Thursday , November 23 2017
Breaking News
Home / RUANG NUSANTARA / Riau / Tradisi Bakar Tongkang Bagan Siapiapi
Tongkang, dibakar. Ini merupakan akhir dari ritual bakar tongkang.
Tongkang, dibakar. Ini merupakan akhir dari ritual bakar tongkang.

Tradisi Bakar Tongkang Bagan Siapiapi

Lensawisata.com, Tambur dan simbal di pukul bertalu talu, seorang pemuda dengan penutup badan berwarna kuning bermotifkan naga berlari ke arah meja altar. Di depan meja altar, pemuda ini menjura dan memukul mukulkan bola duri ke tubuh nya, kemudian dia memutar bendera kebangsaan berwarna hitam. Pemuda ini terlihat seperti seorang panglima yang melapor kepada seorang raja. Sembari bergumam dengan dialeg hokian, pemuda ini terus berkomunikasi pada sebuah tongkang yang berada di depan meja altar.

Tongkang diarak keluar dari Klteng Ing Hok Kiong dan nantinya akan dibakar pada lapangan yang berjarak satu kilometer dari Klenteng.
Tongkang diarak keluar dari Klteng Ing Hok Kiong dan nantinya akan dibakar pada lapangan yang berjarak satu kilometer dari Klenteng.
Tongkang diarak dan masyarakat Tionghoa Bagan Siapiapi berdoa pada dewa.
Tongkang diarak dan masyarakat Tionghoa Bagan Siapiapi berdoa pada dewa.

Adegan seperti film silat tahun 70-an ini  bagian dari upacara Bakar Tongkang yang dilaksanakan di Bagan Siapiapi, Provinsi Riau. Upacara Bakar Tongkang adalah ritual yang di lakukan setiap tanggal ke enam belas bulan ke lima/ Go Gwee Cap Lak oleh masyarakat Tionghoa yang berada di Bagan Siapiapi. Ritual ini bertujuan untuk mengenang kembali kedatangan leluhur masyarakat Tionghoa yang mendiami kota Bagan Siapiapi dan untuk merayakan ulang tahun dari dewa/khong yang melindungi masyarakat Tionghoa Bagan Siapapi, dewa ini bernama Kie Hu Ong Ya.

Tang ki, manusia yang dimasuki dewa turut hadir dalam ritual bakar tongkang di Bagan Siapiapi.
Tang ki, manusia yang dimasuki dewa turut hadir dalam ritual bakar tongkang di Bagan Siapiapi.

Alkisah pada zaman dahulu, sekelompok orang Tionghoa dari Fujian,China merantau menyeberangi lautan dengan kapal kayu sederhana. Tujuan mereka merantau adalah untuk mengharapkan kualitas hidup yang lebih baik. Di dalam perjalanan di tengah lautan mereka mengalami kebimbangan. Mereka kehilangan arah. Di dalam suasana yang genting, mereka berdoa kepada Dewa Kie Hu Ong Ya yang memang sudah mereka bawa dari awal perjalanan, Mereka meminta petunjuk mengenai di mana kapal akan berlabuh. Di dalam keheningan malam, dewa Kie Hu Ong Ya memberikan petunjuk kepada mereka.

Tongkang diarak menuju tempat pembakaran.
Tongkang diarak menuju tempat pembakaran.
Dewa diarak menuju tempat pembakaran sebelum ritual bakar tongkang dimulai.
Dewa diarak menuju tempat pembakaran sebelum ritual bakar tongkang dimulai.

Para penumpang kapal ini melihat ada cahaya samar-samar, cahaya ini mirip seperti nyala api. Dengan asumsi bahwa di mana ada api di situlah terdapat kehidupan, mereka mengikuti arah datang nya cahaya. Akhir nya mereka tiba di daratan yang berada di tepi selat Malaka. Terdapat 18 orang yang selamat saat mereka mendarat di daratan yang akan menjadi cikal bakal kota Bagan Siapiapi. Ke delapan belas orang ini bermarga Ang, merekalah nanti nya yang akan menjadi leluhur dari Bagan Siapiapi.

Dewa Ki Hu Ong Ya dibersihkan sebelum ritual bakar tongkang dimulai.
Dewa Ki Hu Ong Ya dibersihkan sebelum ritual bakar tongkang dimulai.
Masyarakat Tionghoa Bagan berdoa di klenteng Ing Hok Kiong.
Masyarakat Tionghoa Bagan berdoa di klenteng Ing Hok Kiong.

Matahari bersinar dengan terik nya saat saya berada di Klenteng In Hiok Kong, klenteng yang terletak sejajar dengan pasar induk penuh dengan sesaji. Sesaji-sesaji ini di letakkan pada meja panjang yang berwarna merah. Sesaji yang di letakkan bermacam macam, ada yang berbentuk nenas, ada yang berbentuk kapal, ada berupa ayam, dan ada yang hanya jajanan pasar. Di depan meja panjang, terdapat sebuah tongkang besar yang berwarna putih. Di bagian kiri dan kanan dari tongkang penuh dengan hiasan-hiasan yang menggambarkan dua belas shio manusia. Selain dua belas shio, terdapat replika dari delapan belas leluhur komunitas Tionghoa yang selamat dalam ukuran kecil. Replika ini di letakkan pada bagian depan, tengah dan buritan kapal.

Tongkang disimpan di samping Klenteng Ing Hok Kiong.
Tongkang disimpan di samping Klenteng Ing Hok Kiong.
Sesajei pemberian masyarakat di Klenteng Ing Hok Kiong.
Sesajei pemberian masyarakat di Klenteng Ing Hok Kiong.

Sehari sebelum tongkang di sembahyangkan di samping klenteng, tongkang dipindahkan dari ruko yang berada tepat di sebelah kanan klenteng dengan cara di arak. Tongkang akan mengelilingi jalan klenteng kemudian di letakkan di samping klenteng. Saat malam hari, dilakukan sebuah ritual untuk membuka penutup yang terbuat dari kain berwarna merah pada bagian buritan tongkang.  Saat pengurus klenteng membuka penutup buritan. Maka ritual sembahyang untuk bakar tongkang sudah di mulai.

Ritual sembahyang pagi sebelum bakar tongkang dimulai copy
Ritual sembahyang pagi sebelum bakar tongkang dimulai.
Masyarakat Tionghoa, berdoa pada saat tongkang dibakar.
Masyarakat Tionghoa, berdoa pada saat tongkang dibakar.

Pagi hari di Klenteng In Hiok Kong, Umat Tri Dharma berdatangan silih berganti untuk melakukan sembahyang pagi sebelum ritual bakar tongkang di laksanakan, asap dupa yang memenuhi bagian tengah klenteng membuat mata saya berair saat saya sedang berada sini. Menurut Ah Ping yang merupakan salah satu pengurus klenteng. Masyarakat Tionghoa yang datang pada festival ini sebagian besar adalah Tionghoa Bagan Siapi api yang merantau ke luar. Mereka akan kembali khusus untuk mengikuti bakar tongkang Saya juga sempat bertemu dengan salah seorang perantau yang datang dari jauh untuk menghadiri ritual. Dia bernama Linda, seorang warga  Tionghoa kelahiran Bagan yang sudah lama meninggalkan kota. “ Dari umur 3 tahun saya meninggalkan kota,sekarang saya sudah berumur 40 tahun. Baru kali ini saya datang dan mengikuti ritual ini. “ ujar nya. Masyarakat Tionghoa Bagan Siapiapi percaya bahwa pada saat upacara Bakar Tongkang, dewa Ki Hu Ong Ya akan memberikan berkah yang berlimpah bagi mereka yang mendoakannya.
Selain dewa Ki Hu Ong Ya, pada meja altar terdapat juga replika dari dewa langit yang didudukkan di atas replika kuda. Replika yang berukuran besar ini nanti nya akan ikut di bakar bersamaan dengan tongkang. Tepat pukul dua siang, terjadi keriuhan di halaman depan klenteng. Suara tambur dan perkusi seperti menyelimuti klenteng, Loya/ dewa yang masuk ke dalam tubuh manusia dengan di dampingi dengan umat berjalan menuju tongkang. Loya-loya ini berasal dari klenteng-klenteng yang berada di sekitar kota Bagan. Kedatangan mereka adalah memberikan persembahan kepada tongkang.
Setelah loya- loya selesai memberikan salam kepada tongkang, replika-replika dewa yang di letakkan di atas meja altar pada bagian tengah klenteng di keluarkan. Dengan di lepas nya sebatang kayu yang menjadi kunci dari tongkang, dimulail ritual upacara bakar tongkang. Sekitar 60 pemuda tionghoa membopong dan mengarak tongkang menuju tempat pembakaran. Tempat pembakaran ini terletak di jalan Perniagaan. Berdasarkan keterangan  Ah Ping, tempat pembakaran tongkang adalah tempat dimana dahulu leluhur masyarakat Tionghoa mendarat. Kurang lebih sekitar satu kilometer jarak dari klenteng menuju tempat pembakaran. Jalan Perniagaan yang tadi nya kosong menjadi penuh dengan lautan manusia. Di kiri kanan jalan, masyarakat Tionghoa berbaris menunggu lewatnya tongkang.

Tongkang, dibakar. Ini merupakan akhir dari ritual bakar tongkang.
Tongkang, dibakar. Ini merupakan akhir dari ritual bakar tongkang.

Saat api pelan pelan membakar tongkang, ribuan masyarakat tionghoa berdoa dan menyampaikan harapan mereka. Hal yang paling di tunggu oleh masyakarat adalah pada saat tiang layar utama jatuh. Ada sebuah kepercayaan bagi masyaarakat Tionghoa Bagan Siapiapi, bahwa jika tiang layar utama jatuh ke arah laut maka rezeki tahun ini adalah di laut. Dan jika tiang layar utama jatuh kedarat maka rezeki tahun ini jatuh ke darat. Dengan jatuhnya tiang utama, ribuan masyarakat yang tadi memadati kawasan pembakaran kembali ke rumah masing masing. Laut adalah harapan mereka tahun ini. BAW

Check Also

Pulau Pamutusan

Eksotisnya Pulau Pamutusan

Lensawisata.com, Dari pulau Pagang, Pesisir Selatan, Sumatera Barat. Kapal yang saya tumpangi bergerak menuju sebuah ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *