Thursday , November 23 2017
Breaking News
Home / RUANG NUSANTARA / Warna Warni Tenun Rende
tenun rende
Rambu Intan, menjelaskan berbagai macam motif tenun Rende, diantara nya adalah motif kucing. (BAW, Lensa Wisata)

Warna Warni Tenun Rende

Lensawisata.com, Warna Warni Tenun Rende, – Sudah satu jam menaiki motor, savana dan bukit kering masih menjadi pemandangan yang dominan,  hanya beberapa rumah yang terlihat di tepi jalan serta rombongan sapi, kuda dan domba yang merumput dengan nyaman. Mereka melirik dengan tatapan penasaran. Di sebelah, selatan awan hitam, mulai bergerak kearah perbukitan. Kecepatan motor ditambah.

Perjalanan ini berhenti sebentar di sebuah rumah di tepi  jalan. Hujan turun tepat saat motor yang saya naiki berusaha melewati tanjakan. Pemilik rumah dengan ramah membukakan pintu kiosnya agar saya bisa berteduh. Dari pemilik rumah, saya mendapatkan informasi bahwa tujuan saya berjarak tiga puluh menit lagi. “ Dorang jalan terus, sampai Melolo, dari Melolo sudah dekat” ujar si bapak sembari mengelus kepala anjingnya yang  sibuk mengendus endus saya.

Dorang datang saat musim hujan di sini, coba saat musim kering“ sambungnya. Tiga puluh menit dari tempat saya berteduh, plang nama Kecamatan Melolo sudah terlihat, namun, tujuan saya masih berjarak sepuluh menit berkendara dari kecamatan Melolo. Tempat yang saya tuju bernama Rende.

Rende merupakan salah satu desa adat yang berada di Sumba Timur, desa ini berjarak satu jam setengah dari kota Wangaipu, ibukota Kabupaten Sumba Timur.  Rende merupakan desa yang masih memeluk agama leluhuryang disebut Marapu. Di Rende saya bisa melihat rumah rumah adat dari masyarakat Sumba, selain itu, saya juga bisa melihat tenun Sumba Timur yang sudah terkenal diluar negeri.

Setelah mengisi buku tamu, saya dipersilahkan melihat rumah rumah tua yang sudah berumur mendekati 200 tahun dan kubur batu dari bangsawan Rende. saya melihat kubur batu yang berukuran sangat besar. Batu batu penyusun kuburan ini berasal dari bukit disekitar Rende dengan berat kurang lebih satu ton, ada detail yang menarik dari kubur batu ini. Di bagian atas kubur batu, terdapat penji atau menara terbuat dari batu yang dipahat berbentuk simbol simbol dari bangsawan Rende. Simbol seperti kura kura, burung kakak tua, buaya, dan kuda pacu bisa dilihat pada bagian atas kuburan yang berbentuk seperti rumah dengan empat pilar. Simbol simbol ini memiliki arti, seperti burung kakak tua yang menggambarkan kerukunan. Kubur batu raja pertama dari Rende menggunakan simbol kerbau pada bagian atas kuburnya. Kuburan ini terdiri dari kuburan bangsawan dan para pendampingnya.

Di sebelah kiri dari kubur batu, terdapat rumah dua lantai dengan kondisi yang sudah rapuh. Rumah ini adalah rumah raja terakhir kerajaan Rende. Rumah ini berdinding kulit kerbau. Melihat kondisi rumah yang sudah rapuh, rasanya sungkan untuk meminta masuk melihat kondisi dalam rumah.

Bagian kanan dari kubur batu, terdapat rumah adat sumba yang beratapkan alang alang. Seorang wanita berumur kurang lebih 60 tahun menyapa saya.  “Naiklah”, ujarnya. Saya disambut oleh seorang penenun yang juga merupakan keturunan Kerajaan Rende. Dia bernama Rambu Intan. Dari beliau, saya mendapatkan penjelasan pewarnaan dari kain tenun Sumba Timur. Warna dari kain tenun sumba ditentukan oleh musim, kemarau atau hujan. Jika masuk musim hujan, maka warna biru menjadi lebih pekat. Karena tanaman Indigo yang menjadi dasar warna biru ini tumbuh subur pada musim hujan, dan jika kain dibuat pada musim kemarau, maka warna yang menjadi pekat adalah warna merah, warna merah ini berasal dari akar mengkudu.  Rambu Intan menjelaskan kepada saya, warna warna dari kain tenun sumba yaitu merah, biru, dan kuning sudah memiliki pelanggan tersendiri. Sebagai contoh, warna biru adalah kesenangan dari tamu tamu yang berasal dari Jepang.

Selain itu, Rambu Intan juga menjelaskan kepada saya, bahwa motif dari masing masing kampung yang bertenun beda, bahkan motif antar rumah yang tinggal berdekatan saja berbeda. “ Motif tenun Rende, biasanya kura kura, monyet, dan buaya” ujar perempuan yang sudah berpameran hingga ke Jepang dan Amerika ini.  Proses pembuatan tenun yang lama, motif yang rumit, dan masih menggunakan pewarnaan alami adalah beberapa alasan kenapa kain tenun Sumba memiliki harga yang mahal.

Desa Rende, sebuah desa adat di Sumba Timur, tempat yang menarik untuk mempelajari tenun Sumba Timur. (BAW)

 

Check Also

Pulau Pamutusan

Eksotisnya Pulau Pamutusan

Lensawisata.com, Dari pulau Pagang, Pesisir Selatan, Sumatera Barat. Kapal yang saya tumpangi bergerak menuju sebuah ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *