Wednesday , September 20 2017
Breaking News
Home / RUANG NUSANTARA / Pulau Penyengat, Cerita dari Mas Kawin Sultan Mahmud III
pulau penyengat
masjid raya pulau Penyengat, mesjid ini merupakan salah satu peninggalan kerajaan Lingga di Provinsi Kepulauan Riau.

Pulau Penyengat, Cerita dari Mas Kawin Sultan Mahmud III

Lensawisata.com, Cerita dari Mas Kawin Sultan Mahmud III, – Suara mesin kapal seolah olah menjadi musik pengiring perjalanan, lima belas penumpang mengisi penuh ruang kapal yang beralaskan kayu. Beberapa penumpang kapal, ada yang membawa barang belanjaan dari pasar. Ada yang membawa tas besar yang berisikan pakaian, namun ada juga hanya membawa badan. “ Jadi nampaknya beraye, kak” ujar salah seorang penumpang perempuan kepada penumpang di sebelah saya. “ Iye, ketupat dah siap dah” jawabnya. Kedatangan hari raya Aidul Fitri sudah disambut oleh masyarakat.

Dibutuhkan waktu lima belas menit dari pelabuhan menuju pulau tujuan saya, dan untungnya laut sedang bersahabat hari itu. Dari pelabuhan, bangunan tujuan saya terlihat mencolok dengan cat kuning yang menyelimuti tembok bangunan. Tulisan dari besi di pintu masuk yang bertuliskan aksara arab melayu terlihat mencolok, tulisan ini, jika dilafalkan “ Masjid Raya Pulau Penyengat”.

            Mesjid raya pulau penyegat merupakan peninggalan dari kerajaan Riau Lingga. Mesjid ini dibangun dizaman pemerintatahan Sultan Mahmud pada tahun 1803, di masa pemerintahan Yang Dipertuan Muda VII, Sultan Abdurrahman 1832, mesjid ini di renovasi. Masjid ini berdiri dengan kokoh hingga hari ini.

Pada mulanya, mesjid ini berupa mesjid kayu berlantai dua dengan menara setinggi enam meter sebagai tempat muazain mengumandangkan azan. Di saat pemerintahan Sultan Mahmud, kemudian, di zaman pemerintahan Sultan Abuddurahman, pemugaran mesjid dilakukan. Tujuan pemugaran mesjid sebagai wujud rasa sukur atas kemakmuran masyarakat pulau Penyengat. Sultan Abduurahman mengundang masyarakat kerajaan Lingga untuk terlibat dalam pemugaran mesjid ini, arsitek pemugaran didatangkan dari Tumasik/Singapura.

Saat pemugaran masjid, bahan makanan yang diberikan masyarakat melimpah ruah terutama telur. karena bosan dengan menu yang itu itu saja, para pekerja bangunan memilih untuk memakan kuning telur, putih telur , mereka gunakan sebagai bahan perekat bangunan bersama dengan pasir dan kapur. Setelah di renovasi, bangunan seluas 29,3 meter x 19,5 meter terlihat megah. Kubah-kubah yang berjumlah 13 buah berbentuk bawang. Jumlah keseluruhan tiang dan kubah di masjid ini 17 buah , yang menggambarkan jumlah rakaat sholat.

            Dari pintu masuk, saya menelusuri lantai batu bata yang membagi halaman depan mesjid menjadi dua. Rumah sotoh/ gedung pertemuan yang berada di kiri kanan saya, ditutupi oleh tenda tenda. Mesjid penyengat sedang bersiap menyambut hari raya Aidul fitri esok.

Dari baggian luar mesjid, saya berada di bagian dalam. Pada bagian dalam mesjid ini terdapat kitab kitab yang berjumlah tiga ratus buah yang tersimpan pada lemari yang berada di kiri kanan mesjid. Kitab kitab ini merupakan koleksi dari Raja Muhammad Yusuh al Ahmadi, beliau merupakan raja terakhir dari kerajaan Daik Lingga yang juga merupakan pendiri percetakan buku di Pulau Penyengat.

Selain koleksi raja, di mesjid ini juga terdapat dua mushaf alquran yang ditulis dengan tangan. Salah satu mushaf ini karya dari Abdurrahman Stambul, seorang penduduk Lingga yang dikirim ke Turki untuk belajar agama Islam pada tahun 1867. Selain koleksi kitab kitab lama, di mesjid ini juga terdapat mimbar lama yang berasal dari Jepara. Mimbar ini dibuat pada tahun 1832.

Suara azan Zuhur berkumandang dari pengeras suara mesjid, segarnya air dari pulau yang menjadi mas kawin Sultan Mahmud Syah III dan Engku Putri Hamidah membasuh muka saya. Masjid pulau Penyengat, sebuah bait cerita kejayaan Melayu Lingga yang tersisa.

 

Check Also

Pulau Pamutusan

Eksotisnya Pulau Pamutusan

Lensawisata.com, Dari pulau Pagang, Pesisir Selatan, Sumatera Barat. Kapal yang saya tumpangi bergerak menuju sebuah ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *