Wednesday , October 18 2017
Breaking News
Home / RUANG NUSANTARA / Riau / Sultan Alam Sang Perintis Kota Pekanbaru
sketsa dari kuburan sultan Alam yang dibuat pada tahun 1929.
sketsa dari kuburan sultan Alam yang dibuat pada tahun 1929.

Sultan Alam Sang Perintis Kota Pekanbaru

Lensawisata.com, “Ayo masuk”, pintu pagar besi berwarna hijau dibuka. Tohiran mengajak saya masuk ke kawasan cagar Budaya. Di bagian dalam bangunan,suasana suram langsung menyapa. Tanda-tanda kebocoran yang terlihat di langit-langit bangunan, suasana kusam ini ditambah denganaliran listrik yang sudah tidak mengalir dari Mesjid Raya. Padahal, di dalam bangunan yang berjarak seratus meter dari Pasar Wisata Pasar Bawah terdapat makam pendiri cikal bakal kota Pekanbaru. Beliau merupakan Sultan Siak ke empat yang bergelar Marhum Bukit, Selain beliau, di bagian dalam bangunan, terdapat makam isteri, dan anak beliau yang bergelar Marhum Pekan. Dari tangan merekalah denyut kota Pekanbaru berawal.

pohon keluarga dari sultan sultan Siak yang berada di dalam komplek pekuburan Bukit copy
pohon keluarga dari sultan sultan Siak yang berada di dalam komplek pekuburan Bukit.

Cikal bakal Kota Pekanbaru, didirikan oleh Sultan Siak ke empat yang memiliki nama kecil Sultan Alam. Saat beliau memerintah, pusat pemerintahan kerajaan Siak dipindahkan dari Mempura Besar ke Bukit Senapelan. Saat beliau berada di Senapelan, dia mendapatkan gelar Sultan Alamuddin Riayat Syah (1761-1766) dan karena meninggal/mangkat di Bukit Senapelan, beliau bergelar Marhum Bukit. Saat memerintah di Senapelan, Sultan Alam mendirikan pasar, namun tidak terlalu berkembang. Di zaman anaknya, Sultan Muhammad Ali Abdul Jalil Muazzam Syah, pasar ini berkembang dan memiliki nama Pekanbaharu/Pekanbaru sekarang.

sketsa dari kuburan sultan Alam yang dibuat pada tahun 1929.
sketsa dari kuburan sultan Alam yang dibuat pada tahun 1929.

Raja Alam atau Sultan Abdul Jalil Alamuddin Syah, atau Sultan Alamuddin Riayat Syah adalah anak dari Raja Kecik/ Sultan Abdul Jalil Rahmat Syah pendiri kerajaan Siak. Didalam akhir masa pemerintahan raja Kecik, Sultan Alam dan adiknya yang bernama Sultan Buwang Asmara/Sultan Mahmud bertikai dalam merebutkan tampuk kepemimpinan kerajaan Siak. Berdasarkan aturan kerajaan, seharusnya Sultan Alam yang menjadi raja kerajaan Siak, namun, karena siasat dari beberapa penasihat kerajaan, Sultan Mahmud yang menjadi raja kerajaan Siak. Perang saudara kakak beradik ini tidak bisa dihindari. Kabar perselisihan ini terdengar hingga ketelinga Raja Kecik. Beliau memanggil kedua anaknya dan meminta mereka berdamai. Namun, kedua anak muda ini tidak ingin mengalah. Dalam syair Perang Siak, yang memilih untuk pergi dari kerajaan adalah Raja Alam, sehingga, yang menjadi raja dari kerajaan Siak adalah Raja Mahmud atau Sultan Mahmud Abdul Jalil Syah.

Sultab Abdul Jalil Alamsyah dan Sultanah Khadijah yang berada di pekuburan bukit.
Sultab Abdul Jalil Alamsyah dan Sultanah Khadijah yang berada di pekuburan bukit.

Raja Alam keluar dari kerajaan Siak dan mengembara hingga Siantan. Siantan adalah sebuah pulau yang berada di Kabupaten Anambas, Provinsi Kepulauan Riau. Pulau ini pada zaman dahulu adalah markas dari para bajak laut serta rumah dari orang Laut. Di pulau ini, raja Alam, menikah dengan Opu Daeng Khatijah/ Hadijah anak dari Opu Daeng Perani. Opu Daeng Perani adalah salah satu dari lima bangsawan Kerajaan Luwu, Bugis, yang membantu kerajaan Riau Lingga menghadapi Raja Kecik saat menyerang kerajaan Johor. Dalam kitab Thuhfat An Nafis karangan Raja Ali Haji di jelaskan “Opu Dahin Parni pun sudah beranak seorang laki-laki, maka diberinya nama Dahing Kambuja. Kemudian beranak pula ia akan seorang anak perempuan bernama Dahing Khatijah. Akhirnya kelak Dahing Kambuja itu menjadi Yang Dipertuan Muda yang Ketiga di dalam Riau, dan Dahing Khatijah itu menjadi isteri Raja Alam, anak Yang Dipertuan Raja Kecik Siak “.

Di Pulau Siantan, Raja Alam membangun kekuatan. Ambisi untuk merebut kerajaan Siak dari tangan Tengku Buang Asmara/Raja Mahmud masih membara. Orang Laut, Bugis, Cina, dan Melayu bergabung dalam pasukan yang dibentuk oleh Raja Alam di Pulau Siantan. Raja Alam memiliki kemampuan dalam bernegosiasi mampu membuat para bajak laut yang dikenal berbahaya di Semenanjung Malaysia bersedia ikut bahu membahu. Dibutuhkan beberapa tahun bagi Raja Alam membangun pasukan di pulau Siantan. Di dalam buku “Piracy and surreptitious activities in the Malay Archipelago” di jelaskan bahwa pada tahun 1730 armada dari Raja Alam merompak kapal dagang dari Inggris yang bernama Nancy, kapal dagang ini membawa timah yang saat itu merupakan komoditas perdagangan utama di Semenanjung Malaka. Penyerbuan kapal dagang Inggris ini dianggap penting, karena dengan penyerbuan ini Raja Alam diperhitungkan oleh para pengikutnya.

makam dari Sultan Jalil yang berada di komplek Pekuburan Bukit, Pekanbaru.
makam dari Sultan Jalil yang berada di komplek Pekuburan Bukit, Pekanbaru.

Pada bulan Mei 1753, Raja Alam dengan membawa pasukannya dari Pulau Siantan berhasil menduduki kerajaan Siak. Namun, berkat bantuan armada VOC di Melaka dan juga bangsawan bangsawan dari Semenanjung Malaysia yang tidak senang dengan perbuatan Raja Alam merampok kapal kapal dagang mereka. Pada awal tahun 1754, Raja Mahmud mendapatkan kembali tahtanya. Raja Alam yang kalah, kembali ke Siantan membawa armada perang yang lebih banyak, kembali ke Siak. Dia kembali merebut tahtanya dari Raja Mahmud. Namun, beberapa bulan kemudian. Pada awal tahun 1755, dengan bala bantuan VOC dan bangsawan Johor. Raja Mahmud kembali mendapatkan tahtanya. Dalam waktu dua tahun, terjadi pergantian raja di Siak sebanyak dua kali antara Raja Alam dan Raja Mahmud.

 

Pada bulan April 1756. Sebagai imblan bantuan dari pihak VOC, raja Mahmud menyerahkan Pulau Gontong yang sekarang disebut dengan Sabak Auh kepada VOC. Tujuan VOC menempatkan pos di Pulau Gontong untuk mengawasi peredaran candu, timah, damar, dan kayu saat itu. Pada tahun 1759, raja Mahmud menyerang Pulau Gontong, serangan ini menyebabkan kerugian besar dari pihak Belanda. Kerjasama antara VOC dan Raja Mahmud berakhir.

 

Melihat kerugian yang besar saat penyerangan di Pulau Gontong, VOC mengajak Raja Alam untuk bekerjasama. Didorong oleh rasa dendam terhadap adiknya, Raja Alam menyetujui ajakan kerja sama dengan pihak VOC ini. Pada bulan Juni 1760, Raja Alam tiba di Malaka dan pada bulan Spetember 1760 Raja Alam memberangkatkan sepuluh armada kapal perangnya menuju Siak. Peperangan ini berlangsung hingga Raja Alam mendapatkan kabar bahwa Raja Mahmud sudah meninggal dunia, dan Siak dibawah perintah Raja Ismail, anak dari Raja Mahmud.

 

Pada tahun 1761, Raja Alam kembali Siak untuk mendapatkan kembali tahta kerajaan. Raja Ismail secara sukarela menyerahkan tahtanya kepada Raja Alam, pamannya. Raja Ismail mengembara di Selat Malaka, dan menjadi raja di laut. Dimasa pemerintahan Raja Alam, pusat pemerintahan Siak yang tadinya di Mempura, dipindahkan ke Bukit Senapelan, alasan pemindahan ibukota kerajaan Siak dari Mempura ke Senapelan karena beberapa alasan , diantaranya agar lebih jauh dari loji Belanda di Pulau Gontong, sehingga jika VOC berniat hendak menyerang Siak, akan memakan waktu lama untuk menuju hulu. Selain itu untuk membuka jalur dagang baru di bagian hulu Siak yang juga berdekatan dengan hulu Kampar dan hulu Rokan sehingga menghidupkan jalur perniagaan baru setelah Kuala Siak diblokade VOC.

 

Saat pindah di Senapelan ini, kehidupan ekonomi kerajaan Siak pelan pelan membaik setelah perang saudara yang berkepanjangan antara Raja Mahmud dan Raja Alam. Pada tahun 1780, Raja Siak meninggal dunia. Senapelan yang tadinya hanyalah sebuah pasar, pada zaman anaknya yang bernama Sultan Muhammad Ali Abdul Jalil Muazzam Shah (1780-1782), berubah nama menjadi Pekanbaharu, atau Pekanbaru sekarang.

Komplek pekuburan bukit, yang berada di halaman samping mesjid raya Pekanbaru.
Komplek pekuburan bukit, yang berada di halaman samping mesjid raya Pekanbaru.

Gerimis yang turun di kawasan pekuburan, mengiringi perjalanan saya meninggalkan komplek pekuburan. Nisan nisan tua yang berada di dalam komplek yang seolah olah menitipkan salam kepada saya. “ Jangan lupakan kami”. BAW

Check Also

Pulau Pamutusan

Eksotisnya Pulau Pamutusan

Lensawisata.com, Dari pulau Pagang, Pesisir Selatan, Sumatera Barat. Kapal yang saya tumpangi bergerak menuju sebuah ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *