Friday , September 22 2017
Breaking News
Home / RUANG NUSANTARA / Sigofi Ngolo, Bersih Laut di Teluk Jailolo
kapal kapal yang mengikuti sigofi ngolo, kapal ini akan berlayar mengelilingi pulau babua_lensawisata.com

Sigofi Ngolo, Bersih Laut di Teluk Jailolo

Lensawisata.com, Hujan sejak subuh yang mengguyur Jailolo tidak menyurutkan semangat masyarakat. Di bawah guyuran hujan deras, pelabuhan mulai ramai diisi oleh kora kora yang sudah di hias. Kora-kora ini di hias dengan janur kuning dan bendera-bendara yang berwarna warni. Ada juga kora-kora yang sudah di hias dengan kain kelambu putih bermotifkan burung dan bendera kesultanan. Kata masyarakat yang berteduh bersama saya. Kora-kora ini khusus untuk Sultan.

kapal kapal yang mengikuti sigofi ngolo, kapal ini akan berlayar mengelilingi pulau babua_lensawisata.com
kapal kapal yang mengikuti sigofi ngolo, kapal ini akan berlayar mengelilingi pulau babua_lensawisata.com

Kurang lebih 30 menit menunggu, hujan mulai reda. Lima belas menit kemudian, Sultan yang di tunggu pun datang. Bersama kapitan-kapitannya beliau menaiki kora-kora yang sudah di siapkan. Masyarakat yang tadi nya berada di pinggir pelabuhan langsung bergerak ke arah kora-kora Kami mengikuti rombongan Sultan menuju sebuah pulau yang berada di tengah teluk Jailolo. Pulau ini bernama Babua, Untuk menjalankan ritual yang bernama Sigofi Ngolo.

kapal Sultan jailolo saat akan memberikan sesaji ke laut_lensawisata.com
kapal Sultan jailolo saat akan memberikan sesaji ke laut_lensawisata.com

Sigofi Ngolo merupakan ritual bersih laut yang di adakan di Teluk Jailolo. Tujuan ritual untuk meminta izin alam agar festival Teluk Jailolo berlangsung dengan lancar. Masyarakat Teluk Jailolo mempercayai bahwa raja mereka masih bersemayam di pulau Babua,sehingga mereka meminta izin terlebih dahulu ke pulau.

Kapal peserta sigofi ngolo dengan latar belakang gunung Tidore dan Gamalama_lensawisata.com
Kapal peserta sigofi ngolo dengan latar belakang gunung Tidore dan Gamalama_lensawisata.com

Ada empat belas kora-kora yang terlibat di dalam upacara Sigofi Ngolo, mereka berasal dari daerah-daerah yang mengakui kedaulatan Kesultanan Jailolo. Pada zaman dahulu saat raja Jailolo di bunuh di Pulau Babua oleh kesultanan Ternate, daerah-daerah yang dahulu nya menjadi kekuasaan Kesultanan Jailolo menjadi pecah. Namun, setelah Sultan Jailolo kembali ke datuannya pada tahun 2003, daerah daerah yang dahulu nya memisah, kembali bergabung secara adat. Saya dapat melihat perwakilan-perwakilan mereka dari kora-kora yang datang saat acara Sigofi Ngolo.

salah seorang peserta si gofi ngolo, Teluk Jailolo_lensawisata.com
salah seorang peserta si gofi ngolo, Teluk Jailolo_lensawisata.com

Setelah Sultan duduk di kursi yang di persiapkan di atas kora-kora, tiga belas kora-kora yang lain mulai melepaskan sauh. Baling-baling mesin kora-kora membelah Teluk Jailolo. Saya berada di kapal terdepan yang menjadi pemimpin dari perjalanan ini. Saya bersama seorang penyelam dari Yogyakarta bernama Esther ikut bergabung dengan kapitan dan masyarakat Teluk Jailolo menuju Pulau Babua. Di antara tiga belas kora-kora yang mengikuti kapal Sultan Jailolo, terdapat sebuah kora-kora yang diisi para pemusik yang berasal Teluk Jailolo, alat musik tifa yang terbuat dari kayu nira dan gong dipukul bertalu talu mengiringi salawat nabi yang di kumandangkan dari kapal Sultan.

Salah seorang kapitan kesultanan Jailolo diatas kapal memberikan sesaji ke laut_lensawisata.com
Salah seorang kapitan kesultanan Jailolo diatas kapal memberikan sesaji ke laut_lensawisata.com

Dua puluh menit berlayar dari pelabuhan Jailolo menuju pulau Babua, Begitu tiba di laut yang berada di depan pulau Babua, kapitan yang berada di kapal Sultan menebarkan sesaji ke laut. Ada perbedaan antara sesaji yang digunakan pada acara ini dengan sesaji yang biasa nya saya lihat. Biasanya, sesaji yang saya lihat adalah nasi kuning, bunga mawar, hasil laut, maupun hasil panen pertanian. Pada Sigofi Ngolo mereka hanya menggunakan sesaji berupa daun pandan.. Setelah sesaji di tebarkan, kora-kora sultan beserta tiga belas kora-kora pengiring mengelilingi pulau sebanyak tiga kali. Tujuan nya adalah untuk menghormati Sultan Jailolo yang dipercaya bersemayam di pulau Babua.

Pulau babua, tempat dimana sigofi ngolo di laksanakan_lensawisata.com
Pulau babua, tempat dimana sigofi ngolo di laksanakan_lensawisata.com

 

kapal-kapal yang mengikuti sigofi ngolo dengan latar belakang dari kiri ke kanan. Gunung Tidore, Gunung Gamalama, dan Gunung Maitara_lensawisata.com
kapal-kapal yang mengikuti sigofi ngolo dengan latar belakang dari kiri ke kanan. Gunung Tidore, Gunung Gamalama, dan Gunung Maitara_lensawisata.com

Penutup dari ritual adalah doa bersama yang di lakukan oleh pemuka agama yang berasal dari Kedatuan Kesultanan Jailolo. Setelah doa, kora kora sultan dan tiga belas pengiring kembali menuju ke pelabuhan. Esther yang dari tadi mengikuti jalan upacara bersama saya sempat menyeletuk “ Tidak rugi saya yang dari jauh ini berkunjung ke Teluk Jailolo, akhirnya saya bisa melihat ritual dari masyarakat ini terhadap laut”. Perkataan Esther saya aminin di dalam hati.

Check Also

Pulau Pamutusan

Eksotisnya Pulau Pamutusan

Lensawisata.com, Dari pulau Pagang, Pesisir Selatan, Sumatera Barat. Kapal yang saya tumpangi bergerak menuju sebuah ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *