Wednesday , October 18 2017
Breaking News
Home / RUANG NUSANTARA / Riau / Berkunjung ke Rumah Harimau Sumatera
harimau sumatera
Kanopi hutan hujan tropis di Taman Nasional Bukit Tiga Puluh

Berkunjung ke Rumah Harimau Sumatera

Lensa Wisata, Harimau Sumatera, “ Taaang” suara benturan batu dan bagian bawah mobil terdengar hingga ke bak belakang , sepertinya salah satu roda dari mobil berpenggerak empat gandar yang kami naiki terjepit. Dengan penerangan senter kami memeriksa kondisi ban. Ternyata, ban mobil kami masuk kedalam lubang yang kedalamannya menyerupai selokan. Raungan mesin, suitan turbo, dan teriakan “ dorong, dorong, putar setirnya pak” menjadi pemecah malam yang tadi sunyi.

Mobil yang terpuruk menjadi menu pembuka rombongan kami di Taman Nasional Bukit Tiga Puluh. Taman Nasional Bukit Tiga Puluh adalah hutan lindung yang diubah fungsi menjadi Taman Nasional pada tahun 1995. Taman Nasional ini berada di perbatasan antara Provinsi Riau dan Provinsi Jambi. Berdasarkan peta zonasi Taman Nasional pada tahun 2002. Bukit Tiga Puluh memiliki luas 144 ribu hektar. Provinsi Riau memiliki luasan terbesar di Kabupaten Indragiri Hulu seluas 81.233 hektar, kabupaten Indragiri Hilir seluas 30.000 hektar, dan kabupaten Tebo di Provinsi Jambi seluas 10.0000 hektar. Taman Nasional ini merupakan rumah dari flora fauna endemik seperti harimau sumatera dan raflesia belang harimau. Serta rumah dari masyarakat adat Talang Mamak, Melayu, dan Orang Rimba yang sudah ratusan tahun bermukim di dalam zona inti taman nasional.

Nama Bukit Tiga Puluh berdasarkan cerita mayarakat adat Talang Mamak Menurut ceritanya, Bukit Tiga Puluh, adalah bukit tertinggi yang menjadi batas antara Sungai Gangsal di Kabupaten Indragiri Hulu, Riau dan Sungai Batang Hari, Jambi. Bukit ini memiliki total ketinggian tiga puluh bukit. Dengan rincian, 15 bukit dari Riau dan 15 bukit dari Jambi. Bukit tiga puluh dipercaya oleh masyarakat Talang Mamak sebagai jalur perdagangan sejak zaman Sriwiijaya. Sayangnya, jalur perdagangan tua ini, sudah tertutup hutan rimba.

Setelah tiga jam menempuh jarak dua belas kilometer dari pinggir jalan lintas Riau-Jambi. Rombongan kami tiba di camp Granit. Camp Granit adalah penginapan di Taman Nasional. Penamaan Granit karena dahulu, tiga kilometer ke arah barat dari camp ada tambang granit. Pada tahun 1995 tambang ini berhenti beroperasi, dengan alasan kondisi granit sebagian besar masih muda. Rombongan kami disambut oleh Andi, staf Taman Nasional Bukit Tiga Puluh. Dua teko teh panas sudah disiapkan sebagai minuman selamat datang.

Saat meluruskan pinggang di gedung serba guna Camp Granit. Andi menjelaskan kenapa jalan yang kami lewati rusak parah. “Kami sedang membangun kawasan pengumpul hewan, empat kilometer dari kawasan camp. Enam hektar lahan sedang kami siapkan sebagai tempat berkumpulnya rusa dan kijang”, ujar Andi. “Di tempat berkumpulnya kijang dan rusa, diharapkan harimau akan datang”, sambungnya.

Dua tahun lagi, Taman Nasional Bukit Tiga Puluh memiliki atraksi yang sangat menarik. Di kawasan pengumpul hewan akan dipasang cctv pada pohon-pohon disekitar kawasan. Tujuannya agar para pengunjung bisa melihat secara langsung harimau sumatera pada video yang terekam CCTV. Di kawasan pengumpul rencananya akan dibangun jembatan gantung yang menghubungkan kanopi-kanopi antar pohon, diantara kanopi yang ada mereka akan membuat rumah-rumah pohon yang berfungsi sebagai tempat beristirahat sembari melihat video cctv. Atas dasar itulah, jalan masuk menuju taman nasional tidak diperbaiki. Nantinya, wisatawan akan dibawa dengan mengunakan kendaraan 4 wd (wheel drive). Bukit Tiga Puluh membranding diri sebagai tempat melihat harimau Sumatera secara langsung.

Kabut pagi terlihat dari sela sela kanopi pohon di sekitar Camp Granit. Andi, mengajak rombongan kami menelusuri hutan hujan tropis yang berada di belakang camp. “ Satu jam saja, kita berjalan kaki menelusuri hutan ” ujar Andi. Pada tahun 1995, di hutan inilah, perusahaan granit mengeksplorasi batu granit. Dapat dibayangkan jika penambangan ini terjadi, Riau akan kehilangan kawasan resapan air. Di hutan ini, saya masih bisa melihat pohon-pohon berdiameter lebih dari satu meter. Kayu Ulin/kulim dan meranti adalah beberapa kayu yang bisa dilihat di sini.

Menurut Andi, tutupan hutan di kawasan Taman Nasional Bukit Tiga Puluh masih terjaga. Sayangnya, di kawasan penyangga hutan, ancaman perambahan hutan untuk kebun sawit butuh perjuangan yang lebih keras mencegahnya. Ada beberapa oknum tokoh masyarakat yang menjual kawasan hutan kepada para pendatang. Karena kawasan penyangga hutan termasuk daerah jelajah harimau. Keberadaan 44 harimau Sumatera yang sudah terdata di kawasan Taman Nasional dan keberadaan keanekaragaman hayati Taman Nasional semakin terancam.

Pada hutan ini. Saya juga melihat burung Rangkong, burung yang di percaya sebagai dewa oleh masyarakat adat Dayak terlihat terbang dari kanopi pohon. Dua kilometer kearah barat hutan terdapat air terjun. Air terjun bernama air terjun granit. Air terjun granit berada di lembah dengan rumput hijau.

Dahulu, lembah ini tempat kijang dan rusa makan. “ Daerah ini termasuk jelajah harimau” ujar Andi. Karena banyak pengunjung datang ke air terjun, harimau jarang terlihat di sekitar kawasan air terjun. Dengan begitu banyaknya potensi wisata yang ada, keberadaan Taman Nasional Bukit Tiga Puluh perlu dijaga, jangan sampai keberadaan harimau Sumatera menjadi dongeng pengantar tidur.  (BAW)

Check Also

Pulau Pamutusan

Eksotisnya Pulau Pamutusan

Lensawisata.com, Dari pulau Pagang, Pesisir Selatan, Sumatera Barat. Kapal yang saya tumpangi bergerak menuju sebuah ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *