Wednesday , September 20 2017
Breaking News
Home / RUANG NUSANTARA / Surga Burung Riau, Wisata Yang Terabaikan
burung migran lensawisata.com

Surga Burung Riau, Wisata Yang Terabaikan

Lensawisata.com, Speed boat 15pk yang saya tumpangi tersangkut setelah lima belas menit meninggalkan desa Teluk Meranti, “ Kalo surut, memang sulit untuk mencari alur speed boat” ujar Mas Jono, Lelaki berdarah Jawa yang tinggal di Teluk Meranti ini sudah hapal di luar kepala berbagai macam alur sungai yang ada. Walaupun begitu, karena kondisi permukaan sungai di Teluk Meranti yang unik, pada saat surut alur ini akan berubah dengan cepat.

pecuk ular terbang dari kanopi hutan di SM Kerumutan lensawisata.com

Suasana di tepi sungai Kampar didominasi oleh hutan-hutan yang sudah dibuka menjadi kebun-kebun masyarakat. Sudah tidak ada lagi tegakan kayu alam berukuran besar yang dahulu menjadi cerita pada saat menyusuri sungai Kampar. Setelah menyusuri alur air yang sempit di bawah jembatan jalan lintas Bono. Lanskap yang tadi nya membosankan menjadi menarik. Saya melihat kayu-kayu berukuran besar di kiri kanan sungai. Pohon pohon besar ini seolah olah disusun secara teratur dan menciptakan pantulan yang indah di sungai Kelantan. Anak sungai Kampar penghubung antara tempat yang akan saya kunjungi dengan desa Teluk Meranti. Sungai yang berwarna coklat kehitaman ini menjadi cermin alam. Saat berada di Sungai Kelantan, saya sudah masuk di suaka margasatwa yang dikenal dengan nama Suaka Margasatwa Kerumutan.

Di zona inti kawasan SM Kerumutan, kita juga bisa melihat burung elang

Kawasan inti (SM. Kerumutan) ditetapkan sebagai kawasan lindung berdasarkan SK Menteri Pertanian No. 350/Kpts/II/6/1979. Saat ditunjuk, luasnya sekitar 120.000 ha. Setelah ditata batas menjadi 92.000 ha dengan tambahan lahan pengganti sehingg luasan suaka marga satwa menjadi 93.222 ha. Ekosistem SM. Kerumutan merupakan hutan hujan dataran rendah dan hutan rawa dengan topografi datar. Secara administrasi kawasan ini berada di Kabupaten Pelalawan, Indragiri Hulu, dan Indragiri Hilir. Di bawah pengelolaan wilayah kerja seksi konservasi wilayah I BKSDA Riau. Kawasan suaka marga satwa Kerumutan merupakan tempat singgah dari burung-burung imigran yang berasal dari Asia Selatan untuk berkembang biak. Sehingga kawasan ini di kenal dengan kawasan Important Bird Area/ IBA dan Endangered Bird Area/ EBA.

matahari terbenam dilihat dari pintu masuk SM Kerumutan

Pintu masuk kawasan ini dari desa Teluk Meranti berupa sungai. Burung pecuk ular Asia/ Anhinga melanogaster terbang dari hutan di sebelah kiri menuju hutan sebelah kanan, menurut Mas Jono musim bertelur dari burung ini sudah lewat sehingga tidak terlalu banyak terlihat. Biasa nya, kiri dan kanan sungai Kelantan akan terlihat ramai oleh burung burung yang beterbangan. Alur sungai yang tadi nya lebar menjadi sempit, bakung air menutupi alur sungai sehingga kami harus menyusuri jalur kecil yang berada hampir di pinggir sungai.  Perjalanan ini berubah dari perjalanan menggunakan mesin menjadi menggunakan otot, speed boat yang saya tumpangi ditarik dengan ikut serta menarik bakung yang menutupi sungai. Seekor burung elang terlihat menonton perjuangan menembus bakung dari pohon yang terletak di kanan sungai.

Nelayan di dalam kawasan SM Kerumutan

Satu jam menyusuri sungai Kelantan, saya singgah sebentar di bagan apung yang berada di kiri kanan sungai. Bagan apung ini merupakan tempat menginap dari masyarakat Teluk Meranti yang mencari ikan, kegiatan menginap ini mereka sebut dengan mandah. Selain memiliki kekayaan berupa kayu alam dan fauna yang menarik, Kerumutan juga memiliki potensi di sungai yang membelah suaka marga satwa ini. Terdapat pasokan ikan air tawar yang melimpah disini. Ikan-ikan seperti toman, baung dan lais yang menghuni sungai di cagar alam ini di pancing oleh masyarakat Teluk Meranti yang mandah, nanti nya ikan-ikan ini akan diolah menjadi salai. Rata rata masyarakat Teluk Meranti menghabiskan waktu sekitar satu sampai dua minggu di Kerumutan kemudian mereka akan menjual ikan pada saat hari pasar di Teluk Meranti.

kayu-kayu alam yang berada di kiri kanan sungai Kelantan,pintu masuk SM Kerumutan

Semakin ke dalam suaka marga satwa bukan pemandangan indah yang saya lihat. Tetapi perubahan lanskap hutan yang dengan jelas terlihat. Hutan hutan dari zona inti cagar alam sudah berubah. Bekas pembakaran hutan dan juga jalan papan dari kegiatan illegal logging terlihat di kiri kanan sungai. Jika terus menyusuri sungai yang membelah Kerumutan, kita akan bertemu dengan sungai Indragiri. Ujung dari perjalanan kali ini adalah Tasik Petoluan, menurut masyarakat Teluk Meranti. Tasik atau danau ini adalah tempat dari burung imigran bertelur dan menetas. Sesuai dengan bahasa lokal dari tasik ini, petoluan yang arti nya tempat bertelur. Menurut Yusuf, salah seorang sesepuh Kampung Teluk Meranti, pada saat musim bertelur, burung-burung banyak yang singgah di Tasik. Dan menurut beliau, bahkan jika burung-burung yang ada di Tasik Petoluan ini terbang. Langit di sekitar Tasik akan menjadi gelap tertutupi tubuh mereka.

kayu kayu alam yang berada di tepi sungai Kelantan

Sayangnya, pada saat kedatangan saya ke tasik, kondisi jalan di sekitar tasik menjadi sulit untuk dilewati. Dibutuhkan waktu lebih dari satu jam, dari tepi sungai Indragiri menuju kebagian dalam tasik. Kemarau yang berlangsung hampir satu bulan, menyebabkan air yang berada di dalam kanal menuju tasik, menyusut. Dengan alasan logistik yang kami bawa tidak cukup. Tasik Petoluan masih menjadi cerita. SM Kerumutan, surga tersembunyi di Riau yang semakin terancam. BAW

Check Also

Pulau Pamutusan

Eksotisnya Pulau Pamutusan

Lensawisata.com, Dari pulau Pagang, Pesisir Selatan, Sumatera Barat. Kapal yang saya tumpangi bergerak menuju sebuah ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *