Wednesday , October 18 2017
Breaking News
Home / RUANG NUSANTARA / Kain Tenun Pandai Sikek Sumatera Barat
tenun pandai sikek
Kain tenun pandai sikek Sumatera Barat

Kain Tenun Pandai Sikek Sumatera Barat

Museum Tenun Pandai Sikek
Museum Tenun Pandai Sikek

Sumatra Barat – Lensa Wisata, “Sakit macet nya”, itu yang ada di pikiran saya saat melihat antrian kendaraan di Jalan Lintas Bukit Tinggi – Padang Panjang. Kata para pemuda yang berada di sisi kanan jalan, antrian kurang lebih sekitar 4 km. “ Sial”, hanya itu yang ada di kepala saya. Iseng-iseng saya turun dan kembali bertanya ke mereka. Ternyata, jika hari Senin merupakan hari pasar di kawasan ini. Maka perjalanan berubah dari perjalanan santai menjadi perjalanan panjang. Saya hendak berkunjung ke daerah yang terkenal akan tenun nya, Daerah ini di kenal dengan nama Pandai Sikek. Pandai Sikek adalah salah satu sentra tenun di Sumatera Barat.

Pandai sikek terkenal akan tenunan nya. Menurut sejarah nya, Beberapa ratus tahun yang lalu, di hulu sungai Batanghari, yang disebut Sungai Dareh berkembang suatu pemukiman dan pusat perdagangan yang makmur. Penduduk dari daerah yang sekarang disebut Alam Surambi Sungai Pagu, dan dari daerah-daerah yang lebih ke utara lagi, datang ke tempat ini untuk menjual hasil-hasil alam berupa rempah-rempah dan emas. Daerah ini dikunjungi pula oleh pedagang-pedagang yang datang dari seberang laut, dari India dan Cina.

Daerah ini kemudian terkenal dengan nama kerajaan Darmasyraya. Inilah cikal bakal kebudayaan Melayu. Bertahun-tahun daerah ini menjadi titik pertemuan ekonomi dan budaya antara kebudayaan-kebudayan yang sudah lebih kaya dan maju di utara, Cina, Mongol dan India, dengan budaya lokal. penduduknya menyerap ilmu dan teknologi dari bangsa asing,. Diantara kemajuan yang dialami adalah dalam bidang pakaian dan teknik bertenun, beserta corak motif dan bahan-bahan yang dapat dipergunakan.

Sebelum nya, sesuai dengan perkembangan masyarakat. Mereka membuat pakaian dari benang yang dibuat dari bahan-bahan yang tersedia di tempat pemukiman, seperti serat kulit pohon. Masuk nya para pedagang dari Cina dan India,menambah keberagaman dalam hal pembuatan pakaian, mereka mengenalkan beberapa ide yang kepada masyarakat lokal. Pedagang India memperkenalkan bahan dari serat kapas dan linen, juga benang yang disalut dengan lempengan emas tipis. Pedagang Cina membawa benang sutra yang berasal dari kepompong ulat sutra, juga benang yang dibungkus dengan emas.

Pada tahun 1347 Adityawarman memindahkan pusat kerajaan dan kebudayaan Melayu dari Darmasyraya ke Pagaruruyung, dan kawasan di sekitar gunung Merapi dan Gunung Singgalang yang pada waktu itu terdiri dari Luhak nan Tigo dan Rantaunya yang Tujuh Jurai, menjadi terkenal sebagai Alam Minangkabau, dengan beberapa pusat pemerintahan yang tersebar di Pariangan, Sungai Tarok, Limo Kaum, Pagaruryung, Batipuh, Sumanik, Saruaso, Buo, Biaro, Payakumbuh, dan lain-lain.

tenun pandai sikek - sumatera barat (1)
Warna-warni tenun pandai sikek

Daerah Batipuh, sebagai salah satu pusat pemerintahan di pimpin oleh Tuan Gadang Batipuh sebagai Harimau Campo Koto Piliang, diduga menjadi salah satu daerah yang amat penting pada masa kejayaan Minangkabau dahulu, bersama daerah-daerah lain yang tersebut diatas. Sejalan dengan hal itu, masyarakatnya tentu mendapat kesempatan yang lebih banyak pula untuk melakukan kegiatan ekonomi dan budaya termasuk keterampilan tenun sehingga mutu dan corak kain tenun semakin tinggi dan halus. Gadis-gadis menenun kain sarung dan tingkuluk dengan benang emas untuk dipakai ketika mereka menikah, dan perempuan lainnya menenun kain untuk dijual.
Hampir semua pelosok Minangkabau, dari Luhak sampai ke rantau, mempunyai pusat-pusat kerajinan tenun, suji dan sulaman. Masing masing daerah memiliki ragam corak dan ciri-cirinya sendiri,. Beberapa derah yang terkenal dengan kain tenun serta sangat produktif pada masa itu adalah Koto Gadang, Sungayang, dan Pitalah di Batipuh. Daerah yang masih melanjutkan tradisi warisan menenun hari ini adalah daerah yang termasuk Batipuh Sapuluh Koto yaitu Pandai Sikek.

Jam di tangan saya terus bergerak, namun antrian kendaraan di depan saya sama sekali belum bergerak. Saya memutuskan untuk bertanya dengan pemuda setempat mengenai jalan alternatif menuju sentra tenun Pandai Sikek, Dengan petunjuk yang mereka berikan maka saya belok kanan, keluar dari kemacetan menggunakan jalan alternatif menuju sentra tenun tersebut. Saya masuk ke jalan perkampungan dengan kontur naik turun namun memiliki pemandangan yang indah.

Setelah kurang lebih 1 jam perjalanan, maka tiba lah saya di Galeri Tenun Pusako Pandai Sikek. Galeri ini, merupakan rumah pribadi dari penenun Pandai Sikek yang bernama Ibu Hj Sanuar dan berupa rumah adat Minangkabau yang dikenal dengan nama Rumah Gadang.Di galeri ini, terdapat kain-kain yang sudah berumur ratusan tahun, bahkan terdapat kain yang berumur kurang lebih 200 tahun. Kain-kain ini merupakan koleksi pribadi dari ibu Hj Yanuar. Selain sebagai galeri, rumah tenun pusako ini dapat dikatakan sebagai museum. Di sini, kain-kain yang berumur ratusan tahun tersebut di buat replika nya, pembuatan replika ini bertujuan agar kain tenun yang sudah berumur tersebut dapat di nikmati. Selain galeri, dan museum. Rumah tenun pusako ini juga menjual tenun Pandai Sikek, menurut bu Rosida Anwar, yang merupakan anak dari Bu Hj Sanuar. Bu Hj Sanuar memiliki banyak “anak “ asuh. Mereka sampai sekarang masih aktif menenun berdasarkan pesanan yang di berikan oleh Bu Hj Sanuar.

Kualitas hasil tenun di Rumah Tenun Pusako ini tidak usah di ragukan lagi. Kualitas kontrol yang di lakukan oleh keluarga Bu Hj Sanuar yang tinggi sehingga menghasilkan kain tenun yang berkualitas. Beberapa sosialita di Jakarta menggunakan kain tenun yang di hasilkan oleh rumah tenun Pusako ini, Miranda Gultom, Meutia Hatta adalah beberapa kolektor kain dari sini.

Setelah 1 jam di rumah Tenun Pusako ini, saya menuju rumah Bu One, beliau merupakan “ Anak sulung” dari Bu Hj Sanuar. Pengertian anak sulung adalah. Beliau merupakan “Anak angkat” pertama dari Bu Sanuar. Beliau mulai menenun dari tahun 1970 an. Sudah banyak kain yang di hasilkan dari tangan beliau. Menurut beliau, proses pembuatan kain tenun ini bisa berlangsung lama. Per hari, 5 cm benang bisa dirubah menjadi kain. Sehingga untuk merubah gulungan benang menjadi satu lembar kain membutuhkan waktu dua bulan pengerjaan. Dan juga di karenakan benang yang di gunakan sebagian besar impor. Seperti benang emas, yang di gunakan untuk motif dari kain yang di impor dari India. Sehingga harga kain tenun ini menjadi mahal.

tenun pandai sikek
Kain tenun pandai sikek Sumatera Barat

Ibu One juga menjelaskan kepada saya, alat-alat tenun yang di gunakan oleh para penenun di sini adalah Alat Tenun Bukan Mesin ( ATBM ). Dan, sebagian besar penenun di sini adalah perempuan. Sehingga tradisi dari zaman dahulu masih terjaga hingga sekarang. Saat saya di sana, Bu One sedang mengerjakan pesanan dari Bu Hj Sanuar. kain sepanjang 1,8 meter sedang di persiapkan oleh beliau. Jika ingin melihat kain ini menjadi kain Tenun Pandai Sikek. Saya di sarankan datang oleh beliau kembali ke Pandai Sikek ini sekitar 2 bulan ke depan.

Mengunjungi Pandai Sikek ini, menambah ilmu bagi saya. Kekayaan budaya bangsa ini sangat besar. Namun, sayang di sia siakan oleh bangsa kita sendiri. Kain tenun yang dulu nya melambangkan identitas kita di mata masyarakat terutama jika kita seorang bangsawan apa bukan. Sekarang berubah status nya hanya sebagai kain semata. Sudah saat nya kita memperhatikan kekayaan warisan para pendahulu kita berupa keberagaman corak dan motif pada kain kita.

Notes :
1. Kita bisa membeli kain tenun di rumah Pusako ini. Selain menjual. Rumah ini merupakan bagian dari museum kain tenun pandai sikek. Kita bisa melihat kain kain tenun yang sudah berumur tua
2. Menuju ke rumah tenun ini memberikan perjuangan tersendiri. Dengan kondisi jalan yang naik turun dan sempit, di butuhkan ke ahlian mengemudi yang handal. Namun perjalanan ini di bayar dengan pemandangan di kiri kanan kita. Sawah, rumah rumah tua, menemani kita sepanjang perjalanan ini
3. Untuk ke rumah tenun ini, kita bisa menghubungi ibu Rozamon Anwar. Di 08161333405 atau ke Rumah Tenun Pusako di +62752498193
4. Kita bisa ke rumah masyarakat sekitar yang akan dengan senang hati menunjukkan kepada kita kain kain tenun yang sedang mereka buat
5. Dari Bukit Tinggi untuk menuju ke Pandai Sikek ini, membutuhkan waktu sekitar 1,5 jam. Namun, hindari berkunjung di Hari Senin, Karena di hari senin terdapat hari Pasar di dekat kawasan masuk ini, kita akan berhadapan dengan macet nya kawasan ini. Namun, untuk hari hari di lain Senin, kita bisa menuju kawasan ini. (BAW)

 

Check Also

Pulau Pamutusan

Eksotisnya Pulau Pamutusan

Lensawisata.com, Dari pulau Pagang, Pesisir Selatan, Sumatera Barat. Kapal yang saya tumpangi bergerak menuju sebuah ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *