi jangan khawatir selama anda ditemani oleh ranger.

Tracking di Pulau Komodo

Lensa Wisata, Pulau Komodo, Saya baru tersadar dari pukauan betapa indahnya saujana Pulau Komodo dan alam sekitarnya saat seorang teman menepuk bahu saya. “Yuk turun, kita sudah sampai” kata seorang teman kepada saya yang lagi duduk manis di geladak kapal yang kami tumpangi. Begitu menginjakkan kaki di Pulau Komodo, tepatnya di dermaga Loh Liang, kita sudah disuguhkan oleh pemandangan yang menawan. Pantai yang indah, dan bukit yang mempesona.

Disinilah tempat tinggal sekitar 1000 an ekor komodo. Selain di Pulau Rinca tentunya. Ora, begitulah masyarakat di sekitar Pulau Komodo menyebutnya. Makhluk purba pemangsa besar ini hidup bebas di Pulau Komodo.

Berkunjung ke Pulau Komodo, tidak afdol rasanya kalau tidak mencoba jalur trekking menyusuri hutan dan alam perbukitan di pulau ini. Oh ya, trekking di Pulau Komodo, wajib di damping oleh ranger yang dibekali dengan tongkat bercabang dua di ujungnya. Tongkat ini berfungsi untuk menjinakkan komodo kalau-kalau binatang purba ini mendekati pengunjung. Cabang dua pada tongkat berfungsi untuk menghentikan gerak komodo dengan cara diletakkan pada leher komodo dan ditekan ke tanah. Tidak menyakiti komodo, namun bisa menghentikan gerak komodo. Konon katanya, kelemehan komodo terletak pada hidungnya. Namun kelebihan komodo juga ada pada indera penciumannya, yang mampu mencium bau bangkai atau amisnya darah dari jarak yang cukup jauh.

Saat saya dan beberapa teman, kami mengambil jalur trekking medium. Dan hari masih pagi. Beberapa orang pengawas dan ranger mengatakan bahwa pagi hari dan sore hari saat matahari bersinar, biasanya komodo juga senang berjemur. Dalam hati saya berharap semoga ketemu dengan makhluk purba itu di habitat aslinya.

Di Water Hole, spot pemberhentian pertama, tempat rusa-rusa mencari minum. Kami memotret rusa-rusa dari balik pepohonan. Tidak satupun yang berani masuk ke dalam hutan, karena disini pula tempat komodo mengincar rusa untuk dijadikan santapan.

Kami melanjutkan perjalanan menyusuri hutan asam. Harapan bertemu Ora terkabul. Seekor komodo yang berukuran cukup besar sedang berjemur menikmati sinar matahari pagi. Kesempatan ini tidak saya sia-siakan. Begitu juga dengan beberapa teman yang sudah siap dengan kamera untuk mengabadikan pose makhluk purba ini. Dengan tetap di kawal ketat oleh ranger, kami bebas memotret komodo dengan jarak yang lumayan dekat untuk ukuran lensa zoom tele 70-200 milimeter.

Puas memotret komodo, perjalanan dilanjutkan menuju bukit Sulphurea. Sebelum sampai di puncak bukit, kembali kami di hibur oleh sepasang kakaktua jambul kuning yang sedang bercengkrama. Lagi-lagi lensa kamera tak lengah mengarah ke sepasang kakaktua jambul kuning. Sayang, lensa yang saya punya kurang memadai untuk memotret kakaktua jambul kuning lebih dekat. Tapi hati tetap senang, melihat kakaktua jambul kuning terbang di alam bebas, bukan di dalam sangkar.

Dari atas Sulphurea Hill, kami beristirahat sejenak sambil menikmati pemandangan yang ada. Kebetulan kami berkunjung di awal bulan Desember, puncak-puncak bukit di Pulau Komodo berwarna hijau.

Dari Sulphurea Hill, turun menuju Fregata Hill. Dari sini, kita bebas memandang laut dan pantai serta pelabuhan Loh Liang. Indahnya pemandangan dari sini, membuat kita tak hendak beranjak. Namun apadaya, ketua rombongan sudah berteriak, “Ayo turun, segera ke kapal”. (AB)

Check Also

Pulau Pamutusan

Eksotisnya Pulau Pamutusan

Lensawisata.com, Dari pulau Pagang, Pesisir Selatan, Sumatera Barat. Kapal yang saya tumpangi bergerak menuju sebuah ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *